Berandai

Andai rasa itu ada

Biar kurasakan indahnya cinta

dalam hati saja

(Warna)

 

          Pekerjaan yang paling mudah dikerjakan adalah melamun. Berandai-andai. Dalam lamunan, kita bisa menjadi apa saja dan melakukan apa saja. Kita bisa berimajinasi menjadi Gatotkaca, superhero dari Indraprasta yang berotot kawat, bertulang besi (mungkin karena rajin minum susu berkalsium tinggi) lalu mengacak-acak Gedung Putih dan menggantung Bush Jr. di ujung Patung Liberty. Biar nyahok (baca: tahu), itulah bayaran menyakiti sesama kaum muslimin.

          Dalam pengandaian, kita bisa membalik masa lalu. Make everything right what gone wrong. Mungkin kita akan menuruti setiap perintah ibu dan ayah kita, tidak akan menyakiti hati mereka. Kita juga akan rajin mengerjakan PR sehingga tidak akan kena jewer atau kena setrap wali kelas. Atau kita nggak bakal mau kenalan dengan video game sehingga nggak akan addicted dengan ‘heroin’ elektronik itu. Buat gadis-gadis yang pernah dihamili pacar-pacarnya mungkin akan berandai nggak akan mengerjakan perbuatan terkutuk itu dan menanggung efek depannya (suer, karena hamil memang melendung ke depan tidak ada yang ke samping). Oh, we wish we can do that!

Tapi, mengandaikan sesuatu yang telah terjadi adalah kesia-siaan. Bahkan tak terpuji. Masa lalu sudah terjadi, tak ada yang bisa mengubahnya. Berandai-andai dengannya hanya memperpanjang penderitaan bahkan bisa menjadi trauma. Itulah sebabnya Nabi saw. meminta kita untuk tidak berandai-andai. Kata Beliau saw. “Jika sesuatu telah menimpamu maka janganlah engkau sekali-kali berkata; ‘seandainya aku melakukan begini atau begitu maka hasilnya (pasti) begini’. Akan tetapi katakanlah: ‘Allah telah menakdirkan demikian, dan apa yang Dia kehendaki maka Dia lakukan’.”

Satu-satunya hal yang bisa kita kerjakan saat ini adalah menyimpan kenangan pahit dalam folder memori kita. Ia adalah pelajaran yang tak boleh terulang di masa depan. Bukankah keledai tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama sampai dua kali? Dan, karena manusia bukan keledai – bahkan bisa lebih bodoh dari keledai –, belajar dari kesalahan menjadi penting. Muhammad the prophet says, “Tanda-tanda celakanya seseorang ada empat; pertama, adalah melupakan dosa-dosa yang telah lalu padahal Allah tetap mengingatnya…”

Jadi, biarkanlah air matamu meleleh dengan mengingat itu semua. That’s better, ketimbang berandai-andai bisa mengulang masa lalu. Bila itu yang kita lakukan, maka itu adalah sebuah kontemplasi. Merenung dan memikirkan serta mencari pencerahan atas berbagai permasalahan kita.

Dan kontemplasi adalah perbuatan terpuji. Allah Swt. telah memerintahkan manusia untuk banyak berkontemplasi. Di antaranya untuk memikirkan kekuasaanNya, demi meneguhkan keimanannya.

 

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergiliran siang dan malam, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal, yakni yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring dan memikirkan penciptaan langit dan bumi, kemudian berkata, ‘Duhai Tuhan kami tidaklah Engkau ciptakan semua sia-sia, Mahasuci Engkau dan selamatkanlah kami dari api neraka’.”(Ali Imraan: 190-191) [januar]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s