Satu Pemimpin, Berjuta Harapan

Pemimpin baru bangsa diminta jadi jagoan super; bisa mengatasi semua masalah. bisa nggak sih? Bener nih solusinya cuma kepemimpinan?

 

          Buat Pak Karman, sebut saja begitu namanya, yang setiap hari berdagang di Pasar Bogor, pemilu capres putaran kedua nanti bener-bener jadi harapan. Pada MUDA ia mengutarakan harapannya semoga presiden yang nanti terpilih bisa memperbaiki kehidupan bangsa. Terutama, katanya, ekonomi. Biar gampang nyari duit dan anak bisa sekolah.

          Pak Karman nggak sendirian. Ada jutaan orang di tanah air ini yang juga berharap begitu. Mereka berharap kalau kehidupan bangsa semakin baik usai terpilihnya pemimpin bangsa ini.

          Ada yang optimis, ada juga yang pesimis. Pak Mus, misalkan, seorang ta’mir mesjid di Cibalagung Bogor termasuk yang pesimis. Apalagi setelah melihat capres yang melaju ke putaran kedua. “Ibarat lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya,” katanya pada MUDA. Dan Pak Mus juga tidak sendiri, banyak orang yang juga senada tentang masa depan bangsa ini; pesimis!

          Ini bukannya tidak disadari oleh pemerintah maupun KPU dan Panwaslu. Mereka sama-sama khawatir kalau jumlah golput pada pemilu capres putaran II akan kian banyak. Padahal pada pemilu caleg dan capres putaran I, pemenangnya justru kaum ‘putih’ tersebut. Namun, apapun yang terjadi pemilu capres putaran II bakal jalan terus. The show must go on!

 

Harapan-Harapan

Tinggal di Indonesia memang makin susah. Khususnya buat kaum ekonomi lemah. Pengen ngerasain duduk di bangku sekolah negeri? Ortu kudu nyiapin uang hingga jutaan rupiah. Persis seperti bisnis, harga bangku sekolah negeri makin kompetitif (baca: makin mahal). Alasannya: demi kualitas! Barang bagus emang selalu mahal, kayaknya jadi jargon untuk pendidikan di tanah air. So, makin bergengsi sekolahnya makin mahal tarifnya. Sekolah swasta apalagi. Malah beberapa taman kanak-kanak pasang uang pangkal yang ngalahin biaya masuk kuliah. Kisarannya mulai 4 hingga 10 juta. Padahal, kalaupun anak-anak itu lulus TK itu nggak bakalan dapat gelar apa-apa, apalagi jaminan dapat kerja.

Akibatnya, makin banyak anak-anak dan remaja yang putus sekolah, dan makin banyak juga sekolah yang kekurangan murid.

          Kualitas pendidikan nasional juga perlu dipertanyakan. Oke atau nggak sih? Yang jelas setelah standar nilai kelulusan dinaikkan menjadi 4, 01 jumlah siswa SLTP dan SMU yang tidak lulus jadi seabrek-abrek. Untuk kawasan Propinsi Banten saja jumlah siswa SLTP yang tak lulus mencapai 10.276 orang, atau 8,5 persen dari lulusan SLTP (Koran Tempo 29/06/04). Sedangkan di Kabupaten Jember dan Kota Solo mencapai 1140 siswa dan 577 orang. Itu semua jumlah yang nggak sedikit. Padahal standar kelulusan cuma dinaikkan 1 poin, dari 3,01.

          Maka, pendidikan yang murah lagi bermutu jadi salah satu harapan banyak orang di negeri ini. Tumpuannya siapa lagi kalau bukan pemimpin yang nanti bakal kepilih.

          Pemimpin yang baru juga diharapkan makin peduli pada rakyat miskin. Selama ini, kalangan itulah yang paling merasakan pahitnya kehidupan bangsa. Tengok saja penggusuran demi penggusuran di berbagai daerah. Mulai dari ‘penertiban’ perumahan sampai lahan usaha milik pedagang kaki lima makin menjadi-jadi. Wajarlah kalau kemudian sang penguasa baru diminta untuk memberi perhatian dan pelayanan yang terbaik buat rakyatnya.

 

Butuh Aturan

          Tapi benar nggak sih semua murni karena ‘kepemimpinan’? Nah, ini yang kudu direnungi dalem-dalem oleh kita semua. Pasalnya semenjak reformasi, sudah terjadi 3 kali pergantian kepemimpinan tapi rakyat Indonesia tetep aja sengsara. Jurang sosial makin menganga. Bayangin deh, sewaktu pertokoan di Singapura mengadakan Great Singapore Sale pada 28 Mei-25 Juli lalu sekitar 151 ribu orang Indonesia berkunjung ke sana. Artinya, setiap hari 5000 orang Indonesia jalan-jalan ke Singapura. Sebagian besar tentu saja untuk shopping. Pastinya item yang mereka beli harganya nggak murah untuk ukuran rakyat jelata. Satu tas merk Gucci aja bisa seharga 4 jutaan. Sementara itu banyak orang butuh banget duit cuma 1 juta untuk nyekolahkan anaknya ke SD.

          Untuk kita, kawula muda, soal narkoba kudu diperhatikan serius. Pasalnya hampir perhatian pemerintah pada urusan yang satu ini dirasakan kurang. Sanksi bagi pengedar narkoba masih belum bisa bikin jera. Dari 25 orang terpidana mati baru seorang yang dieksekusi, Ayodhya itu juga setelah menanti 10 tahun lamanya. Wajar aja kalau laju peredaran narkoba makin menggila. Padahal menurut kepolisian RI ada 1-2 persen orang Indonesia yang memakai barang laknat itu.

          Ironinya, pemerintah baru aja mengesahkan program jarum suntik steril cuma-cuma bagi para junkies. Tujuannya agar para junkies tidak terkena virus HIV dan Hepatitis C akibat sering bergantian memakai jarum suntik. Nastaghfirullah!

          Belum lagi soal gaya hidup anak muda di Indonesia yang makin funky. Free sex, cuek atau EGP, dan fun-oriented banget. Simak aja lagu Tofu yang terbaru Satu Kali, isinya mencerminkan gaya hidup macam gitu:

 

Hidup cuma sekali, satu kali

 

          Nah, apa masih bisa bilang ini sekedar masalah kepemimpinan?

          Kayaknya nggak deh. Sehebat-hebatnya seorang pemimpin, ia tetap butuh aparat yang oke. Yang satu visi dan misi untuk ngejalanin roda kepemimpinannya. Kalau bawahannya nggak punya mental sekuat pemimpinnya, nggak bakal lama bakal terjadi ‘kudeta’, atau paling-paling korupsi kekuasaan.

          Pemimpin juga nggak ada artinya tanpa aturan yang bener. Ibarat supir dengan mobil, keduanya harus sama bagusnya. Michael Schumacher nggak bakalan bisa jadi juara balap mobil F1, kalau nggak punya ‘tunggangan’ sehebat Ferari. Mau balapan pake Kancil? Weleh, weleh.

          So, sadarlah sobat muda, pergantian pemimpin tanpa perubahan aturan hasilnya sama saja. Yang paling kita butuhkan sekarang ini adalah perubahan aturan kehidupan. Kita perlu banget aturan kehidupan yang bisa memberikan rasa aman, kenyamanan dan manusiawi. Sistem kehidupan yang bikin manusia itu dihargai, bukan dieksploitasi.

          Masih bingung? Kan ada Islam, kenapa nggak dicoba aja?[januar]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s