Gaya Dan Cap Miring Anak Jalanan

Hidup di jalanan nggak cuma memberikan kepedihan, tapi juga bisa ngebangun komunitas tersendiri. Lengkap dengan gayanya. Positifkah atau negatif?

Nggak usah ngebayangin ada Ari Sihasale yang pernah jadi “Ali Topan Anak Jalanan” kalo diajak ngomongin soal anak jalanan. Sebagai “ibnu sabil” alias anak jalanan, Ali Topan biasa pake moge (motor gede) untuk menyusuri kerasnya jalanan. Udah gitu, ganteng dan tajir pula. Nggak ada anak jalanan kayak Ali Topan. Itu cuma di sinetron. Ribuan anak jalanan yang kini bertebaran di kota-kota besar tidaklah sebagus nasib Ali Topan. Mereka adalah produk budaya yang ada saat ini. Bahkan anak jalanan membentuk budaya sendiri, lho.

Keras, kejam, liar, itulah gambaran yang sering kita dapatkan tentang anak jalanan. Cap ini udah kadung melekat erat, lengket bak lem karet. Anggapan seperti ini nggak salah-salah amat sih. Karena memang banyak faktanya begitu. Coba deh kalo kamu baca di koran or liat di tivi cerita tentang anak jalanan, pastinya nggak jauh-jauh amat dari kasus kriminal; sebagai pelaku atau malah korban tindak kriminal. Sekali lagi ini bukan nuduh, tapi emang begitu kenyataannya. Kasihan memang. Tapi begitulah. Banyak anak jalanan yang sekadar luntang-lantung nggak karuan, yang jadi pengemis, jadi tukang semir, yang jadi pengamen, bahkan masuk jamaahnya Kapak Merah. Menyedihkan.

“Sejarahnya panjang. Awalnya sih setelah gue lulus SMP, ortu gue nggak sanggup lagi buat nyekolahin gue. Terus gue ikut-ikutan tetangga gue yang ngamen di UKI, tapi itu nggak lama. Soalnya waktu itu itu gue ketangkep aparat tramtib dan sempet dibui,” jelas Anto, pemuda berusia 19 tahun yang jadi pengamen di kawasan Kampung Rambutan, Jakarta.

Sebagai anak jalanan, Anto boleh dibilang cukup punya alasan yang lebih masuk akal. Ia terjerumus dan tersesat di sana karena alasan ekonomi. Sangat boleh jadi teman-temannya yang lain punya kisah hidup yang lebih tragis. Misalnya punya trauma masa lalu di rumah dan sekolah. Entah karena berasal dari keluarga broken home, ortu yang nggak peduli sama anak-anaknya, atau guru di sekolah yang galak. Selain itu, mereka tergoda kehidupan jalanan setelah gaul ama temen-temennya yang udah lama hijrah dari anak rumahan ke anak jalanan. Seperti penuturan Pree, salah seorang pengamen di sebuah terminal bis antar kota di Jakarta, “Karena senang main gitar aja. Terus kerasa bebas. Tapi gue juga nggak bohong kalau gue broken home“.

Punya gaya

Sebagaimana sebuah budaya, maka anak jalanan juga punya gaya dan komunitas. Tujuannya, bukan saja sebagai pembeda dengan komunitas yang dominan di masyarakatnya, tapi sekaligus menyiapkan amunisi perjuangan dan perlawanan kepada mainstream (arus utama) budaya yang ada. Tubuh mereka disulap jadi sumber produksi dan aktivitas komunikasi. Maka kamu bisa lihat bagaimana mereka menutupi tubuhnya dengan dandanan ala Bob Marley dan sejenisnya. Jangan heran atau bengong kalo melihat tubuh mereka dipenuhi tatto tertentu sebagai sarana komunikasi di antara mereka dan secara sengaja ingin memberikan kesan bahwa mereka beda dengan komunitas dominan yang ada di sekitarnya. Maka nggak usah kaget kalo mereka banyak yang nongkrong di jalan, main gitar, ngisep ganja, mengenakan pakaian rasta (bercorak merah kuning dan biru) yang katanya pas buat anak jalanan, plus model rambut dreadlocks pula.

Sobat muda, meski mereka banyak yang masih muda usia, tapi mereka mengadopsi bentuk-bentuk kedewasaan sebagai tanda pembangkangan dari harapan-harapan dan norma-norma yang ditentukan oleh masyarakat. Jadi jangan sutris kalo ada anak jalanan yang usianya masih bau kencur alias anak kemarin sore, tapi perilakunya bak orang dewasa. Mereka menghisap rokok (bahkan mungkin narkoba), nenggak minuman keras, hobi judi serta menggemari free sex. Waduh!

“Paling gue nge-boat, nge-gele (ganja), mabok ama togel, dah. Itu sih nggak aneh. Artis aja begitu, kok,” aku Anto sambil membela diri dengan menyebutkan bahwa artis juga ada yang begitu. Wow!

Menyedihkan memang. Tapi itulah faktanya. Meski Anto menolak kalo cap negatif tentang anak jalanan disamaratakan. Menurutnya, nggak semua anak jalanan bejat. Tapi tentunya, kita nggak harus selalu ngukur lewat data statistik. Kenapa? Karena ketika fakta itu sudah ada, maka itulah yang harus mendapat perhatian dan penyelesaiannya. Apa karena sedikit jumlahnya lalu kita tolerir alias dianggap wajar? Nggak kan? Sebab, data statistik sekadar alat ukur untuk mengetahui peringkat yang menunjukkan seberapa parah tingkat kerusakan, atau seberapa bagus tingkat kebaikan. Nggak lebih dari itu. Oke?

Dicurigai, Diintimidasi

Soal anak-anak jalanan yang terlibat kegiatan miring macam terlibat narkoba memang ada. Tapi gara-gara itu pula cap miring terus melekat pada semua anak jalanan. Buahnya, mereka seringkali mengalami perlakuan tidak adil.

“Wajar aja kalau orang bisa berpikiran begitu, tapi menurut saya, nggak semua anak jalanan itu berangasan, bergajulan, pokoknya nggak benar, deh! Buktinya di sini, emang ada yang ‘nggak beres’, tapi ada juga yang sholat, ngaji, pokoknya ada juga yang ‘alim. Jadi nggak bener, deh kalau orang menyamaratakannya,” bela Dholay yang udah lama turun ke jalan. Malah bukan sekali dua kali mereka bikin event yang positif banget, seperti gerakan kebersihan, guntingin rumput di sepanjang trotoar, ngecat zebra cross, sampe pengajian tiap malam Jum’at.

Kecurigaan dan ketidakadilan inilah yang disesalkan oleh Ibu Ida Chrisyanti. Banyak anak-anak jalanan yang mengeluh padanya karena sering mendapat pandangan negatif dari masyarakat. “Padahal kita kan ngamen untuk cari makan,” kata Ibu Ida mengutip perkataan anak-anak jalanan.

Perlakuan kurang manusiawi bukan cuma datang dari masyarakat, tapi juga dari aparat pemerintah. Ini mereka alami bila terjaring operasi penertiban. Tidak sedikit anak-anak jalanan yang mendapat perlakuan kasar seperti pemukulan atau tendangan dari para petugas penertiban. “Kita kan kerja halal, bukan nyuri,” keluh mereka. Itu namanya sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Wah, kalau para penguasa tidak memperhatikan urusan rakyatnya, apalagi malah menzalimi mereka, ini adalah musibah. Entah kapan para remaja jalanan itu bisa merasakan hidup layak seperti remaja-remaja lain.[solihin. Liputan: Munir]

BOX:

Nggak Mau Selamanya di Jalan

Simak harapan-harapoan sebagian anak jalanan yang diwakili Yudi, Buyung, Remond, Dholay, Deni, Amsor, dan Zhaoel, kawan-kawan kita dari KPJ (Kelompok Pengamen Jagorawi), Bogor kepada Munir dari SobatMuda. Simak deh…

Awal kalian terjun jadi anak jalanan?

[Dholay]: Kalau gue awalnya iseng, tapi kelamaan jadi ‘kebutuhan’. Emang sih gue sempat jenuh, kemudian bekerja di sebuah perusahaan. Tapi sayang, nggak lama gue berhenti kerja dan kembali ke jalan.

[Amsor]: Awal saya terjun ke jalan sekitar tahun 1997, tapi lain ngamen, melainkan jualan koran. Saya ikutan ngamen karena awalnya melihat kawan-kawan yang ngamen kelihatannya enak. Selain itu karena memang sejak awal saya sudah hobi musik.

[Zhaoel] Gue ngamen sejak di PHK. Dari pada gue nganggur, lebih baik ke jalan, cari makan di sana.

[Deni] Kalau gue awalnya karena putus sekolah, yaitu sekitar tahun 1999. Nongkrong-nongkrong, dan akhirnya ikut ngamen di sini.

[Yudi] Kalau saya mungkin yang paling beda di sini. Sebelum saya terjun ke jalanan, saya sempat juga nyantri di pesantren. Tapi sayang, setelah saya kembali dari pondok, orang tua saya sudah pindah rumah. Sejak saat itu untuk sementara saya tinggal dengan salah seorang saudara. Tapi itu juga nggak lama, karena tinggal dengan saudara ternyata membawa beban psikologis tersendiri bagi saya. Berbagai omongan yang kurang sedap, dan lain-lain sering muncul. Awal saya ngamen saya diajak sama teman. Awalnya sih saya nggak mau. Tapi lama-kelamaan, daripada saya terus begini, tanpa pekerjaan dan pemasukan, akhirnya saya putuskan untuk ikut ngamen. Itu sekitar tahun 1996. Sempat sih masuk kerja, tapi terus aja, di PHK-ngamen, di PHK-ngamen. Sampai sekarang..

Enak nggak sih jadi anak jalanan?

[Yudi] Menempa diri. Dunia jalanan kan dunia yang keras, jadi kalau sekarang kita hidup di jalan, kita bisa bisa belajar untuk menempa diri.

Berapa pendapatan kalian sehari?

[Dholay] wa..h, nggak tentu. Kadang dua puluh, tiga puluh, sepuluh ribu tapi yang penting bersyukur dan terus berusaha, asalkan halal dan baik!

Katanya ada organisasi pemusik jalanan. Benar nggak, sih?

[Buyung] Kita memang punya organisasi di lingkungan sini, cuma kecil. Tapi meskipun kecil, kami punya organisasi induk yang resmi. Namanya IPJ (Ikatan Pemusik Jalanan) di Bogor yang langsung dibina oleh Bapak Walikota.

Harapan buat Pemimpin yang akan datang?

[Yudi] Kita nggak mau selamanya di jalan, kita pingin punya kerjaan tetap dan pastinya pemimpin yang akan datang lebih memperhatikan kami sebagai anak jalanan.[]

4 thoughts on “Gaya Dan Cap Miring Anak Jalanan

  1. Kalo aku sih, pastinya ngeliat dari tampangnya…makanya jadi terkesan mereka itu nakutin. Yah…ini sih tentunya enggak adil bgt buat mereka.
    tapi biasanya perilaku mereka diasosiasikan dengan tindakan pengrusakan…nah loh…itula yang bikin nambah serem.

    Selama ini sih gue cuman bisa bilang ke diri gue, supaya “enggak make kaca mata kuda, buat ngelihat sesuatu.”

    Dengan ini gue berharap bisa lebih menghargai orang lain tanpa pandang bulu.

  2. entah bawaan dari lahir manusia memang begini atau balik ke individu masing2?? yang jelas,,
    gw udah sering banget KECEWA karna nilai orang dari LUar**bahkan orang yang udah dipercaya sampe TAHUNAN bisa berubah jadi serigala*
    dan sekarang betul2 jadi pelajaran*
    SANGAT *
    ..
    bener2 gak bisa men-JudgE! orang atas seenaknya,apalagi atas pilihannya*
    karna,they knew what they Do*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s