Buatlah Film Idiot Yang Cerdas!

oleh-benerinkcmt.jpgOleh: O. Solihin, Wartawan SOBAT Muda

Sinetron Indonesia sedang dibanjiri cerita seputar keterbelakangan mental. Bahasa kerennya idiot. Itu sebabnya, layar kaca dipenuhi aksi Teuku Ryan yang menjelma jadi sosok “Si Yoyo”, Anjasmara yang menyulap dirinya jadi “Si Cecep”, dan Titi Kamal yang berperan sebagai “Chanda”. Selain itu, masih ada deretan cerita lainnya yang deket-deket dengan idiot, sebut saja misalnya Culunnya Pacarku dan Cewek Tulalit.

Fenomena seperti ini bisa disikapi berbeda. Pertama, sebagai sebuah cerita, sah-sah saja bercerita tentang segala hal, termasuk menggambarkan kehidupan mereka yang kebetulan menderita keterbelakangan mental. Asal itu menarik, bisa saja sebagai altenatif hiburan. Sambil berharap ada pesan yang bisa diambil hikmahnya. Syukur-syukur kalo pemirsa menemukan jawaban atas masalah yang digambarkan dalam cerita itu. Kedua, meski hal ini sebagai cerita, tapi sangat boleh jadi menyimpan potensi masalah di kemudian hari. Artinya, dampak dari tayangan itu akan memberi warna tersendiri bagi masyarakat.

Menarik untuk disimak adalah kasus terpengaruhnya pemirsa lewat pesan dari tayangan seperti itu. Seperti penuturan seorang ibu di Jakarta yang menulis surat pembaca tentang anak balitanya. Beliau menuturkan, tiba-tiba anaknya gagap dan tidak lagi berbicara normal seperti biasa, ibu tersebut amat terkejut. Setelah diselidiki ternyata si anak mengikuti cara bicara Yoyo dalam sinetron “Si Yoyo” yang ditontonnya lewat layar kaca. (Kompas, 20/06/04)

            Sobat muda, cerita model begini sebenarnya sudah ada sebelum “Si Yoyo” dan “Si Cecep”. Sebut saja Forrest Gump. Film layar lebar buatan Hollywood ini cukup cerdas meski bertema idiot. Tom Hanks, yang berperan sebagai Forrest Gump berhasil memvisualisasikan tokoh dalam cerita bernada satire dari novel berjudul sama karya Winston Groom itu. Sutradara Robert Zemeckis berhasil menerjemahkan skenario Eric Roth dan menjadikan Forrest Gump berhasil “mendidik” pemirsanya lewat aksi-aksi memukau. Ia menjadi menjadi pahlawan di Perang Vietnam, jagoan catur, jawara ping-pong, sempat pula ikut program NASA menjadi astronot, dan bahkan tampil perkasa dalam ‘menyelesaikan’ skandal Watergate yang melibatkan Presiden Richard Nixon di tahun 1973. Ya begitulah hidup, seperti yang diucapkan dengan lirih oleh Forrest Gump sembari duduk di halte menunggu bis, “Live is just like a box of Chocolate”.

Cenderung Eksploitatif

Tak perlu menuduh sinis jika saya berkomentar bahwa sinetron Indonesia yang bercerita tentang keterbelakangan mental ini tidaklah cerdas. Tapi justru cenderung eksploitatif. Kenapa? Lihat saja tayangan “Si Cecep” yang cenderung eksploitatif atas keterbatasan seseorang yang idiot. Dijadikannya bahan tertawaan penonton. Ini tidak mendidik. Bahkan dalam level tertentu akan menjadikan mereka yang bernasib seperti Si Cecep sebagai bahan tertawaan juga.

Seorang teman pernah bercerita, bahwa dulu di sebuah rumah sakit jiwa di kotanya sering diadakan pertandingan sepakbola sebagai bagian dari acara Peringatan 17 Agustus. Bisa dibayangkan, kita menonton orang-orang yang bukan lagi lemah akal, tapi sudah kehilangan akalnya. Ya, penonton menikmati kekonyolan-kekonyolan yang terjadi. Buktinya, banyak yang terbahak-bahak bahkan terpingkal-pingkal ngelihat cara bermain yang tentu saja tanpa pola. Bahkan pelatih sekaliber Otto Rehhagel yang membawa Yunani jawara Euro 2004 pun nggak bakalan bisa memberi instruksi kepada pemain yang emang sudah terganggu akalnya itu.

Apakah sebuah film atau sinetron komedi dibuat hanya untuk membuat penontonnya semata-mata tertawa? Apalagi jika bahan tertawaannya tak cerdas. Itu sama saja kita menikmati pertandingan sepakbola dengan pemain orang yang tak waras akalnya seperti cerita seorang teman  saya yang saya tulis tadi. Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa tayangan seperti itu tak membuat pemirsanya pintar dan mengambil hikmah dari jalan cerita yang dipaparkannya. Tapi sekadar puas bisa menikmati eksploitasi kebodohan dan kekonyolan yang bertebaran dalam cerita tersebut.

Bila kenyataannya memang demikian, lalu apa yang bisa diharapkan dari sebuah tontonan yang menghibur? Saya pikir, sebuah hiburan pun mestinya memberikan kesegaran dan wawasan bagi pikiran dan perasaan kita, meski hiburan tersebut mengangkat tema idiot. Bukan hiburan an sich. Itu sebabnya, kasus “Si Cecep”, “Si Yoyo” dan tayangan bernuansa idiot lainnya sangat disayangkan, karena alih-alih kita mendapatkan hikmah dan pelajaran berarti dari tayangan itu, bahkan untuk sekadar hiburan yang sifatnya mencerdaskan sekali pun tak kita dapatkan. Benar-benar tragedi!

Pada kasus “sinetron idiot” yang kini bertebaran di layar kaca kita, adalah sebuah proses bahwa pengelola media massa, khususnya media elektronik, ingin mengetengahkan agenda medianya untuk membentuk satu opini kepada khalayak bahwa tayangan semacam itu pantas untuk disimak dan bahkan dijadikan sebagai tren. Sayangnya, mereka gagal mengkondisikan sebuah tujuan hiburan yang bermanfaat, bahkan untuk sekadar hiburan alternatif yang bisa mencerdaskan pemirsanya. Atau jangan-jangan memang tujuannya adalah untuk membodohi (dan menganggap bodoh) masyarakat pemirsanya? Wallahu’alam.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s