Aku Ingin Pulang

Empat tahun di majelis ilmu, tak membuatku gigih dalam beramal. Sebaliknya, selama tujuh tahun aku mengarungi kehidupan yang jauh dari ajaran Islam.Aku lelah, dan ingin kembali hidup di jalan Islam.

Oh, indah kurasa hidupku saat-saat di bangku SLTA. Tepatnya di sebuah sekolah kejuruan terkenal di Bogor. Sibuk sekolah, belajar, praktikum, ngaji, dan dakwah. Aktivitas dakwah yang padat membuat aku larut dan terkondisi dalam kehidupan islami. Berada di antara teman-teman seperjuangan membuat aku terjaga dari kemaksiatan.

Tapi hidup tak selamanya bisa memilih, setelah 4 tahun bersama dalam satu lingkungan yang kondusif bagi perjuangan Islam, tibalah saat bagi aku dan kawan-kawan untuk menjemput masa depan masing-masing. Kami berpisah dan menjalankan segala rencana dan cita-cita.

Kini kurasakan kesendirian. Sendiri di lingkungan baru. Terasing di bangku kuliah sebuah perguruan tinggi swasta di daerah Serpong. Menjadi asing di tengah-tengah gaya hidup yang jauh dari Islam. Gaya hidup sekuler-kapitalis. Kucoba mencari ruang untuk diri ini, tapi kembali kesendirian menerpaku. Karena perbedaan pemikiran, aku dianggap berbeda meskipun sama-sama membawa ide Islam dan memperjuangkannya, sekalipun itu juga sama-sama bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah.

Dalam kesendirian kucoba bertahan. Satu semester terlewati sudah. Tapi mengapa kehampaan hidup yang semakin kurasakan? Indeks Prestasi kuliahku hancur, aktivitas ngaji dan dakwah berantakan. Tenaga dan pikiran lelah. Seharusnya aku mampu menjalani ini semua. Menghadapinya dan mengunggulinya. Di mana pola pikir dan perasaan Islam yang selama 4 tahun dipupuk dalam diriku? Di mana ruh (idrakshilah billah) itu bersembunyi dalam hatiku? Tidak cukupkah 4 tahun membentukku menjadi seorang pembela Islam sejati? Tidak cukupkah 4 tahun membuatku mampu melalui kesendirian ini? Apa yang salah dalam 4 tahun hidupku ? Ternyata selama 4 tahun kulalui hanya sebagai pengekor, aku bukan benar-benar pengemban dakwah. Segala aktivitas kulalui tanpa ada ruh (idrakshilah billah), aku hanya larut dalam lingkungan tempat aku berada.

Sempat pacaran

Dalam kesendirianku di lingkungan baru, yang serba terasing membuat semangat juangku kian padam. Akhirnya bisa ditebak, aku pun larut dalam kehidupan baruku. Kehidupan sekuler ala barat. Jilbab (pakaian terusan yang menutupi seluruh tubuh mulai leher sampai ujung kaki) kutanggalkan, berganti potongan atas bawah. Campur baur dengan teman laki-laki menjadi rutinitasku. Pola pikir pun jauh dari Islam, apalagi perasaan dan pola sikapku.

Aku mulai menjalani aktivitas pacaran. Aktivitas yang selama 4 tahun aku pahami sebagai aktivitas maksiat. Nyatanya, saat itu aku semakin larut dalam kesesatan. Aku mencintai pacarku di atas segala-galanya. Aku begitu mengagung-agungkannya. Aku hanyut dalam cinta semunya. Hari-hariku hanya sibuk memikirkannya. Sebuah impian indah terangkai di sudut hati, suatu saat aku dan dia akan bersatu dalam bingkai rumah tangga.

Aku punya rencana dan teramat yakin bahwa rencanaku pasti terwujud, tapi Allah pun punya rencana, dan rencana siapakah yang pasti terjadi di bumi milik-Nya? Sungguh Allah Maha Menguasai segalanya. Dia Pemilik segala kerajaan. Dialah sebaik-baik pembuat skenario.

Sepenggal episode pahit kembali hadir dalam kehidupanku, kekecewaan karena sebuah pengkhianatan yang memporak-porandakan segala impian dan rencanaku. Aku kecewa, tercampakkan, dan terpuruk. Aku letih. Lelah menjalani hidup seperti ini. Tujuh tahun hanyut dalam kehidupan ala kapitalis-sekuler. Hidup hanya sekadar perpindahan kesengsaraan, penderitaan, kepahitan dan tentu saja kehinaan yang bertubi-tubi meskipun dari sudut pandang kapitalis-materialistik, aku ‘cukup berhasil’ dalam studi dengan menjadi asisten dosen yang terkenal killer di jurusanku dan setelah lulus kuliah diterima di sebuah perusahaan swasta.

Hidayah itu datang

Sebagaimana kesendirian yang telah mencampakkanku dalam dunia hitam penuh dosa dan menjauhkan aku dari-Nya, maka kesendirian pula yang akhirnya menyadarkanku. Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia berikan cinta-Nya di tengah keterpurukkanku. Dia berikan cahaya-Nya di tengah kegelapan hati dan pikiranku. Ya Allah, aku rindu menjadi hamba yang dekat degan-Mu. Betapa bodoh diri ini dengan meletakkan sejuta harapan kepada seorang makhluk-Mu. Betapa Allah mencintaiku dengan memberikan kesempatan kedua bagiku untuk menjadi hamba-Nya dan aku yakin tidak semua orang seberuntung aku.

Aku pun mulai berbenah diri kuhubungi teman-teman sejatiku yang ternyata mereka senantiasa mendoakanku untuk kembali ke jalan-Nya. Tidak mudah memang, saat aku harus mengubah haluan hidupku. Selalu ada rintangan. Tapi subhanallah, segalanya menjadi mudah. Sebelum melakukan segala sesuatu, aku serahkan segala urusanku kepada Allah Swt. Aku berusaha menghadapinya sekuat tenaga.

Namun, bukan berarti batu ujian berhenti sampai di sini. Saat aku bertekad untuk kembali ke jalan-Nya. Berbagai peristiwa yang berhubungan dengan masa laluku pun kembali hadir untuk menguji sejauh mana keistiqomahanku.

Banyak hikmah dari sepenggal perjalanan hidupku ini. Seorang mukmin adalah orang yang beribadah kepada-Nya dengan taat, tunduk dan patuh hanya kepada-Nya dan senantiasa terikat dengan aturan-Nya. Seorang mukmin adalah orang yang memiliki pemikiran taat dan hanya menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai pemutus segala persoalannya, pada saat yang sama perasaannya ridha dengan penerimaan total penuh kepasrahan kepada ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Pemikiran yang lepas dari perasaan tidak akan pernah menjadi sebuah keyakinan sedangkan perasaan yang lepas dari pemikiran, hanya akan disetir oleh hawa nafsu. Inilah penyebab kegagalan hidupku.

Tidak adanya penyatuan antara pikiran Islam dan perasaan Islam dalam diriku. Sungguh menyatukan pikiran dan perasaan harus dilakukan dalam setiap perbuatan kita atau segalanya akan menjadi berantakan dan berakhir dengan kekecewaan. Bukan hanya pemahaman yang mesti sesuai dengan Islam, perasaan ridha dan bencipun harus diikat oleh Islam. Dengan menyatukan pikiran dan perasaan atas dasar Islam berarti kita telah menanamkan Islam dalam diri kita.

Pesanku pada pembaca, jangan pernah malas untuk senantiasa mengisi pikiran kita dengan tsaqofah Islam secara mendalam dengan pemahaman yang benar yang akan menghasilkan sebuah keyakinan dan menjadi pegangan hidup serta tolok ukur benar-salah, baik-buruk, terpuji-tercela. Senantiasa hadirkan ruh (idrakshilah billah-adanya hubungan dengan Allah, red.) dalam setiap perbuatan dan aktivitas dakwah kita sehingga menyatu antara pikiran Islam dan perasaan Islam. [seperti penuturan Ridha Shaadiqín kepada Sarahita]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s