Ketika Pemimpin Arab Bungkam

Najaf sempat membara. Makam Imam Ali jadi basis pertahanan milisi Muqtada al-Sadr melawan imperialis AS. Kenapa para pemimpin Arab bungkam?

Sungguh besar karunia yang telah Allah curahkan kaum muslimin. Allah memberi kaum muslimin kelebihan yang tidak diberikan kepada ummat lain. Allah menghadiahkan daratan dan lautan yang begitu luas, beserta kekayaan yang menggiurkan ummat lain untuk memilikinya. Allah juga telah menempatkan kaum muslimin pada posisi yang sangat strategis di permukaan bumi ini. Kemudian Allah menurunkan risalah, jalan hidup, ideologi yang tak tertandingi kepada kaum muslimin, Islam. Karenanya manusia dari berbagai bangsa, bahasa dan warna kulit dapat bersatu dalam satu ikatan aqidah Islamiayah. Dengan akidah itu pula Allah memanggil kita dengan panggilan indah “Muslimin”. Benar itu adalah modal yang sangat besar. Andaikata kaum muslimin mampu mengelola kelebihan yang telah Allah limpahkan, bukan suatu hal yang mustahil jika kaum muslimin mampu menaklukkan dunia. Mengibarkan panji Islam Al-Liwa’ dan Ar-Roya diseluruh permukaan bumi, dan memenuhi udara dengan kumandang takbir.

Tetapi aneh!! Sampai hari ini bukan kaum muslimin yang memimpin dunia, tetapi orang-orang kafirlah yang mencengkeram dunia. Bukan kaum muslimin yang menjadi subyek, justru sebaliknya, sebagi obyek perebutan bangsa dan ummat lain. Bukan suara takbir yang berkumandang, tetapi lagu-lagu dan suara-suara sumbang kekufuran. Bukan panji-panji Islam yang berkibar, tetapi panji-panji sekuler yang tegak menantang, sembari tersenyum sinis kepada ajaran Rasulullah SAW, seakan ingin mengatakan bahwa dendam mereka di masa lalu terbayar lunas.

Barat, setelah merampas wilayah kekuasaan kaum muslimin, menyeret Daulah khilafah ke dalam kancah peperangan, kemudian meruntuhkan dan membagi-bagi wilayahnya. Sejak saat itulah kaum muslimin berada dibawah cenkeraman kuku kekuasaan kaum sekular. Imperialisme itu terus berlangsung hingga kini, meskipun penjajah telah angkat kaki dari bumi kaum muslimin. Sebagian kaum muslimin yang telah sadar akan jati diri, kehormatan dan bartabat sebagai ummat yang terbaik, tergerak untuk memulihkan kemuliaanya. Namun sayangnya, geliat kebangkitan ummat itu tidak direspon oleh pemimpin pemimpin ummat. Justru sebaliknya mereka bergandeng tangan dengan penjajah hanya demi kesenangan duniawi sesaat. Persekongkolan dengan kaum kafir terlihat jelas, bahkan dalam setiap permasalahan.

Hanya Seruan

Najaf, menjadi saksi bisu atas penkhianatan pemimpin ummat kepada kaum muslimin. Pejuang Al Mahdi dibawah pimpinan Muqtada Al Sadr, bertempur melawan tentara AS demi mempertahankan harga diri kaum muslimin dan menjaga kehormatan makam Imam Ali ra, menantu sekaligus sepupu Rasulullah. Tetapi kegigihan perlawanan brigade al mahdi tersebut, belum mampu menggerakan pemimpin ummat khususnya pemimpin Arab, untuk bertindak secara nyata. Tindakan pemimpin Arab seperti kaset yang diputar berulang-ulang. Para tuan besar di gurun pasir itu hanya bisa berkomentar dan menghimbau. Sebutlah Jenderal Amir Musa, Sekretaris Liga Arab, hanya bisa berkata “Penyerangan tempat suci di Najaf akan menimbulkan konsekuensi yang serius”. Sementara itu 22 pemimpin anggota pan Arab hanya bisa menyerukan agar semua fihak yang sedang bertempur untuk menghetikan pertempuran di sepanjang jalan menuju Najaf, agar memudahkan evakuasi korban yang terluka. Sedangkan Mesir melalui menteri luar negeri Ahmed Abul Gheit, meminta agar semua fihak yang sedang bertikai meredakan ketegangan.

Tak satupun pemimpin Arab yang berani mengambil tindakan nyata, untuk menghentikan aksi brutal tentara AS, lebih-lebih menghentikan pendudukan AS di Irak. Tidak juga Khatami, pemimpin Iran, yang mayoritas penduduknya syi’ah. Kalaupun ada yang membantu, itupun hanya rakyatnya saja, sebagai bentuk solidaritas sesama syi’ah. Pemimpin Islam Syiah terpenting di Irak, Ayatollah Akbar Ali Sistani, malah menyeru kepada Muqtada Al Sadr untuk menghentikan perlawanan dan bergabung dengan pemerintahan boneka buatan Amerika. Padahal konon setiap shalat Jum’at di mesjid-mesjid Iran selalu dikumandangkan seruang “Ganyang Israel, ganyang Amerika!”. Jika demikian kenyataanya, lantas dimana kepedulian pemimpin Arab dan pemimpin kaum muslimin yang lain terhadap sudaranya? Padahal Allah telah memberikan mereka kekausaan juga kemampuan untuk mengerahkan tentara dan menyerukan jihad membantu kaum muslimin, mengusir imperialis.

Kepengecutan pemimpin Arab sudah terlihat pada awal invasi AS ke Irak beberapa waktu lalu. Pernyataan dan tindakan yang diambil para tokoh berjubah anggun itu, menunjukan ketakutannya terhadap AS. Abdullah raja Jordania misalnya, meski mengatakan “Perang terhadap Irak akan menimbulkan malapetaka bagi kawasan tersebut, juga akan mengancam stabilitas dan keamanan seluruh kawasan Timur Tengah“, tetapi Abdullah enggan bertindak lebih, apalagi mengerahkan tentaranya. Eric S. Margolis, jurnalis CNN menggambarkan sikap pemimpin Arab, dalam sebuah artikel : The Arab World On Its Knees, bahwa kelemahan dan kepatuhan dunia Arab terhadap Barat, bukan hanya sekedar bukti bahwa mereka bekerjasama dengan Bush. Meskipun mereka menentang serangan AS ke Irak, rejim yang mempercayakan keselamatan rakyatnya kepada AS tersebut sedang menggali liang kubur Irak. Lebih jauh dia menambahkan bahwa meskipun pemimpin Arab mengetahui bahwa AS dan Inggris akan menyerang Irak, tetapi mereka tidak suka mendukung Saddam dan mengambil resiko masuk daftar serang AS. Sementara kaum muslimin di Irak bersiap menjemput maut, Kuwait justru memberikan wilayah dan fasilitasnya bagi militer AS dan Inggris unutk menggempur Irak, plus suplai minyak untuk peraltan militer mereka. Bahkan petinggi Kuwait itu menyambut utusan AS dengan menggelar karpet merah, layaknya tamu angung.

Bukan kali pertama pemimpin Arab dan pemimpin muslim lain bersikap mendua. Najaf di Irak hanyalah salah satu dari sekian saksi bisu kemunafikan para pemimpin dunia Islam. Jatuhnya Palestina ke tangan Israel tidak lepas dari peran pemimpin Arab. Mitchell Bard, Ph.D dalam bukunya yang berjudul The Complete Idiot’s Guide to the Middle East Conflict, menyatakan Anwar Sadat dalam perjanjian Camp David 17 September 1978, menyetujui Jalur Gaza dan Tepi Barat akan diberi otonomi dibawah kekuasaan Israel, sementara negoisasi akan dimulai lagi untuk menentukan status finalnya.. Dalam berbagai peristiwa kekerasan yang dilakukan Israel terhadap palestina, mereka tidak berbuat lain, kecuali mengecam dengan keras. Padahal semua orang tahu persis, bahwa Israel tidak mengenal bahasa perdamaian atau kecaman, karena Israel hanya mengenal bahasa perang. Jalan satu-satunya menyelessikan konflik itu adalah mengusir Israel dari palestina. Bukan perkara yang sulit mengusir Israel dari bumi Pelestina, jika mereka mau.

Lebih menyakitkan lagi, mereka memanfaatkan konflik hanya untuk menaikkan pamor pribadi, baik di kalangan rakyatnya maupun di seluruh kawasan Timur Tengah. Raja Fahd misalnya, dengan bangga mengatakan “Kerajaan Arab Saudi memberikan dukungan penuh untuk mengakhiri konflik Arab-Israel dan mewujudkan penyelesain menyeluruh bagi Palestina, menegakkan keadilan dan mengembalikan legitimasi hak serta meletakkan landasan perdamaian, keamanan dan stabilitas yang permanen“. Sementara tentaranya menjadi bosan tidur di barak dan peralatan militernya berkarat.. Sikap yang sama diambil oleh pemimpin kaum muslimin Arab dan pemimpin-pemimpin kaum muslimin lainya terhadap peristiwa Afganistan, Kashmir, Sudan, Somalia, dan terhadap seluruh kejadian yang menimpa dunia Islam.

Loyalis Barat

Wajar, jika para pemimpin itu rela berkhianat kepada kaum muslimin. Sejatinya bukan kaum muslimin yang mengangkat mereka menjadi pemimpin, tetapi Baratlah yang mendudukkan mereka di singgasana. Baratlah yang memakaikan mereka jubah kebesaran, memanjakan mereka dengan berbagai kesenangan dunia. Inggris dan sekutunyalah yang membiayai dan mempersenjatai pendahulu mereka mendirikan negara di Timur Tengah. Dengan bantuan Inggris dan sekutunya,, mereka melawan kekuasaan Turki Utsmani, kemudian melepaskan diri dari kesatuan wilayah Daulah Khilafah. Barat mengontrol dan menjaganya agar tetap loyal, dengan maksud agar dapat terus menancapkan imperialisme di seluruh dunia Islam.

Inggris, kemudian AS juga para sekutunya, tak segan-segan menjatuhkan pemimpin yang membangkang. Raja Arab Saudi, Faisal, ketika mulai berani menantang keinginan AS, akhirnya harus menemui ajal di tangan keponakanya sendiri. Meskipun telah diketahui pembunuhnya, tetapi masyarakat dan para pengamat yakin bahwa otak dibalik pembunuhan itu adalah AS. Soekarno, ketika pandang membahayakan dominasi kapitalis di Asia Tenggara, jatuh setelah meletus peristiwa 65. Demikian juga rejim pengantinya, Soeharto. Aksi serupa juga terjadi di Pakistan dan negara-negara di Afrika. Jika cara tersebut tidak berhasil, mereka tidak malu mengerahkan kekuatan militernya, meski seluruh dunia mengecamnya., seperti Afghanistan dan Irak. Sudah bisa diprediksi, jika pemerintahan baru di kedua negara tersebut loyal kepada AS.

Para pemimpin itu takut jika AS dan sekutunya merampas kekuasannya, yang berarti menjerumuskan kereka ke dalam kesengsaraan. Untuk itulah mereka patuh, meski harus mengorbankan harga diri dan kaum muslimin. Terbuktilah apa yang disabdakan Rasullullah yang mulia bahwa kaum muslimin suatu ketika akan seperti makanan yang jadi rebutan, bukan karena jumlah yang sedikit tetapi karena sudah terjangkiti penyakit cinta dunia dan takut mati. Ya Allah……. sampai kapan engkau akan membiarkan kaum muslimin hidup tanpa pemimpin yang engkau ridhloi, sampai kapan kami harus menunggu pemimpin sekaliber Khulafaur Rasyidin, Umar bin Abdul Aziz, Harun al-Rasyid atau al-Mu’tasim di zaman ini? Wallahu’alam bishowab [D. Saputra]

2 thoughts on “Ketika Pemimpin Arab Bungkam

  1. tunggulah sampai waktunya ALLAH SWT akan memunculkan IMAM MAHDI yang asli. Beliau akan menghancur luluh lantakan kaum kafir dan fasik serta munafik dari muka bumi. sementara bersabarlah dan bimbing orang terdekat kita dengan Islam dan iman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s