Pemilu Di Matamu

Pilpres pertama sudah jelas meloloskan dua pasangan capres/cawapres untuk maju ke pilpres putaran kedua. Golput dinilai akan marak di pilpres kedua, seiring dengan tereliminasinya capres tetentu yang dijagokan para pemilih. Lalu seberapa peduli remaja terhadap pemilu?

            Jangan ditanya kenapa jagoannya kalah di pilpres pertama. Sebab, sang capres juga bingung kenapa dirinya kalah bersaing. Padahal sudah menjalin hubungan dekat dengan beberapa kelompok atau partai, atau individu yang siap mengorbankan hartanya untuk mendukung sang capres. Layaknya sebuah ajang kontes jadi bintang instan di televisi macam AFI, KDI, dan Indonesian Idol  yang meloloskan jawaranya lewat dukungan SMS yang dikirim nomor operator sekian, capres juga begitu. Mereka mengandalkan dukungan suara di TPS-TPS yang udah ditetapkan KPU. Tapi ya, ibarat sebuah pertandingan, maka kudu ada yang kalah dong ya.

            Sobat muda, banyak alasan pemilih memberikan hak suaranya kepada sang capres idamannya. Ada yang karena kecantikannya (wah, ini sih pasti milih Bu Mega!), ada juga yang katanya milih capres yang wajahnya ganteng. Ganteng? Kalo gitu, suruh aja Panji Angga Saputra (Jaka Tarub), Temmy Rahadi (Mandala dari Sungai Ular), Fandy (Sareng Pati di sinetron Santet), dan Afdhal (Ken Arok, di sinetron Keris Mpu Gandring) nyalonin diri jadi presiden, pasti banyak pemilihnya. Bukan apa-apa, empat pemuda ganteng yang ditulis tersebut adalah jawara-jawara dalam sinetron laga di layar kaca kita. Coba, udah ganteng, jagoan silat pula.

`           Nah, di pemilu presiden putaran kedua cuma ada dua kontestan yang masih bertahan. Kira-kira remaja pilih siapa ya? Apakah pilihan itu berdasarkan person alias pribadi sang capres, atau karena visi, misi, dan programnya? Atau jangan-jangan malah nggak tahu apa itu pemilu en tentunya nggak peduli dengan pemilu?

            “Peduli. Sebab ini kan negara kita. Palagi kan ntar nyangkut ke anggaran pendidikan. Cuma herannya, persentasenya kenapa selalu tetap. Padahal gak gitu,” ujar Ilma, alumnus SMU 3 Bandung, yang kena todong SobatMuda.

            “Ah, saya sih nggak peduli. Bodo amat,” Sausan cuek. Alumnus sebuah sekolah kejuruan di Bogor ini merasa nggak peduli. Alasannya, menurut Sausan, pemilu sekarang nggak bakal membawa prubahan apa pun bagi kehidupan di negeri ini.

            Senada dengan Sausan, adalah Dia, anak yang pernah malang-melintang di SMU 8 Bandung ini ngasih komentar, “Ngapain mikir pemilu. Orang gak bakal jauh beda kok hasilnya. Kedua calon sama gak benernya”.

            Walah, suara pemilih terbelah juga ya? Wajar ah, kan kemarin juga memang terbelah jadi lima kok. Jadi sah-sah aja tuh. Cuma masalahnya, tiap orang beda-beda memandangnya. Ada yang karena sekadar menggunakan hak memberikan suara aja, ada juga yang memang hidupnya dari situ alias dapet bonus jadi tim pemenangan salah satu capres.

Milih siapa?

            Yup, milih siapa? Hehehe… sebenarnya ini persoalan rahasia kali ye? Tapi emang secara fakta di lapangan bebas aja kamu milih seseorang, termasuk milih capres idaman. Sekarang jamannya reformasi kok. Terus terung en terbuka. Bahkan ada yang bangga menjadi tim sukses capres segala, lihat deh bos-bos partai yang dengan senang hati menyatakan diri untuk berkoalisi dengan partai pendukung capres. Biasalah, bagi-bagi kursi. Apalagi? Tul nggak?

            Ilma, yang pernah sekolah di SMU 3 Bandung mengaku punya capres pilihan, yakni Amien Rais. Kenapa? “Soalnya dia deket banget dengan dunia pendidikan. Orangnya dan omongannya masuk akal. Konsisten terhadap reformasi terus masuk ke semua kalangan. Kalo yang lain mah gak ada yang bisa dipercaya,” jelasnya.

            Kalo jagoannya udah kalah gitu, Ilma bakalan golput dong? “Belum mutusin lebih lanjut. Alasannya karena pilihan saya udah kalah. Trus saya gak percaya ama calon yang lain”
            Seperti kompakan ama Ilma, Didi yang satu almamater ama Ilma buka mulut, “Jagoanku dah kalah. Itu Amien Rais. Soalnya yang lain gak cocok. Dia itu tokoh reformasi. Trus terkenal paling bersih orangnya,” jelas Didi panjang lebar. Dan, karena jagoannya udah kalah, Didi lagi mikir-mikir dulu apakah mau menggunakan hak pilihnya atau nggak pada pilpres kedua, 20 September ini.

            Ngomong-ngomong soal golput alias nggak milih, Dia punya alasan cukup masuk akal, “Dukung golput. Golput itu buat orang-orang yang mikir. Meski kadang ada yang nggak mikir. Saya baca di sebuah majalah, di Amerika Serikat katanya golput tuh yang mayoritas. Di negara maju ajah golput paling banyak. Harusnya di sini juga kalo mau disebut negara maju, ya golput” tandasnya kepada Gilang yang ditugaskan SobatMuda untuk nodongin anak-anak Bandung dengan pertanyaan seputar pemilu presiden.

            Sobat muda, sikap calon pemilih dari dulu emang beragam. Pasti ada pro-kontranya. Maklum lah, tiap orang akan berbicara dan berbuat sesuai pemahamannya. Sama halnya ketika film “Buruan Cium Gue” diputar di bioskop-bioskop Jakarta yang menimbulkan pro-kontra. Ustadz Aa Gym dan Bang Haji Oma Irama protes berat, tapi Masayu Natasia dan Hengky Kurniawan sebagai pemain di film keluaran Multivision Plus ini rada nggak terima dengan kritikan itu. Pendapat penonton juga beragam. Begitulah, “dunia ini adalah panggung sandiwara,” kata Bang Ahmad Albar.

            Kembali soal pilihan capres, ada yang akan memilih, banyak pula yang nggak bakalan milih alias golput. Mereka yang golput pun beragam lho. Ada yang karena jagoannya kalah, bisa jadi karena bingung mau milih siapa, ada juga yang memang udah nggak peduli dan nggak percaya dengan sang capres, bahkan sangat boleh jadi mereka yang golput karena masalah prinsip hidup.

            Oya, orang Islam juga harusnya punya prinsip dong. Yakni memilih orang yang akan menerapkan syariat Islam. Tapi sayang berjuta sayang kalo ngelihat kondisi saat ini. Kenapa? Sampe jerawat tumbuh di lambung dan usus juga nggak bakalan dapetin pemimpin model gitu dalam sistem demokrasi seperti saat ini. Sebab, Dr. Saiful Mujani, Direktur Riset Politik Freedom Institute, menulis pernyataan bahwa, “Keterbatasan demokrasi ini harus disadari oleh kelompok demokrat dan kelompok politik syari’ah yang memperjuangkan aspirasi politiknya di jalur demokrasi. Demokrasi tidak akan mampu mewadahi kekuatan yang akan membunuh demokrasi itu sendiri”. Catet tuh, Bro!

Tapi, apapun alasannya, golput bukan sebuah tindak kriminal kok. Golput adalah bagian dari hak warga negara untuk tidak memilih. Jadi kita juga harus menghargai dong. Bahkan akan sangat serius manakala dua pilihan itu bermasalah semua. Ibarat dua racun ditawarkan kepada kita, apakah akan dipilih salah satu atau tidak memilih keduanya? Orang cerdas dan tahu diri, tentu nggak akan mengorbankan dirinya dengan meminum salah satu racun yang ditawarkan itu. [Solihin. Liputan: Gilang]

—–

BOX:

Anggi, eks SMU 16 Bandung
Peduli gak kamu dengan pemilu presiden?
Biasa ajah. Gak ada yang spesial. Cuma herannya, persentasenya kenapa selalu tetap. Padahal gak gitu.

Presiden pilihan kamu? Alasan?
Gak ada. Karena gak ada yang cocok ajah. So, gak ada alasan saya buat milih mereka.

Pendapat tentang golput?
Gak apa-apa. Bebas-bebas ajah.

Mau golput ga nanti? Alasannya?
Rahasia dong.

Setuju syariat Islam?
Saya kan orang Islam, masa gak setuju. Kan sekarang juga Aceh dah pake syariat Islam. Di beberapa kabupaten juga demikian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s