Dilema Pendidikan Indonesia

hermin-syahri-m.jpgOleh: Syahri Mahmud

[Staf Pengajar di sebuah SMU]

Dalam sejarah kehidupan kita, sebelum mengenal filsafat dan ilmu pengetahuan, keyakinan (agama) adalah satu-satunya standar penentu baik dan buruk. Sesuatu yang sesuai dengan agama akan dinilai baik. Demikian juga sebaliknya, nilai buruk akan diberikan apabila sesuatu itu bertentangan dengan agama. Memang seperti itulah seharusnya yang terjadi, karena Tuhan menciptakan kita tentu penuh rasa tanggungjawab dengan tidak membiarkan ciptaan-Nya hidup tanpa aturan. Bentuk lanjutan tanggungjawab Tuhan ini adalah adanya penilaian bagi kita nanti di akhirat sebagai penentu apakah akan mendapatkan reward atau punishment yang berwujud surga dan neraka. Dengan demikian logika ringan akan memberikan kesimpulan bahwa untuk mendapatkan reward atau surga dari Tuhan adalah dengan menyesuaikan akal dan hawa nafsu kita dengan aturan agama.

Namun amat disayangkan ketika kita melihat perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan telah menggantikan posisi agama (Islam) sebagai standar kehidupan. Dengan menggunakan akidah pemisahan agama dari kehidupan atau yang lebih kita kenal dengan ideologi kapitalisme-demokrasi, kehidupan kita menjadi sangat jauh dari aturan agama. Agama hanya diposisikan dalam kehidupan pribadi yang ada di tempat-tempat ibadah. Akibat yang kita rasakan adalah munculnya banyak permasalahan yang tidak teratasi, dari mulai permasalahan rumah tangga, pergaulan sampai permasalahan sosial budaya, pendidikan, ekonomi bahkan politik dan pemerintahan.

Dikotomi pendidikan

Pertanyaannya kenapa kita menempatkan filsafat dan ilmu pengetahuan lebih tinggi dari agama? Jawabannya tentu karena kita tidak mengetahui dan mendalami agama dan lebih mengejar filsafat dan ilmu pengetahuan. Kita bisa menyaksikan fenomena ini di lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah dimana pelajaran agama hanya mendapat porsi dua jam dalam satu minggu. Ditambah lagi dengan paradigma pendidikan batil yang hanya mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa sehingga melahirkan ijazah oriented, tanpa memperhatikan apakah pengetahuan dan agama yang diajarkan kepada siswa tersebut dilaksanakan atau tidak. Sebagai contoh, tidak sedikit siswa yang nilai ujian pelajaran agamanya tinggi tetapi penampilan dan tingkah laku siswa yang bersangkutan justru sangat jauh dari agama.

Untuk kasus Indonesia, sebuah negeri yang didiami oleh mayoritas beragama Islam ini, sangat tidak mengherankan kemudian banyak siswa yang mengalami kehampaan nur yang diwujudkan dengan menjadi konsumen narkoba, pelaku sex bebas, menjadi kesatria baju putih dalam tawuran, dan sebagainya. Tentu ini bukan semata-mata kesalahan siswanya. Lihatlah tingkah laku guru yang tidak kalah “sadis” dengan membiarkan siswinya menggunakan rok pendek dan sengaja disuruh duduk paling depan atau memberikan sanksi yang tidak senonoh, bahkan banyak guru olah raga yang mengharuskan praktek renang dengan pakaian bikini, dan lihat jugalah “kebejatan” orang tua yang marah-marah kepada pihak sekolah ketika dipanggil karena anaknya sering melanggar peraturan sekolah.

Dan tentunya yang lebih membuat bulu jenggot merinding (bukannya bulu kuduk?) adalah karena hal ini tidak hanya menimpa sekolah-sekolah umum tetapi juga dialami oleh sekolah yang berlabel Islam.

Jika demikian adanya, bayangan apa yang ada di benak kita tentang masa depan kehidupan Islam selanjutnya? Masih bisakah kita berharap bahwa lima atau sepuluh tahun yang akan datang nur Islam telah menyelimuti semesta? Beranikah kita memberikan garansi bahwa agama tidak akan lagi terpisah dengan kehidupan? Mustahil! Itulah jawaban orang-orang yang bersikap skeptis dan pesimis. Usaha ke arah sana adalah usaha yang sia-sia. Ia hanyalah impian yang tidak akan terwujud, utopis!

Jawaban kaum skeptis itu tidaklah salah kalau kita hanya mengharapkan perubahan dari dunia pendidikan semata. Karena bagaimanapun itu hanyalah sebuah permasalahan yang muncul dari sebuah sistem kehidupan. Perubahan secara parsial hanya akan menimbulkan permasalahan turunan yang tidak kalah bahayanya. Oleh karena itu Allah Swt telah mengingatkan kepada kita untuk menjalankan sistem Islam itu secara keseluruhan dan bukan sebagian-sebagian (parsial). Untuk mengawali solusi menuju sebuah akhir yang sesuai dengan apa yang diwajibkan Allah Swt yaitu diterapkannya sistem kehidupan Islam secara keseluruhan, bisa diawali dengan pendidikan dalam keluarga. Keluarga sebagai sebuah lembaga sosialisasi pertama dan utama memberikan pemahaman aqidah serta membentuk dasar-dasar kepribadian Islam kepada anggotanya.

Selanjutnya tentu lembaga pendidikan atau sekolah harus menjalankan metode pendidikan dan pengajaran yang islami. Ia tidak hanya berperan memberikan pengetahuan umum kepada siswanya tetapi juga membentuk kepribadian yang islami sehingga misi dan visi sebuah lembaga pendidikan yang ideal yaitu menciptakan alumni yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki akhlakul karimah dapat terwujud. Tidak cukup hanya dari keluarga dan sekolah, lingkungan atau masyarakat pun amat menentukan berhasil tidaknya kita menjadikan masyarakat islami, yaitu masyarakat yang menjalankan sistem kehidupan Islam. Dan tentu yang paling menentukan adalah institusi negara yang menerapkan aturan Islam. Tanpa itu semua utopis adalah jawaban yang sangat dibenarkan kaum skeptis.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s