Hukum Bercanda dengan Lawan Jenis

Tanya:

Assalaamu’alaikum.

Ustadz, bagaimana hukumnya bercanda dengan lawan jenis yang bukan mahram? Baik bercanda di dunia nyata maupun di dunia maya seperti lewat e-mail, chatting, atau kirim-kirim SMS?

(Suprayogi, Jakarta)

JAWAB :
‘alaikumussalam,

Canda (gurauan) dalam bahasa Arab disebut mizah atau mumazahah. Al-Jailany dalam Syarah Al-Adabul Mufrad, mendefinisikan canda adalah berbicara secara ramah dan menciptakan kegembiraan terhadap orang lain (Ath-Thahthawi, Senyum dan Tangis Rasulullah, hal. 116). Hukumnya mubah menurut An-Nawawi (An-Nawawi, Al-Adzkar, hal. 279). Dalilnya, hadits dari Abu Hurairah RA, bahwa para shahabat bertanya,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya Anda telah mencandai kami.” Rasulullah SAW menjawab,”Sesungguhnya tidaklah aku berbicara, kecuali yang benar.” (HR. Tirmidzi, Al-Adzkar, hal. 279).

Jadi, bercanda itu hukumnya mubah, asalkan sesuai syariah. Itu secara umum. Lalu, bolehkah bercanda dengan lawan jenis yang bukan mahram? Jawabnya, boleh (mubah) sepanjang sesuai syariah. Dalilnya, karena Rasulullah SAW pernah mencandai seorang gadis yatim di rumah Ummu Sulaim, ibu Anas bin Malik. Rasul berkata kepada gadis yatim itu,”Engkau masih muda, tapi Allah tidak akan membuat keturunanmu nanti tetap muda.” Ummu Sulaim lalu berkata,”Hai Rasulullah, Engkau berdoa kepada Allah bagi anak yatimku, agar Allah tidak membuat keturunannya tetap muda. Demi Allah, ya memang dia tidak muda selama-lamanya.” (HR Ibnu Hibban, dari Anas bin Malik RA) (Ath-Thahthawi, Senyum dan Tangis Rasulullah, hal. 134; Nasy’at Al-Masri, Senyum-Senyum Rasulullah, hal. 65-66).

Jadi, bercanda dengan lawan jenis non mahram, juga mubah berdasarkan dalil di atas. Baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya seperti via e-mail, chatting, atau kirim-kirim SMS. Tetapi, meski mubah secara syar’i, wajib diperhatikan beberapa rambu syariahnya. Di antaranya :

Pertama, materi canda : (1) tidak mengolok-olok/mempermainkan ajaran Islam, (2) tidak menyakiti perasaan, (3) tidak mengandung kebohongan, ghibah (menggunjing), dan kecabulan, (4) tidak melampaui batas, yakni tidak membuat melalaikan kewajiban dan tidak menjerumuskan pada yang haram (‘Aadil bin Muhammad Al-‘Abdul ‘Aali, Pemuda dan Canda, hal. 38-44)

Kedua, suara pihak wanita tidak boleh manja, merayu, mendesah dan semisalnya (jika di dunia nyata), atau tidak boleh menggunakan kalimat yang menggoda, genit, merangsang, dan semisalnya (jika di dunia maya atau SMS)(QS Al-Ahzab : 32).
Ketiga, wajib menutup aurat dan menjaga pandangan (ghadhdhul bashar) (QS An-Nuur : 31), dan tidak boleh khalwat (menyendiri berdua).

Keempat, jika dalam kehidupan umum (seperti kampus), wajib dipenuhi syaratnya : (1) dalam rangka melakukan aktivitas yang dibolehkan syariah (seperti belajar-mengajar), dan (2) interaksi itu mengharuskan pertemuan (ijtima’) antara pria dan wanita. Jika tidak mengharuskan pertemuan –alias bisa dikerjakan masing-masing– maka tidak boleh ada interaksi, sehingga tidak boleh pula ada canda. Misalnya, aktivitas makan-makan di kantin, atau jalan-jalan di mall, rekreasi di pantai, dan sebagainya. Ini semua tidak boleh dilakukan secara bersama antar lawan jenis non mahram, sebab pada dasarnya komunitas pria dan wanita menurut syariah wajib terpisah (infishal). (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham Al-Ijtima’i fi Al-Islam, hal. 40). Jadi, dalam kondisi seperti ini tidak dibenarkan pula adanya canda di antara lawan jenis. Wallahu a’lam[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s