Mencetak Idola

Akhirnya Joy Destiny Tobing terpilih sebagai Indonesian Idol untuk first session. Cewek Medan ini dinobatkan sebagai ‘idola’ Indonesia baru versi Indonesian Idol tentunya. Uang, Toyota Vios, kontrak rekaman dengan BMG Record, dan show ada di depan gadis berusia 24 tahun ini.

Tapi kalau membahas kualitas suara-nya Joy, atau kerennya tampang Delon, mungkin sudah kesiangan. Basi. Yang menarik adalah tayangan itu disebut-sebut sebagai reality show tersukses di tanah air. Delapan ribu pasang mata menyaksikannya secara langsung di gedung Istora Senayan, dan 4 juta pesan singkat (SMS) masuk ke panitia. Entah berapa juta pasang mata yang menyaksikannya lewat layar kaca. Spektakuler. Gambaran betapa rakyat Indonesia – terutama kaum mudanya – haus akan idola dan hiburan. Selain AFI dan Indonesian Idol, bermunculanlah tayangan ‘idol-idol’ yang lain seperti Cantik Indonesia, Ajang Ajeng, Indonesian Model, dan KDI. Kita begitu sabar tapi juga gemes menyaksikan proses kelahiran seorang idola. Minggu ke minggu penonton menatap pada tayangan-tayangan itu, menunggu lahirnya seorang idola untuk dipuja. Kita yang mencetak idola, kita juga yang memujanya.

Tanpa sadar, bukan cuma waktu yang kita korbankan demi kelahiran sang idola, tapi juga uang. Entah berapa belas juta SMS yang dikirim pemirsa dan telepon yang masuk untuk tayangan-tayangan macam itu. Semuanya menggunakan premium call. Kalau malam grand final Indonesian Idol bisa mengundang 4 juta SMS, dan seandainya per-sms tarifnya 2000 rupiah, berarti Rp 8 miliar uang dikeluarkan pemirsa demi kemenangan sang idola.

Tapi hal yang termahal yang telah kita berikan untuk ‘idola-idola’ itu adalah emosi kita. Gemes, sedih, terharu, dan kebahagiaan pemirsa tumpah untuk sang idola. Apakah setelah itu ada keuntungan yang diperoleh, banyak orang yang tidak mau tahu. Tayangan-tayangan itu sukses mempermainkan perasaan jutaan orang di tanah air.

Mungkin itu tidak menjadi masalah buat kita yang memang haus akan idola. Kita siap menanti lagi siapa idola berikutnya. Kita juga siap untuk mengocok emosi kita sendiri dengan tayangan-tayangan itu. Seperti adagium demokrasi; dari kita, oleh kita, (tapi benarkah) untuk kita? Ya, karena yang menikmati kemenangan itu pastinya adalah sang juara dan panitia penyelenggara. Miliaran rupiah pasti direguk oleh penyelenggara. Jadi juaranya adalah penyelenggara.

Setelah tayangan-tayangan idola itu, entah akan muncul tayangan apa lagi. Beberapa waktu lalu sudah terdengar akan ada kontes idola bagi remaja yang jago nasyid, hanya belum terlaksana. Bisa jadi Musabaqah Tilawatil Qur’an juga akan digelar mengikuti pola ‘idol-idol’ itu. Ada audisi oleh dewan juri, lalu televoting untuk memilih qari’ dan qari’ah terbaik oleh pemirsa. Siapa tahu?

Kalau itu terjadi, sebenarnya hanyalah menguatkan sebuah kenyataan bahwa umat Islam mengalami krisis idola. Bukan saja remaja, tapi juga mereka yang dewasa. Hingga kita sendirilah yang harus mencetak sang idola. Apakah memang di dunia ini tidak ada lagi orang yang pantas dijadikan idola?[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s