LURUH

By: Ria Fariana

 

Brak! Buka pintu! Suara itu memecah keheningan tengah malam. Seorang pemuda berumur 20-an tahun berdiri bersandar pada daun pintu yang kokoh itu sambil meracau tak karuan.

Brak brak brak! Kembali tangannya menggedor-gedor pintu yang tak kunjung terbuka. Setelah itu ia kembali menyanyi-nyanyi lagi dengan sembarangan, khas orang yang berada di bawah pengaruh alkohol. Beberapa saat kemudian, seorang wanita setengah baya berlari-lari dari dalam rumah untuk membuka pintu. Di belakangnya menyusul Tari yang masih memakai baju tidur. Setelah pintu berhasil dibuka, tubuh limbung Diko, nama pemuda itu, roboh kalau saja tak segera ditangkap oleh Tari dan perempuan setengah baya itu.

“Mas Diko, mabuk lagi?” suara Tari lirih sambil berusaha memapah, tepatnya setengah menyeret tubuh Diko ke sofa ruang tamu.

“Mbok, tolong ambilkan ember untuk muntahan Mas Diko,” Tari memberi perintah. Wanita setengah baya yang dipanggilnya si Mbok pun tergopoh-gopoh ke belakang untuk mengambil timba dan sekaligus membuatkan wedang asem. Minuman ini diyakini si Mbok yang dari Jawa itu sebagai penetral orang mabuk.

Di sofa beralaskan bantal kepala itu diganjal. Dipandangnya wajah abangnya itu dengan beribu rasa di dada. Mengapa harus menyiksa diri sedemikian rupa, kakakku? Batinnya ngilu. Andai bisa ditanggungnya kesedihan dan kegundahan hati abangnya itu, ingin rasanya dipikulnya sendiri. Tapi ia sendiri pun hampa, dan berusaha mencari pijakan atas jiwanya yang limbung. Syukurlah, ia tak sampai jatuh. Ada banyak saudara ia punya di luar sana yang menopang kala ia butuh sandaran.

“Ini Non, wedangnya,” simbok menyerahkan secangkir mug berisi wedang asam dan meletakkan ember di samping sofa.

“Makasih Mbok. Tapi sepertinya Mas Diko sudah pulas.” Dielusnya rambut abangnya dengan sayang. Ia ingat, dulu ketika dirinya masih kecil, Mas Diko-lah yang selalu mengelus rambutnya bila ia menangis. Selain itu Mas Diko akan mencarikan sesuatu untuk menghibur hatinya, adik semata wayang yang sangat disayangnya. Kelebat masa kecil itu begitu kuat. Karena itulah, tak tega sebetulnya dirinya melihat abang satu-satunya dalam kondisi mabuk seperti ini. Andai ada yang bisa dilakukannya.

***

Siang hari, rumah yang biasanya lengang itu terlihat cukup ramai. Mayoritas dari mereka berkerudung dan berseragam SMU. Mereka akan mengadakan acara silaturahim yang diadakan rohis SMU dimana Tari bersekolah. Acara ini diadakan dua bulan sekali bergiliran di antara rumah aktivisnya. Namanya saja ajang silaturahim, jadi tujuannya untuk menjalin ukhuwah antara anak-anak rohis khususnya putri. Dan kebetulan kali ini rumah Tari terkena giliran.

Sebagian ada yang sibuk mengupas buah-buahan yang rencananya buat rujakan, sebagiannya lagi menyiapkan tikar dan sound system sederhana. Adik-adik kelas satu duduk manis yang nantinya akan diberi materi oleh alumni sekolah itu yang peduli terhadap perkembangan rohis di SMU-nya.

Tari sedang mengambil bahan konsumsi di mobil ketika ada mobil lain yang masuk ke halaman luas itu.

Mas Diko!

“Ada apa ini? Rame banget,” Diko merasa heran dengan suasana rumah yang tak biasanya.

“Teman-temanku,” jawab Tari sedikit terkejut. Tumben abangnya pulang siang hari.

“Aku ada perlu neh,” Diko memerintahkan dengan isyarat pada Tari agar adiknya itu mengikutinya masuk ke dalam rumah lewat pintu samping.

“Aku butuh duit.”

“Buat apa? Kan baru saja minggu ini kita diberi jatah mama masing-masing 1 juta.”

“Sudah habis. Aku minta nggak banyak kok, cuma 300 ribu. Cepat, entar juga aku balikkin kalo menang,”

“Menang? Mas Diko pakai buat taruhan lagi duit itu?”

“Sudahlah, berikan saja duitnya,” Diko setengah memaksa.

“Gak akan, kita berdua sudah diberi jatah masing-masing. Dan jangan pernah minta Tari kalo duit itu hanya untuk judi!” tandas Tari sebelum melangkah pergi meninggalkan abangnya. Tapi sebelum ia sempat berbalik, tangan Diko keburu mencengkeram lengan Tari.

“Beri aku uang, kataku!” kata Diko dengan nada mengancam. Dengan berani Tari menatap mata kakaknya itu.

“Tidak!”

Plak. Tamparan cukup keras mampir ke pipi Tari.

Plok…plok…plok….hebat…hebat…sebuah tepukan tangan membahana setelah ia menampar pipi adiknya itu.

“Kenapa tak kau bunuh sekalian adikmu itu,” suara itu bernada sinis.

“Irni” Tari menyebut nama gadis itu. Gadis yang disebut Irni itu menghampiri Tari dan memapahnya menjauh dari abangnya.

“Lain kali kalo ingin pamer kekuatan jangan sama adikmu sendiri. Semua orang juga tahu cuma banci yang mampu memukul seorang wanita,” kata-kata pedas itu terlontar dari mulut Irni. Diko pun mematung di tempatnya berdiri sebelum akhirnya melangkah ke luar dan membanting pintu dengan keras.

Di kamar Tari, Irni berusaha mengobati lebam di pipi Tari.

“Lain kali, jangan diam saja kalau kakakmu itu menamparmu,” nasehat Irni.

“Biarlah Ir, dia hanya kalut, itu saja. Mas Diko yang asli adalah abang yang sangat sayang sama adiknya.”

“Tapi ini tak bisa dibiarkan. Meski dengan alasan sayang, semakin kamu membiarkan tingkah Diko yang liar semakin rusaklah ia. Kamu mau melihat abangmu jadi rusak begitu?”

Tari termangu dalam diamnya. Benaknya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tentang banyak hal. Mama yang kata-katanya selalu diulang bahwa beliau sayang sekali sama anak-anaknya, tapi tetap saja tak pernah mau berhenti berkarier di luar rumah. Pembantu yang mengurusi segala keperluan mereka berdua telah disiapkan, mulai guru les privat, hingga ustadz untuk mengaji juga didatangkan ke rumah. Papa yang kariernya semakin menanjak hingga semakin jarang di rumah. Tak ada masalah karena kedua anak yang semakin tumbuh remaja itu menjadi anak yang penurut dan cerdas.

Hingga menginjak SMU, Diko mulai berubah liar. Masa-masa pencarian jati diri, kata banyak orang. Mama papa pun terlihat tak khawatir dengan perubahan itu. Bahkan sebaliknya, Tari yang ingin berkerudung dan berjilbab-lah yang mendapat tentangan keras dari mama dan papa. Hingga akhirnya Diko pula yang ‘menyelamatkan’ Tari dari interogasi mama yang menganggapnya telah mengikuti kajian sesat dan identik dengan teroris. Dan sekarang, andai mama papa tahu bahwa anak laki-laki mereka benar-benar telah hilang kendali dan liar.

Diko tak pulang berhari-hari sejak kejadian siang itu. Tari kalang kabut menelpon dari rumah sakit satu ke rumah sakit yang lain. Dari kantor polisi satu ke kantor polisi lain. Ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada kakak laki-lakinya itu. Tepat seminggu kepergian Diko, Tari menghentikan pencariannya.

***

Diko pergi dari rumah, kalut. Tak tahu ia ke mana langkah kaki akan membawanya. Rasa bersalah karena telah menampar Tari membuatnya malu untuk kembali pulang. Adik yang sangat disayanginya tapi dengan mudah ia melukainya. Adik yang seharusnya ia lindungi sebagai seorang kakak dan bukan malah menyakitinya.

Mobil yang dibawanya pun ludes sudah untuk membayar hutangnya di meja judi dan membeli minuman keras. Lontang-lantung tak tentu arah, ia beristirahat di sebuah masjid kecil untuk sekedar membasuh muka. Saat itulah kelebat bayangan seorang perempuan memakai kerudung mengingatkan ia pada Tari, adiknya. Entah kenapa, bagian hatinya menyuruhnya pulang. Dirasakannya Tari sedang membutuhkannya saat ini. Ah…tak biasanya hatinya terasa risau sehebat ini. Ada apakah gerangan?

***

Terkadang Tuhan menegur kita dengan cara yang teramat menyakitkan. Bukan karena Tuhan kejam, tapi kitalah yang bebal menerima peringatan-peringatan ringan sebelumnya. Dan ketika seseorang yang begitu berharga dan kita sayangi pergi, saat itulah kita sering merasa Tuhan tidak adil.

Tuhan tidak adil!

Diko terluka dengan kenyataan bahwa adiknya ternyata mengidap penyakit yang cukup parah. Kanker leher rahim. Dan adiknya yang dulu begitu ringkih dan selalu ia lindungi dari godaan anak-anak jahil semasa kecil, ternyata menyimpan kekuatan sedemikian besar. Dalam sakitnya ia tak pernah mengeluh. Mengeluh pun tak ada guna. Orang-orang terdekat yang seharusnya mendampingi, semua tak hadir di saat-saat terakhirnya. Mama papa pun sekarang entah di mana. Mungkin di Tokyo, di New York, atau di Manhattan. Tari melarang keras memberitahukan kondisinya kepada mereka berdua. Dan Tuhan sepertinya begitu sayang sama Tari. Tak dibiarkannya gadis mungil itu menderita terlalu lama. Genap seminggu ia terbaring di ranjang rumah karena menolak ditaruh di rumah sakit, Tari menghembuskan nafas terakhirnya.

Di pusara yang tanahnya masih merah itu, Diko tergugu. Melihat sekop demi sekop tanah menimbuni tubuh adiknya yang terbujur kaku di sana. Apa yang dirasakannya di dalam sana? Adiknya yang sholihah, yang beberapa hari sebelumnya meninggalkan kumpulan puisi dan diperuntukkan bagi abangnya bila satu hari nanti pulang. Dari kumpulan puisi itu, ada satu yang sangat diingat Diko.

Tuhan!, jedukkan kami dari samping kanan dan kiri. Tuhan!, kami masih butuh gamparan-Mu. Kami masih butuh bacokan-Mu. Kami masih butuh memar, bengkak, nanah, tumpah-bencana tindih untuk tunduk di balkon arsy-Mu. Karenanya, jangan hentikan deru halilintar untuk membelah bumi. Jangan Kau hentikan banjir bandang di segenap benua yang durhaka. Jangan padamkan kobaran api dan cairan lava yang Kau niatkan untuk mensucikan randu-randu jiwa. Hentikanlah, manakala manusia tunduk pada aturan-Mu dengan sempurna.

Diko bersimpuh di samping makam adiknya yang masih merah. Seakan menyertai kepergian seorang gadis mungil yang begitu tulus, hujan pun turun deras menyiram bumi. Ketika semua yang hadir menyingkir untuk mencari tempat berteduh dan sebagiannya memilih pulang, Diko masih tetap di sana. Berusaha memahami teguran keras Tuhan pada dirinya, pada keluarganya dan pada sekitarnya. Ya…tak ada yang patut disesali. Teramat pantas Tuhan memberi teguran itu. Tari jauh lebih layak di sisi-Nya daripada di dunia bersama orang-orang yang tak bisa menghargai ketulusannya.

Dan Diko masih di sana. Menikmati alam yang sedang menangis menemani, kehilangan sesosok adik yang begitu disayangi. Menyadari begitu kerdil dirinya, begitu lemah dibanding kemampuan Tari yang tegar menghadapi masalah.

Dan di gubug kecil tempat sebagian pentakziah berlindung dari hujan, ada sepasang mata indah memperhatikannya. Satu-satunya sosok yang menemani Tari di detik-detik menjemput sang Izrail. Dan sosok itulah yang dipercaya Tari untuk menjadi pelita bagi abangnya. Irni dan Jaka, abang kandungnya, menatap sosok Diko di kejauhan yang sedang berusaha menginsafi diri di tengah derai sang hujan.

(Tuk semua sahabatku di milis NC, you’re my inspiration)

Thanks untuk secuil puisi indahnya dikutip dari Trilogi Tumbila di Kebon Hutang edisi Senam Revolusi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s