Maafkan Anakmu…

Aku berasal dari keluarga sederhana dan termasuk anak perempuan kesayangan orang tuaku. Di sekolah aku selalu masuk dalam peringkat lima besar. Bahkan aku pernah beberapa kali memenangkan lomba cerdas cermat matematika yang diikuti sekolahku. Bagi orang tuaku, aku anak yang baik. Selalu taat perintah orang tua. Apapun permintaan mereka, aku turuti. Sedikit pun aku tidak pernah membantah kedua orang tuaku.

Aku juga termasuk anak yang prihatin. Untuk keperluan sekolah dan sehari-hari, aku tidak pernah membebani orang tua. Aku lebih senang menggunakan pakain murah dan sederhana. Sepatuku juga bukan sepatu mahal dan bermerek. Bahkan kalau memang tidak ada uang, sepatu robek dan lusuh pun aku tetap pakai ke sekolah. Untuk buku tulis aku terbiasa berhemat dengan menggunakan buku bekas yang masih kosong sepertiga bagian belakangnya. Oleh karena itu, orang tuaku selalu membanggakanku kepada semua orang yang mereka temui.Tapi itu dulu, ketika aku duduk di bangku sekolah menengah tingkat pertama.

Ceritanya menjadi lain pada saat aku mengenyam pendidikan menengah tingkat atas. Dari sinilah lembaran hidupku mulai berwarna. Pada awalnya aku merasa senang karena aku diterima di sekolah favorit. Siswa yang di terima di sekolah itu umumnya dengan nilai terbaik. Namun sayang, selain terkenal dengan siswa yang pandai-pandai, sekolah baruku juga terkenal dengan kesenjangan sosialnya. Maklum anak-anak yang masuk ke sekolah itu, anak-anak dengan status ekonomi menengah ke atas.

Dalam pergaulan di antara siswa, kental dengan persaingan, popularitas berdasarkan kekayaan orangtua mereka dan kecantikan. Bagi anak-anak yang tergolong elit alias ekonomi sulit, dijamin akan merasakan kesulitan pergaulan. Tidak jarang mereka dianggap rendah dan tidak diterima, bahkan dikucilkan. Apa yang terjadi bisa ditebak. Mereka akan merasa rendah diri dan minder. Aku pun merasa demikian.

Demi orang tuaku dan masa depanku aku berusaha untuk tidak larut ke dalam masalah itu. Aku tidak mau ambil pusing. Yang terpenting bagiku pada saat itu belajar dengan giat, karena pasti persaingan di sekolah sangat ketat.

Pada Awalnya

Hari pertama aku duduk di bangku kelas satu aku merasa senang dan bisa berkonsentrasi penuh dengan pelajaran. Dua bulan berlangsung kegiatan belajar mengajar, aku masih menunjukkan kesungguhanku. Masuk di bulan ketiga, tiba-tiba aku menemui sepucuk surat di kolong mejaku

“Maniez…kehadiranmu menyentuh jiwaku. Pribadimu anggun menawan hatiku. Aku mengagumimu……”

Aku bertanya-tanya, siapa yang menulis ini? Selanjutnya aku tidak memperdulikan surat itu. Aku berfikir mungkin surat nyasar yang bukan ditujukan untukku atau cuma ulah jahil teman-temanku. Namun dugaanku meleset, ternyata surat-surat lain datang dan selalu diletakkan di tempat yang sama. Di kolong mejaku! Bukan hanya itu puisi-puisi gombal terpampang di mading setiap minggu. Meskipun puisi itu ditujukan kepadaku, aku masih tidak percaya.

Melihat nama yang menulis puisi itu adalah nama salah seorang cowok idola di sekolahku, aku bertambah tidak yakin bahwa dia memang suka padaku? Rasanya ini hal yang mustahil terjadi padaku. Selain aku adalah siswi yang tergolong tidak mampu dari sisi ekonomi, aku juga kurang populer dan kurang pergaulan di sekolah. Sedangkan Dia adalah anak orang mampu, orangtuanya disegani guru-guru, berprestasi baik di sekolah, tampangnya keren dan dia anak kelas III IPA.

Hari-hari berlalu di sekolah, Dia semakin menunjukkan perasaannya padaku. Perhatiannya meyakinkan padaku bahwa memang dia suka padaku. Selanjutnya aku merasakan apa yang disebut cinta monyet. Aku tidak pernah menceritakan ini pada kedua orang tuaku. Karena aku tahu persis, kalau saja bapakku tahu tentang hubungan ini maka beliau pasti akan murka. Bapak sudah dari jauh-jauh hari mengingatkan aku supaya tidak terbawa pergaulan teman-temanku. Beliau takut nilai dan prestasiku turun.

Akupun berubah

Semenjak berita hubunganku dengan kakak kelasku tersebar seantero sekolah, aku menjadi siswi yang popular di sekolah. Teman-temanku menganggap aku hebat karena bisa memacari cowok idaman tiap siswa perempuan. Mereka mulai menerimaku dalam pergaulan mereka.

Setiap pulang dari sekolah aku di ajak jalan-jalan ke pusat perbelanjaan mewah, kami sering makan-makan di restoran fast food terkenal, melihat-lihat pakaian bagus dengan harga yang selangit. Beberapa teman-temanku yang memang golongan borju membeli beberapa potong pakaian. Sedangkan aku sendiri lebih sering gigit jari. Minimal aku masih bisa tertawa karena mereka mentraktirku makanan yang tidak pernah aku makan di rumah.

Selanjutnya aku terbiasa melihat hal yang menyenangkan itu, aku pun mulai punya keinginan ingin merasakan gaya hidup mewah. Ini berdampak pada sikapku di rumah. Aku akan marah kepada orang tuaku jika makanan di rumah cuma tempe dan tahu. Suatu hari aku pun kesal karena ibuku tidak mau membelikanku ikat pinggang merek Versace. Karena sayangnya ibu pada anaknya, dengan hati sedih ibuku meluluskan keingananku meskipun harus meminjam uang ke tetangga.

Di sekolah aku tidak mau ketahuan aku orang tidak punya. Aku tidak mau teman-temanku mengucilkanku. Aku juga tidak mau pacarku meninggalkanku. Itu artinya aku harus tampil seperti mereka, walau pun memberatkan orang tuaku.

Aku Tersadarkan

Semakin akrab aku bergaul dengan teman-temanku, semakin banyak hal yang harus aku sembunyikan dari teman-temanku, semakin banyak kebohongan yang aku tampakan, semakin sedih hati orang tuaku melihat keangkuhanku. Apalagi prestasiku di sekolah terus merosot tajam. Hal ini terus berlanjut sampai aku naik kelas III.

Hingga pada suatu hari pacarku memutuskan aku dengan alasan ingin sekolah ke luar negeri karena orangtua menyuruhnya untuk studi di sana. Tapi dua bulan kemudian aku melihat dia ada di salah satu perguruan tinggi swasta dalam negeri. Aku merasa dikecewakan dan sudah dibohongi. Ternyata ia kuliah di sana.

Akhirnya dalam kesedihan aku merenung. Sebenarnya apa yang aku cari selama ini? Aku sudah membuang-buang waktuku dengan hal-hal yang tidak berguna. Aku telah menjadi makhluk yang sombong, angkuh dan tidak berperasaan. Dan yang paling aku sesalkan adalah kenapa aku sangat tega membuat orang tuaku sedih. Aku telah berbuat aniaya pada diriku sendiri. Pergaulan yang membawa pada kehidupan materialistis dan hedonis telah menjauhkanku dari tunduk kepada Allah Swt. Ya Allah…ampunilah aku. Ayah….Ibu…maafkan anakmu. Aku ingin berbakti dan berarti bagi kalian. Ya Rabbi…Aku ingin berubah menjadi hamba-Mu yang selalu tunduk dan taat padamu. [seperti diceritakan Dinda pada Sarahita]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s