Siapa Menuntut Siapa

Usai  mendapat pengampunan dari pemerintah RI, mantan aktivis G30S PKI menuntut balik. Mereka menggugat kalangan yang terlibat aksi pembubaran PKI. Siapa menuntut siapa?

Andai saja PKI pada tahun 1965 berhasil melakukan rencananya, maka Jakarta akan memasuki lipatan Komunis Asia. Poros Jakarta-Peking akan menjadi suatu kenyataan yang mengagumkan. Konsolidasi itu akan memunculkan suatu era baru di Pasifik, serangkaian kekuatan ekspansionis otoriter dari Korea hingga New Guinea. Suatu aliansi demikian akan membahayakan Vietnam Selatan, Thailand, Laos, Kamboja, Malaysia, dan Singapura. Hal ini bisa mengancam keamanan Korea, Philipina, Australia dan New Zealand. Keseimbangan kekuatan di Asia akan cenderung didominasi oleh komunis. Demikian Arnold C. Brackman menyatakan dalam bukunya yang berjudul Communist Colaps in Indonesia.

Lebih Jauh, ahli ekonomi Jepang Dr. Yoshitaka Hirouchi menegaskan, bahwa Jepang akan runtuh jika Indonesia jatuh ke tangan komunis. Sedang bagi negara Anglo-Amerika pada tahun 1965, mereka terjepit dan saling membelakangi sepanjang garis pantai Laut Cina Selatan. Demikianlah kondisi keseimbangan politik dunia pada paruh pertama tahun 60-an. Memang tidak sehebat World War II, tetapi peristiwa itu cukup penting bagi keseimbangan dunia.

ABRI khususnya Angkatan Darat, yang telah lama bermusuhan dengan PKI bergerak cepat menumpas gerakan tersebut. Komunis Indonesia akhirnya gagal mengambil kekuasaan, kemudian pecah huru-hara hampir di seluruh Indonesia, khususnya di Jawa. Memang kontrol keamanan negara kembali berada dalam komando ABRI, tetapi efek dari peristiwa tersebut tetap sulit untuk dikendalikan. Masyarakat yang marah atas tindakan PKI kemudian bertindak sendiri. Kelompok Islam yang secara ideologis berseberangan dengan komunis melakukan aksi “pembersihan” terhadap anggota PKI. Pejabat Deplu AS, selama 1965-1966 sempat melakukan penelitian. Hasilnya, ia menyebut angka 105 ribu orang tewas. Berbeda dengan Sarwo Edi, mantan Komandan RPKAD yang melakukan tugas penumpasan PKI ke sejumlah wilayah di Indonesia, sebelum meninggal, menyebutkan jumlah korban yang dibunuh mencapai 3 juta orang. Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah korban pada waktu itu, tetapi yang jelas korban yang jatuh cukup besar.

PKI kemudian dinyatakan sebagai partai terlarang dan ajaran Marxisme-Leninisme dilarang untuk disebarluaskan. Keluarga maupun keturunan anggota PKI dilarang bekerja dalam pemerintahan, baik sebagai pejabat sipil terlebih lagi militer. Peristiwa tersebut telah menimbulkan trauma yang cukup dalam dalam ingatan masyarakat indonesia.

Gugatan Balik

Namun setelah keruntuhan rezim orde baru, sisa-sisa anggota PKI atau generasi baru komunis Indonesia berupaya untuk membela diri. Mereka mengeluarkan versi lain dari peristiwa 30 september tersebut, dan menimpakan kesalahan pada orang lain. Mereka juga mengeluarkan buku-buku dan kajian yang berupaya menjelaskan, bahwa peristiwa 30 september tersebut bukanlah atas keinginan PKI, tetapi PKI hanya sebagai korban dari persaingan pilitik, atau mengatakan bahwa PKI hanya sebagai korban dari konspirasi politik, untuk memenuhi kenginginan ambisi kelompok tertentu, dan sebagainya. Mereka juga menuntut dihapuskanya Tap MPRS 1966 (tentang larangan ajaran marxisme dan leninisme, dan PKI)

Agaknya mereka masih menyimpan dendam terhadap kelompok ataupun orang yang selama ini telah menghancurkan eksistensinya. Lebih jauh, mereka menuntut atas “ketidakadilan” yang mereka alami atau yang menimpa kakek serta orang tua mereka. Bahkan upaya perdamaian yang ditawarkan pun dianggap belum sepadan dengan penderitaa yang mereka alami. Sebutlah misalnya Pramodya Ananta Toer, dia berucap “Gampang amat!” ketika diwanwancarai Forum Keadilan, 26 Maret 2000, terhadap permintaan maaf Gus-Dur atas kejadian masa lalu. Pernyataan tesebut menunjukkan bahwa generasi baru sosialis bersikap egois dan tidak fair, cenderung ingin menang sendiri.

Mereka bersikap demikian bisa jadi karena PKI menjadi fihak yang kalah dalam pertarungan itu. Tetapi sebaliknya, seandainya PKI berhasil, tentu PKI juga akan melalukan hal yang sama terhadap lawan-lawan politiknya. Sebelum pecah Peristiwa 30 September kondisi di Indonesia sebenarnya sudah menunjukkan akan terjadi kekacauan, tinggal siapa yang lebih dulu akan “menerkam” siapa. Indarwati Aminuddin dan Agus Sopian dalam artikelnya yang berjudul Misteri Lubang Buaya, menggambarkan kondisi waktu itu. D.N. Aidit petinggi PKI menyeru kader-kadernya untuk meningkatkan sikap revolusioner. Kemudian menyerukan pembentukan “Angkatan V”, kekuatan buruh dan tani yang dipersenjatai dan dilatih kemiliteran. Seruan Aidit tersebut diikuti oleh terjunnya para kader PKI ke desa-desa membawa slogan “Desa Mengepung Kota”, layaknya slogan Mao Tse Tung saat mengobarkan revolusi komunisme di China.

Dalam aksinya, mereka meneriakkan kebencian terhadap unsur-unsur masyarakat yang dianggap jadi lawan-lawan politiknya. PKI mengekspresikannya dalam slogan “Tujuh Setan Desa”. Mereka adalah tuan tanah, tengkulak, bandit desa, tukang ijon, lintah darat, birokrat desa, dan amil zakat. Keadaan memanas, massa PKI melakukan serangkaian pembantaian dan pembunuhan sistematis terhadap “setan-setan” itu. Mereka juga berusaha melenyapkan lawan-lawan politiknya.  Sulastomo misalnya Ketua Umum PB HMI 1963-1966 menyatakan bahwa PKI menuntut HMI untuk dibubarkan, dan seandainya berhasil tentu kader HMI akan dikejar-kejar. Sikap PKI tersebut telah membuat lawan-lawan politiknya siaga.  PNI, NU, Parkindo, Partai Katolik, PSII, hingga IPKI berhadap-hadapan dengan PKI untuk suatu konfrontasi terbuka. Harus kita ingat bahwa “pembersihan” terhadap PKI juga tidak bisa lepas dari peran PKI sebelumnya. Kader-kader PKI melakukan aksi-aksi yang menimbulkan bentrokan di beberapa daerah di Indonesia. Peristiwa di Bondowoso, Jember, Pasuruan, Peristiwa Bandar Betsy, Peristiwa Tandjung Morawa, juga yang tidak boleh dilupakan adalah pemberontakan PKI Madiun 1948.

Sejarah juga telah membuktikan, bagaimana sepak terjang Komunis diberbagai belahan dunia. Stalin, Mao dan Pol Pot —meminjam kata-kata Goenawan Mohamad— membinasakan sekian juta “kontrarevolusioner” karena sosialisme harus berdiri. Kita juga bisa menengok kembali peristiwa “Tiananmen”, ribuah pejuang pro demokrasi Cina dikumpulkan di lapangan Tiananmen, kemudian dibunuh secara massal. Entah berapa juta jiwa lagi melayang akibat kekejaman pemerintahan komunis Kuba, Korea Utara, Yugoslavia, Rumania, Bulgaria, Ceko, Slovakia (dulu Cekoslovakia jadi satu) dan di negara lainya.

Semua itu tidak mungkin dihindari, karena perjuangan kelas adalah satu-satunya metode komunisme dalam membentuk masyarakat baru. Tatanan masyarakat yang baru menurut Karl Marx, Bapaknya Komunis, akan terwujud melalui perjuangan antar kelas. Bentrokan, kerusuhan, huru-hara, pembunuhan dan aksi kekerasan lainya telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Sisialisme-Komunisme. Keinginan PKI untuk membetuk ankatan V juga tidak lepas dari kerangka ajaran Lenin-Marx. Lenin dalam bukunya Negara dan Revolusi, secara jelas menyebutkan bahwa rakyat yang dipersenjatai akan menggantikan tentara reguler.

Untuk kasus PKI, Angkatan V sebagai rakyat yang dipersenjatai akan menghancurkan dan menggantikan tentara reguler dalam hal ini TNI/ABRI. Jadi seandainya kejadian 65′ pemenangnya adalah PKI, maka yang jadi korban adalah ABRI dan lawan politiknya termasuk NU, dan organisasi keislaman lainya.

Korban Yang Terlupakan

PKI, selain menimbulkan korban jiwa (di luar yang terbunuh setelah 30 September 65), juga telah secara kejam memakan korban non fisik. Korban non fisik itu berupa rusaknya keyakinan dan aqidah sebagian kaum muslimin, karena mengadopsi komunisme. Justru kerugian ini adalah kerugian yang terbesar yang tidak pernah disadari oleh masyarakat. Selama ini masyarakat hanya mempersoalkan masalah korban jiwa dan ketidakadilan lainya, tetapi lupa bahwa komunisme telah jauh merusak pemikiran keyakinan kaum muslimin.

Kerusakan aqidah tidak bisa digantikan dengan nyawa sekalipun. Sebab sebuah pemikiran yang bercokol dalam benak seseorang lebih sulit diberantas dibandingkan melenyapkan nyawa seseorang tersebut. Akibat perbuatan PKI juga, saat ini banyak kaum muslimin yang kemudian menjadi atheis dan tidak mengakui adanya  sang Pencipta, alias murtad. Jika ini dibiarkan maka sama saja dengan membunuh Islam dan kaum muslimin secara sistematis. Ini jelas lebih kejam dan dahsyat kerusakanya. Trauma akibat peristiwa 65 masih mungkin hilang dalam benak masyarakat Indonesia meski harus menelan waktu bertahun-tahun. Tetapi kerusakan pemikiran yang ditimbulkannya bisa terus berlangsung sampai dunia ini hancur.

Seandainya peristiwa sebelum dan sesudah 30 September 65 bisa diusut secara tuntas, masih belum bisa memenuhi rasa keadilan bagi Islam dan kaum muslimin. Sosialism-Komunisme telah menjauhkan dan menyesatkan sebagian kaum muslimin Indonesia dari jalan yang benar. Siapa yang akan bertanggung jawab atas kerugian ini. Tidak seorangpun yang bersedia dituntut atas hal ini.

Pelajaran Berharga

Dalam peristiwa ini, sebenarnya fihak yang paling dirugikan baik di waktu lalu maupun sekarang bukan siapa-siapa tetapi Islam dan kaum musulimin. Dengan dipersoalkan kembali peristiwa tersebut, maka pemikiran sosialis-komunis menjadi lebih populer dan terlihat tidak menakutkan dari sebelumnya. Sementara itu kerusakan yang ditimbulkanya terhadap pemikiran dan aqidah Islam tidak kemudian berhenti, justru sebaliknya, semakin parah. Terlebih lagi pemerintah, baik pada masa yang lalu maupun masa sekarang tidak pernah berpihak kepada Islam, tetapi justru memanfaatkan untuk kepentinganya.

Oleh karena itu kaum muslimin perlu usaha yang lebih keras untuk membersihkan pemikiran-pemikiran rusak dari benak kita,  tidak hanya dari sosialieme, tetapi juga kapitalisme. Semua elemen kaum muslimin harus mencurahkan segenap kemampuan, untuk membawa generasi baru kaum mulimin agar menempuh jalan yang lurus, menyadarkan mereka, dan menunjukkan mereka Islam yang benar. Bukan mencekoki mereka dengan sosialis, bukan kapitalis juga bukan ajaran hasil kompromi. Tetapi ajaran yang pernah dipraktekan oleh Rasulullah dan shahabatnya. [D. Saputra]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s