Ngerumpi Emang Asyik, Tapi…

Cewek doyan ngerumpi? Kayaknya nggak salah-salah amat tuh. Ibaratnya udah jadi menu sehari-hari. Mulai urusan pelajaran, urusan pertemanan, musik, sinetron, artis, ampe ortu dan guru jadi bahan rumpian. Keterlaluan memang.

Simak aja komentar Elin, pelajar di Bogor ini. Saat ditanya topik apa aja yang biasanya jadi bahan rumpian, doi langsung nyeletuk ‘’Ya temen, pelajaran, guru dan juga soal hobi.”

Selain jam istirahat sekolah, pulang sekolah, sebelum bel masuk, atau jam pelajaran kosong jadi ajang rumpian paling mengasyikkan. ‘’Kalo jam pelajaran kosong, rame deh ngerumpinya. Abisnya, daripada cengok dua jam pelajaran, bete kan,” kilahnya. Emang, biasanya guru yang mangkir kasih tugas saat jam pelajaran kosong. Tapi tetep aja lebih asyik ngerumpi daripada ngerjain tugas. ‘’Kecuali tugasnya kudu diukumpulin, baru kita serius,” ujarnya.

Bahan rumpian Elin banyak. Mulai dari artis, film, juga temen-temennya sendiri. ‘’Kadang ortu atau guru juga kita rumpiin. Apa aja deh,” katanya. Pokoknya, nggak ada istilah kehabisan bahan rumpian deh.

Beda ama Rini, mahasiswi yang indekos ini nggak begitu sering ngobrol ampe lama. ‘’Kalau ketemu temen ya ngobrol biasa aja, nggak sampai yang ngerumpi heboh gitu deh,” katanya. Paling-paling di tempat kos cuma ngobrolin soal kuliah, kegiatan kampus atau tetek-bengek urusan kos. Kalau ngerumpiin temen, dosen atau artis jarang. ‘’Wah, udah nggak sempetlah ngobrolin kayak gitu. Buang-buang waktu,” cetus aktivis kampus ini. Malah obrolan yang sering muncul kalau ketemu sesama aktivis lebih mengarah pada soal perpolitikan. Maklumlah, mahasiswa, obrolannya lebih ‘berat’ dong.

Lidya, karyawan swasta di Bogor lain lagi. Karena kerja, tentu bahan rumpiannya juga beda. Misal seputar kerjaan, temen kerja, bos, atau soal gaji. ‘’Kadang kan di kerjaan banyak masalah. Misal nggak cocok ama temen A atau abis diomelin bos, ya udah jadi deh bahan rumpian,” katanya. Tapi nggak jarang juga mereka ngobrolin hal-hal ringan kayak soal artis, gosip, dan tetek bengek dunia wanita. Misal soal diet, kosmetik, fashion, dll.

Awas ghibah!

Emang, ngobrol atau ngerumpi udah jadi bagian dari aktivitas kehidupan kita sehari-hari. Apa jadinya kalau antara sesama manusia nggak saling ngobrol, wah…dunia sepi kayak kuburan dong. So, boleh-boleh aja kita ngobrol. Malah itu wajar dan perlu. Apalagi kaum hawa, kalo udah ngumpul jarang banget majelis itu selamat dari membicarakan aib orang lain. Apakah itu teman, tetangga, guru di sekolah, sodara, atau bahkan orang tua sendiri tidak luput dari pembicaraan. Ditambah kehadiran setan yang datang mengibasi, terasa nggak habis-habis deh bahan obrolannya.

Ironisnya, perbuatan ghibah ini nggak hanya dilakukan orang yang awam soal agama, bahkan juga menimpa Muslimah yang telah mengerti tentang hukum-hukum Islam. Di tempat pengajian mereka mendapat wejangan untuk berhati-hati dari membicarakan aib saudaranya sesama Muslim, mereka diberi peringatan dan ancaman untuk menjaga lisan. Namun ketika keluar dari tempat pengajian mereka tenggelam dalam perbuatan ini dengan sadar ataupun tanpa sadar. Dan memang setan begitu bersemangat untuk menyesatkan anak Adam.

Makanya, kamu kudu ingat firman Allah Ta’ala yang artinya: “Dan janganlah sebagian kalian mengghibah sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentunya kalian tidak menyukainya (merasa jijik). Dan bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Hujurat: 12)

Bayangin, orang yang ngeghibah ibarat makan daging saudaranya sendiri. Hiii…jijay kan. Nah, kategori ghibah ini seperti yang dijelaskan Ibnu Katsir yang membawakan sanadnya kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam apa yang dimaksud dengan ghibah. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab: “Engkau menyebut tentang saudaramu dengan apa yang ia tidak sukai.” Lalu ditanyakan lagi: “Apa pendapatmu, wahai Rasulullah, jika memang perkara yang kukatakan itu ada pada saudaraku?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab: “Jika memang perkara yang kau katakan itu ada padanya maka sungguh engkau telah mengghibahnya dan jika perkara yang yang kau katakan itu tidak ada padanya maka sungguh engkau telah berdusta.” (Tafsir Ibnu Katsir. Jilid 4 halaman 272. Darul Faiha dan Darus Salam).

So girl, kalaupun kita ngobrolin kejelekan yang ada pada orang dan memang itu faktanya, itulah yang disebut ghibah. Justru kalo kita ngobrolin yang nggak ada faktanya, itu namanya fitnah. En dua-duanya haram!

Haram lho…

Bagaimana kalo kita cuma jadi pendengar di forum ghibah? Sami mawon alias sama aja haramnya. Al Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar: “Ketahuilah sebagaimana ghibah itu diharamkan bagi pelakunya, diharamkan pula bagi pendengar untuk mendengarkannya. Maka wajib bagi orang yang mendengar seseorang ingin berbuat ghibah untuk melarangnya apabila ia tidak mengkhawatirkan terjadinya mudlarat. Apabila ia khawatir terjadi mudlarat maka hendaknya ia mengingkarinya dengan hatinya dan meninggalkan majelis itu bila memungkinkan.”

Jadi, kalo kamu kebetulan berada di forum gosip, mendingan kamu cabut deh. Kecuali kamu berani ngingetin temen-temen kamu agar stop bergosip, atau kamu bisa belokin pembicaraan mereka.

An-Nawawi juga mengingatkan, kalo seseorang terpaksa berada di majelis ghibah, sementara ia tidak mampu untuk mengingkarinya atau ia mengingkari namun ditolak dan ia tidak mendapatkan jalan untuk meninggalkan majelis tersebut, maka haram baginya untuk bersengaja mencurahkan pendengaran dan perhatian pada ghibah yang diucapkan. Namun hendaknya ia berdzikir kepada Allah dengan lisan dan hatinya, atau dengan hatinya saja, atau ia memikirkan perkara lain agar ia tersibukkan dari mendengarkan ghibah tersebut. Setelah itu apabila ia menemukan jalan untuk keluar dari majelis itu sementara mereka yang hadir terus tenggelam dalam ghibah, maka wajib baginya untuk meninggalkan tempat itu. (Dinukil dari Bahjatun Nadhirin 3/29-30).

Nah, kalo kita udah kadung jadi penggosip selama ini, nggak ada kata terlambat untuk bertobat. Daripada ngobrolin kejelekan orang laen, mending sibukkan diri dengan mencermati aib/kekurangan diri kita sendiri. Rasulullah saw bersabda, ‘’Dan barangsiapa sibuk dengan aibnya sendiri dan tidak mengorek aib orang lain, bahkan ia menjunjung kehormatan orang lain, maka sungguh ia telah mengenakan salah satu dari perhiasan akhlak yang mulia.”

So gues, hati-hati deh jaga lidah. Emang betul kata pepatah, lidah itu nggak bertulang. Mudah dibelak-belokkan hingga menggelincirkan kita dalam malapetaka. Makanya, camkan benar-benar: ‘’Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS al-Isra’ [17] : 36) [kholidah]

///Boks/

Batasan Ghibah

Gosip, makin digosok makin siiiip. Makanya, biasanya kita-kita pada nggak sadar, kalo udah ngerumpi, apapun jadi bahan gunjingan yang akhirnya terjerumus dalam ghibah. BTW, nggak semua obrolan masuk kategori ghibah, lho. Al Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Riyadlus Shalihin menyebutkan beberapa perkara yang dikecualikan dari ghibah, yakni:

1. Mengadukan kedhaliman seseorang kepada penguasa atau hakim atau orang yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan kedhaliman tersebut. Jadi, kalo kamu ngadu ke nyokap karena temen kamu ada yang usil, itu seh no broblem.

2. Meminta tolong kepada orang yang memiliki kemampuan untuk merubah kemungkaran dan mengembalikan pelaku maksiat kepada kebenaran. Misal kamu ngelihat temen kamu lagi pacaran di sekolah, trus kamu gak berani negur. Nah, boleh aja kamu meminta tolong ke guru kamu dengan menceritakan ulah tak senonoh temen kamu itu. Biar gurumu aja yang negur.

3. Mengadukan seseorang dalam rangka meminta fatwa kepada mufti. Ini pernah dicontohkan sahabiyah Hindun ketika mengadukan suaminya Abu Sufyan yang kikir kepada Rasulullah saw..

4. Dalam rangka memperingatkan kaum Muslimin dari kejelekan dan menasehati mereka. Hal ini dari beberapa sisi, di antaranya:

a. Menyebutkan kejelekan para perawi hadits, misalnya dikatakan: Si Fulan rawi yang dusta, dlaif.

b. Ketika diminta pendapat (diajak musyawarah) misal waktu nanya calon suami/istri, atau yang lainnya. Maka wajib bagi yang diajak musyawarah untuk tidak menyembunyikan kejelekan yang diketahuinya dengan meniatkan nasihat. Sebagaimana hal ini dicontohkan oleh Rasulullah saw. ketika dimintai pendapat oleh Fathimah binti Qais radhiallahu ‘anha dalam menentukan pilihan antara menerima pinangan Muawiyyah atau Abu Jahm radhiallahu ‘anhuma.

c. Memberikan kabar tentang orang yang dikhawatirkan membahayakan orang lain seperti, ahli bid’ah, penjahat, dsb.

5. Menyebutkan kejelekan orang yang terang-terangan berbuat maksiat atau bid’ah seperti minum khamar, merampas harta orang lain, dan lain-lain.

6. Menyebut seseorang dengan gelaran/perkara yang dia terkenal/masyhur dengannya, misalnya: Si buta, si unyil, si hitam, dan lain-lain.

Nah, udah jelas kan Non. Kalau kita mau ngobrol, pilih-pilih topiknya dan kudu hati-hati. Salah-salah lidah keseleo, bisa berabe.[kholidah]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s