Die Another Amanda

Namanya Amanda. kehidupannya adalah prototipe remaja metropolis idaman banyak anak muda; young, pretty & lucky. Ya, Amanda memang anak yang beruntung. Orang tuanya pejabat pemerintah di satu instansi yang ‘basah’, kuliah di PTS fave di Jakarta, dapat beasiswa dan punya Nissan Terrano.

Tapi keberuntungan Amanda terhenti pada usianya yang amat muda. Bulan lalu ia ditemukan tewas dalam mobil kerennya itu di kawasan Puncak, Bogor. Mayatnya hampir membusuk. Tidak butuh lama bagi polisi untuk mengetahui pembunuhnya. Adalah Ronald pacarnya yang tega menghabisi keindahan dan keberuntungan hidup Amanda. Hanya satu sebabnya, Amanda menuntut pertanggung jawaban pada Ronald yang telah membuatnya hamil 5 bulan. Ronald jengkel, Amanda pun dicekiknya.

Kisah seperti itu amat banyak. Bahkan hampir setiap minggu kita bisa melihatnya di koran, televisi atau mungkin di lingkungan dekat rumah kita. Banyak remaja yang mengalami nasib tak baik akibat pergaulan bebas. Sebagian menggugurkan kandungan atau membunuh bayinya, ada yang diungsikan sampai melahirkan, ada yang terpaksa dinikahkan muda – baik dengan pacarnya atau orang lain. Yang paling tragis adalah bunuh diri atau dibunuh pacarnya.

Keledai tak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali, kata pepatah. Tapi manusia kan bukan keledai, mereka bisa berbuat salah berkali-kali. Sebagian karena terpaksa, sebagian karena memang hobi melakukannya. Maka kasus pergaulan bebas yang dikhawatirkan banyak orang tua akan terjadi terus berulang-ulang. Padahal BKKBN, para psikolog, kyai sudah berteriak-teriak akan ancaman pergaulan bebas di tanah air. Tapi semua bergaung sesaat saja.

Yang terjadi kemudian adalah banyak orang menyerah menghadapi masalah ini. Beranggapan bahwa mustahil bisa mencegah pergaulan bebas. Mereka lalu mengambil jalan kompromi. Kemudian kita dikenalkan dengan istilah pacaran sehat, pacaran islami, sampai kondomisasi. Semua merasa itu jalan terbaik untuk saat ini.

Sayang, para pengambil keputusan itu atau yang mempropagandakannya sulit diminta bertanggung jawab seandainya terjadi kasus seperti Amanda. Para penganjur itu menganggap bahwa para remaja sudah dewasa untuk mengambil keputusan sendiri. Maka mereka juga tidak sungkan lagi membuat aneka produk yang mengekploitasi seks; majalah, tabloid, film, lagu, video klip, novel, cerpen, situs, dsb. Para pembuatnya beranggapan para remaja yang menikmati produk mereka sudah dewasa untuk mengambil tindakan dan cukup bertanggung jawab seandainya terpengaruh dengan semua itu.

Aneh, kita belum jera juga dengan berbagai tragedi kemanusiaan akibat rusaknya sistem pergaulan. Kita masih percaya bahwa keadaan sekarang baik-baik saja. Begitu pula para remaja juga masih saja mau mengulangi kesalahan kakak-kakak mereka. Padahal mereka juga mengetahuinya. Orang bilang cinta adalah buta, yang benar nafsulah yang membuat kita buta. Dan nafsu itu kini dilembagakan, disponsori, dijual dan dihargai mahal.

Seandainya tidak ada keinginan dari umat Islam untuk mengubah tata pergaulan sekarang ke arah Islam, juga para remaja belum mau melepaskan cara bergaul yang tidak sehat, maka terulang dan bertambahnya korban seperti Amanda tidak akan bisa dicegah. Dengan kata lain akan ada die another Amanda.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s