Kenapa Saya “Membenci” Wanita?

Rubrik “Curhat” ini diasuh oleh Ir. Lathifah Musa. Alumnus IPB, dan berpengalaman menjadi pengasuh Rubrik Konsultasi Surat dan Rubrik Sistem Pergaulan Pria-Wanita, Program Mutiara Fajar Radio Tidar FM Magelang. Buat kamu yang punya masalah, silakan curhat di sini. Pertanyaan bisa via pos atau e-mail ke sobatmuda@mail.ru (tulis “Curhat” pada subjeknya).

Assalamu’alaikum wr. wb.

Mbak, saya seorang pemuda yang sebenarnya terbilang normal dalam hal menyukai lawan jenis. Namun, sejak ayah saya menikah lagi dan menceraikan ibu saya, dalam diri saya kok muncul perasaan “benci” kepada wanita. Saya menganggap bahwa wanitalah yang telah merenggut kebahagian ibu, saya, kakak, dan juga adik-adik saya. Apakah perasaan saya ini wajar atau tidak wajar Mbak? Saya mohon solusinya karena hal ini terus mengganggu pikiran dan perasaan saya. Terima kasih Mbak.

Taufik, Bandung

Wa ‘alaikumus salaam wr. wb.

Adik Taufik di Bandung,

            Insya Allah Mbak memahami bahwa rasa kasih dan sayang terhadap ibu, kakak dan adiklah yang mendorong adik untuk “membenci” wanita yang dianggap merebut ketenangan dan ketentraman kalian selama ini. Hal ini wajar saja, karena salah satu penampakan dari naluri manusia dalam hal melestarikan jenis adalah kecintaan terhadap ibu dan keluarga. Ada keinginan untuk melihat mereka tentram dan bahagia. Pada saat ketenangan ini terusik, maka bangkitlah naluri yang lain yaitu naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa’). Sebuah keinginan untuk melindungi diri dan menjauh dari hal-hal yang mengusik ketentraman. Inilah yang membuat adik merasa benci terhadap wanita yang dianggap mengganggu ketenangan keluarga adik.

Adik Taufik,

Perceraian, meskipun halal secara syar’i, namun dibenci oleh Allah Swt. Rasulullah saw. telah bersabda: “Sesuatu yang halal yang amat dibenci Allah adalah thalaq.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah). Sesuatu yang dibenci oleh Allah Swt., pasti mengandung sisi yang membahayakan bagi manusia. Perceraian sering membekaskan luka pada pihak-pihak yang terlibat. Tidak hanya bagi suami atau istri, tetapi juga anak-anak. Bahkan akibatnya bagi anak, bisa menimbulkan luka yang teramat dalam. Ayah dan ibu adalah dua orang yang sangat dekat dan dicintai oleh seorang anak. Perpisahan dan permusuhan antarkeduanya sangat menyakiti perasaan anak. Sehingga seringkali muncul kebencian dan dendam pada yang dianggap sebagai “biang keladi” perceraian orang tua. Bagi anak laki-laki, bisa menyebabkan ia membenci wanita, karena menyebabkan ayah melalaikan ibu. Sebaliknya bagi anak perempuan ia akan sulit menaruh kepercayaan pada laki-laki, karena menganggap ayah tidak bisa dipercaya untuk menyayangi dan mengayomi ibunya.

Adik Taufik,

Selama hidup di dunia kita akan selalu dihadapkan pada ujian demi ujian. Ada yang menyenangkan, ada pula yang membangkitkan kebencian. Agar tidak salah menilai, kita harus menyerahkan otoritas penilaian cinta dan benci hanya kepada Allah Swt. Allahlah yang menciptakan perasaan pada diri kita, maka Allah juga yang tahu bagaimana seharusnya menempatkan perasaan cinta dan benci. Kesadaran ini akan mengarahkan kemana rasa cinta dan benci boleh ditempatkan. Insya Allah jika ini yang kita lakukan maka, perasaan cinta dan benci kita akan terarah menjadi perasaan yang islami.

Adik Taufik,

Hendaknya kita memandang secara jernih fakta-fakta kehidupan yang kita hadapi. Keburukan yang ditimbulkan seorang wanita dalam kehidupan adik, tidak bisa digeneralisir kepada wanita-wanita yang lain. Sebagaimana “tidak semua laki-laki itu buruk” maka demikian pula “tidak semua wanita itu buruk”. Artinya masih selalu ada laki-laki yang shalih, yang mampu memberikan pengayoman dan kebahagiaan terbaik bagi istrinya. Dan masih selalu ada wanita-wanita shalihah, yang senantiasa melindungi kemuliaan dan kehormatannya, taat dan mengasihi suami dan anak-anak, sehingga layak untuk dicintai dan dikasihi oleh laki-laki yang mulia.

Adik Taufik,

Jadikanlah pengalaman hidup adik ini sebagai pelajaran yang berharga. Hal ini akan mendorong adik mampu menilai wanita seperti apa yang layak untuk adik hormati dan persunting untuk menjadi istri shalihah yang layak dicintai. Demikian pula bila kelak adik menjadi seorang suami dan ayah, maka  adik akan mampu memahami bagaimana menjadi sosok suami dan ayah yang baik dan bertanggungjawab.

Untuk itu, saran mbak, belajarlah Islam lebih giat, supaya penilaian kebencian dan kecintaan kita sesuai dengan keridloan Allah Swt. Banyaklah berdoa, agar Allah Swt. menunjukkan setiap langkah kita ke jalan yang benar. Mohonlah agar dikaruniai istri, seorang wanita mulia yang akan menjadi sahabat terbaik adik dalam mengarungi ujian kehidupan ini. Juga anak-anak yang shalih, yang semakin mengokohkan kita dalam ketaatan.

Yakinlah bahwa apapun yang datang dari Allah Swt. ada nilai kebaikannya, walaupun terkadang manusia tidak mampu menilainya. Allah Swt. berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (TQS Al Baqarah: 216). Demikian, semoga jawaban ini bisa membantu memecahkan masalah yang adik hadapi.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s