SOS Dari Jalanan

Bernyanyi bukan karena hobi, apalagi ikut kontes idol. Turun ke jalan bukan karena berdemonstrasi, tapi karena kelaparan. Itulah anak-anak jalanan. Benarkah sering mendapat perlakuan tidak adil?

 

Gitar, gendang, kecrekan dari kayu dan tutup botol kaleng, identik dengan anak-anak jalanan. Para pengamen-pengamen muda itu bertebaran di mana-mana. Nggak cuma di perempatan lampu merah atau terminal, tapi juga di kereta listrik macam KRL Jakarta-Bogor.

“Jumlah mereka makin banyak, Mas,” papar Pak Budi seorang pengurus sebuah RPA di Bogor. Mengurus anak-anak jalanan sejak 1991, ia melihat krismon yang terjadi tahun 1998 menjadi salah satu penyebab kian bertambahnya remaja jalanan ini. Hal senada juga diungkapkan Drs. Ida Chrysanti, psikolog pada Biro Konsultasi Remaja & Keluarga (BKRK), jumlah anak-anak jalanan memang makin meruyak.

Kalau kamu termasuk remaja yang doyan jalan-jalan, pasti ngeh kalau jumlah remaja jalanan emang makin banyak. Tengok aja di perempatan jalan, bus-bus, atau kereta, para pengamen muda dan cilik ini hilir mudik. Menurut Ibu Ida salah satu penyebab ‘booming’ anak jalanan adalah makin meluasnya kemiskinan di tanah air. Sementara lapangan kerja masih sulit, cara paling gampang untuk mencari uang adalah ngamen atau jadi pengemis.

 

Faktor Kemiskinan

Kemiskinan memang berefek dahsyat. Menurut Jamil Az Zaini, Direktur … Dompet Dluafa, krisis moneter yang berkembang di tanah air mengakibatkan jumlah penduduk miskin meningkat tajam menjadi 79,4 juta jiwa atau 39,1 % dari jumlah penduduk Indonesia pada tahun 1998 (BPS). Jumlah penganggurannya pun mencapai angka 40 juta jiwa dengan 7 juta penduduk benar-benar tidak punya pekerjaan.

Akhirnya, banyak orang tua yang tidak mampu membiayai kehidupan keluarga. Boro-boro untuk sekolah, untuk makan juga susah. Keadaan ini memaksa sebagian orang tua menyuruh anak-anak mereka untuk turun ke jalan. “Sampai ada anak yang takut pulang ke rumah kalau nggak bawa uang,” kata psikolog Ida Chrysanti. Kenyataan ini juga dibenarkan Pak Budi, pengelola RPA Cempaka Bogor. Tidak sedikit anak asuhnya yang mengamen karena suruhan orang tua. Kalau sudah begini jadi serba salah. Mau disebut eksploitasi pada anak-anak, tapi kenyataannya memang kebutuhan keluarga udah mepet. Susah memang.

Meski sebagian besar teman-teman kita kepepet jadi pemuda pengkolan, tapi nggak ada juga yang juga malah betah. Mereka lebih memilih tinggal di jalanan atau RPA ketimbang pulang ke rumah. Ini bukannya tanpa sebab. Dari hasil temuan tim BKRK ternyata hampir 80 persen anak-anak jalanan melarikan diri dari rumah. “Ini karena pola asuh orang tua yang menggunakan fisik, salah sedikit pukul,” papar Ibu Ida. Kebayang nggak sih, dalam suasana masih ingin main dan mendapat keceriaan layaknya remaja dan anak-anak lain, justru kekerasan yang didapatkan. Jadilah kabur dari rumah.

But, perlakuan kasar para orang tua tersebut ada pangkalnya. Kemiskinan lagi-lagi penyebabnya. Biaya hidup yang makin tinggi sementara penghasilan rendah, bikin orang tua gampang stress. Maka anak-anak pun jadi korban pelampiasan. “Ini sudah menjadi lingkaran setan yang berputar pada kemiskinan sehingga pola asuhnya tidak betul,” kata Ibu Ida prihatin.

Sedihnya, keadaan seperti ini akhirnya menjadi pemutus hubungan antara anak dengan orang tua. “Banyak anak-anak yang malah tidak mau pulang ke rumah, dan tidak merasa kangen dengan orang tua mereka.” Astaghfirullah!

 

Butuh Perlindungan

Banyaknya anak-anak dan remaja yang turun ke jalan jelas bukan perkara yang positif. Iya dong, pasalnya mereka kan kudunya sekolah dan tinggal di rumah bukan klayaban di jalan. Nah, kalau jumlah remaja seperti mereka terus bertambah gimana nasib umat Islam kelak. Pastinya suram.

Apalagi para remaja yang keluyuran di jalan ini kesehatannya nggak terawat dan rentan terkena berbagai tindak kriminal. Mulai dari kekerasan, kasus narkoba sampai pelecehan seksual. Tahun 90-an Jakarta sempat diguncang kasus Robot Gedhek. Pria abnormal ini mensodomi dan membunuh sejumlah pengamen cilik di Jakarta. So, keadaan seperti ini nggak bisa dibiarkan terjadi terus menerus.

Kalo gitu kudu gimana dong? En tanggung jawab siapa?

Dalam negara kapitalis, jaminan hidup buat warga memang urusan pribadi masing-masing. Celakanya, Indonesia memang termasuk negara yang menganut sistem itu. Liat aja, biaya sekolah makin mahal, ongkos berobat juga mahal, sementara anggaran untuk pendidikan kita rendah betul. Kalaupun ada subsidi untuk masyarakat bawah sering terganjal koordinasi dan transparansi yang nggak jelas. Soal semrawutnya koordinasi bantuan pemerintah ini juga diakui oleh Ibu Ida. Dalam masalah pendidikan misalkan, banyak sekolah yang kerepotan menerima permohonan keringanan atau pembebasan iuran sekolah dari para siswa yang tak mampu.

Sedihnya lagi masih sedikit kalangan the have terketuk hatinya untuk menolong sesama. Ya, pola hidup individualisme dan hedonisme yang membudaya di tanah air acap membuat kita lupa untuk menyisihkan sedikit harta guna menolong sesama. Jangan salah, individualisme dan hedonisme adalah anak kandung dari ideologi kapitalisme.

Akhirnya remakja-remaja yang nggak beruntung itu hidupnya amat bergantung pada jiwa sosial para dermawan. Adanya RPA-RPA menjadi salah satu solusi praktis-temporal buat mereka. Di sana mereka mendapatkan perawatan medis, pendidikan agama, aneka ketrampilan, juga perlindungan hukum.

Tapi semata mengandalkan bantuan para dermawan jelas nggak mungkin. Apalagi jumlah anak jalanan semakin banyak dan tersebar di berbagai kota besar di tanah air. Karena itulah yang paling bertanggung jawab terhadap mereka adalah negara. Inilah yang dikehendaki oleh Islam. Sebagai sebuah sistem kehidupan yang komplit, Islam memberikan sejumlah solusi. Beberapa di antaranya:

§ Negara bertanggung jawab

Nabi saw. bersabda”Al Imamu junnah – Pemimpin itu adalah perisai”. Maksudnya, seorang pemimpin itu diangkat untuk memberikan rasa aman dan nyaman buat rakyatnya. Ini bukan cuma janji kosong, suatu ketika Rasulullah saw. pernah bersabda:

“Seorang mukmin yang mati dan meninggalkan hutang atau tanggungan, hendaklah ia datang kepadaku karena aku adalah wali baginya.”

Negara juga wajib membuka lapangan kerja bagi rakyatnya. Pernah seorang laki-laki mendatangi Rasulullah meminta uang. Beliau saw. memberinya dua dirham. “Satu dirham untuk membeli kapak, satu dirham lagi untuk nafkah keluargamu,” sabda Beliau padanya.

Memberantas kemiskinan ini penting. Sampai-sampai Imam Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Kada al-faqru ayya kunnal kufra – Terkadang kemiskinan bisa membuat orang kufur”. Jangan bingung mikirin darimana negara bakal punya uang untuk itu semua. Sumber daya alam negara kita banyak banget, brur! Ada hutan, minyak bumi, emas, nikel, perikanan, dsb.Kalau dikelola dengan amanah dan profesional semuanya bakal jadi tambang uang yang nggak kepalang banyaknya. Sayang, semua dikelola dengan nggak baik atau dinikmati bangsa Asing. Contohnya, oleh PT Newmont di Minahasa atau Freeport McMoran di Irian Jaya.

§ Berantas KKN

KKN itu musuh agama. Ia perbuatan haram yang merugikan banyak orang. Bayangkan, menurut Menkoekuin dan Ketua Bappenas Kwik Kian Gie dalam makalahnya Pemberantasan Korupsi, seandainya korupsi di tanah air pada tahun 2003 dapat diberantas maka total uang yang dapat diselamatkan mencapai 305,3 triliun rupiah! Seandainya hanya 30 persen yang kembali masih didapat dana sebesar 92 triliun rupiah. Jelas nilai yang amat besar. Sebelnya, banyak orang yang tega mengkorupsi JPS (Jaring Pengaman Sosial), beras untuk orang miskin, subsidi minyak tanah, dan uang pendidikan. Duh, tega nian!

§ Tumbuhkan semangat sedekah

Ini juga nggak kalah penting. Seorang muslim kudu sadar kalau ukhuwah Islamiyyah itu wajib dijaga. Hubungan sesama muslim bak tubuh yang satu. Kalau ada yang menderita, yang lain juga kudu merasakan hal yang sama. Berdiam diri menyaksikan penderitaan orang lain jelas bukan perbuatan terpuji. Nabi saw. bersabda:

 

“Bukan seorang mukmin 3X, yang tidur dalam keadaan kekenyangan sedangkan ia tahu tetangganya kelaparan”

Nah, kalau saja itu semua dikerjakan oleh kaum muslimin. Insya Allah, jumlah remaja yang kluyuran di jalanan mencari makan bakal bisa dientaskan. Syaratnya; tegakkan syari’at Islam secara kaffah. Ini sudah dijanjikan oleh Allah SWT. Sayang, kaum muslimin belum banyak yang menyadarinya. [januar]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s