Bermusik Menggapai Mimpi

Lahirnya ratusan grup band, juga bermunculannya penyanyi dari ajang AFI, Indonesian Idol, KDI, bahkan kini ada Festival Nasyid Indonesia, menjadikan jalur seni sebagai kendaraan menuju puncak impian: ngetop dan tajir. Wajar atau justru memprihatinkan?

Pop Idol telah memberiku kepercayaan untuk mengejar karir dan industri musik. Aku benar-benar berterima kasih bisa ikut dalam lomba itu. Mimpiku untuk menjadi tenar kesampaian,” demikian kata Gareth Gates. Cowok usia 18 tahun asal Bradford, U.K. ini ngedadak jadi ngetop setelah ikutan ajang Pop Idol.

Gareth Gates boleh aja bangga, maklumlah rasa-rasanya dulu mungkin mimpi kali ye bisa jadi idola. Sebab, Gates sendiri sebelumnya gagap, eh, malah jadi penyanyi beken. Debutnya yang melejitkan hits Anyone Of Us ini udah nembus plakat Gold! Terus, setelah melempar single daur ulang Unchainned Melody, nih cowok makin melesat dengan albumnya, What My Heart Wants To Say. Di Indonesia, album ini malah udah berhak meraih plakat Gold karena udah laku di atas 35 ribu keping!

Kamu pasti berdecak kagum, dan mungkin juga kepengen hidup seperti Gareth (ayo.. ngaku aja deh. Sori ini bukan nuduh, tapi maksa! Hehehe). Nggak usah jauh-jauh dulu, ajang pencarian idola baru di negeri ini juga udah cukup direspon pasar kok. Audisi untuk gelaran AFI, Indonesian Idol, dan juga KDI selalu dipenuhi calon peserta. Seru! Karena bagi teman remaja yang kesengsem pengen jadi seleb ini adalah kesempatan emas buat ngerintis karir, khususnya di bidang olah vokal.

Bahkan di babak final untuk mendapatkan peserta paling jago, selalu disesaki ribuan penonton. Belum lagi jutaan pemirsa di rumah masing-masing yang getol ngikutin jagoannya manggung dengan memberi dukungan via SMS. Imbas bisnisnya oke juga. Di pusat bisnis Jakarta, yakni di kawasan Mangga Dua dan Glodok, VCD yang memuat rekaman ajang AFI, Indonesian Idol, dan KDI selalu ludes diburu pembeli. Seorang pedagang di kawasan itu bahkan mengaku setiap kali pesan ke agennya sekitar 50 keping, dan itu hanya akan tersisa 1 atau 2 keping saja di sore hari. Dan itu tiap hari lho. Duile… sampe segitunya.

Ngetop dan tajir

Sobat muda, sebenarnya wajar-wajar aja punya keinginan untuk ngetop dan tajir bin kaya. Nggak salah kok. Tapi, tentunya kita nggak bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Betul? Bukan maksud kita ngeguruin kamu, apalagi menghakimi bahwa jalan yang kamu tempuh tuh salah. Nggak kok, kita cuma ingin berbagi aja bahwa ternyata kata “ngetop” dan “tajir” masih menjadi impian orang untuk memburunya.

“Waah pasti dong pengen ngetop. Karena yang pasti kalo ngetop kita punya fans. Kedua, banyak duit gitu hahaha…” komentar Wahyu dan kawan-kawan yang tergabung dalam grup band amatir Fat Go Out! yang kebetulan lagi istirahat abis latihan di sebuah studio musik di kawasan Pajajaran Bogor.

Meski Fat Go Out! mengusung aliran punk rock dan indie label pula, tapi soal ngetop dan tajir mah tetep aja jadi impian. Bahkan rencananya Ramadhan ini mereka pengen bisa bikin demo, syukur-syukur kalo terus bisa rekaman, katanya.

Mantan personel grup band alternatif amatir, Ompol Dewa yang punya base camp di kawasan Otista Bogor, Murdock, mengakui juga bahwa rasa ingin ngetop dan punya banyak duit menjadi bagian dari cita-citanya dulu ketika bermusik.

“Dulu saya dan kawan-kawan hampir tiap pekan berlatih di studio musik, bahkan sempat bikin demo. Harapannya bisa ngetop,” kenangnya kepada Sobat Muda.

Setelah ikut pengajian, kini para personel Ompol Dewa tetap bermain musik, hanya saja sekarang syair dan lagu yang dibawakannya lebih bernuansa religi. “Saya masih bermain musik, tapi kini lebih sekadar untuk mengisi waktu luang dan menyalurkan hobi saja. Lagu-lagu yang dibawakan juga yang islami,” ujar Murdock yang kebetulan sempat menjadi vokalis di grup band Ompol Dewa itu.

Fat Go Out! dan Ompol Dewa boleh jadi dua grup band amatir yang bermimpi menjadi ngetop dan banyak duit jika sudah di atas angin. Meski jalan menuju puncak impian begitu terjal dan mungkin banyak rintangan (karena emang kudu bersaing dengan ribuan grup band dan penyanyi yang ada), tapi para musisi pemula yang ada saat ini rela mengadu nasib.

Sekadar bukti, ajang The DreamBand yang audisinya digelar di beberapa kota besar di negeri ini mampu menyedot ratusan peserta. Mereka adu keterampilan olah vokal, gebukin drum, main gitar, dan bahkan rela tampil dengan dandanan dan aksesoris yang unik.

Sobat muda, ternyata impian menjadi seleb ngetop nggak cuma dirintis oleh mereka dari kalangan awam, sebab kini teman-teman yang identik dengan kopiah dan baju koko juga bakalan menjajal kemampuannya lewat Festival Nasyid Indonesia. Setelah dirintis sejak awal tahun 2004 ini, ajang yang digagas Agus Idwar Jumhadi (mantan personel SNADA) mendapat tempat di salah satu stasiun televisi swasta. Acaranya mulai digelar pertengahan Oktober 2004 lalu.

Musik bukan segalanya

Maaf, bukannya kita ngiri, bukannya kita sok ngatur. Tapi maaf, ini sekadar ngajak berpikir aja. Siapa tahu kamu bisa nyetel dengan apa yang kita maksud. Hobi bermain musik itu nggak masalah, kok. Selama nyanyiannya halal dan pagelarannya steril dari campur baur laki-perempuan yang bukan mahram, dan nihil miras, narkoba dan kegiatan pemujaan setan, insya Allah nggak masalah. Tapi, apa iya bisa jamin islami kalo acaranya sendiri di panggung terbuka dan ditonton banyak orang?

Sobat muda, sebenarnya Islam saat ini merindukan generasi yang lebih berkualitas untuk perjuangan menegakkan Islam di muka bumi ini. Islam merindukan sosok pemuda seperti Usamah bin Zaid yang menjadi panglima perang di usia 18 tahun. Islam menginkan sosok pemuda seperti Iyas al-Qadhi yang cerdas dan menjadi hakim di usia 16 tahun. Islam sangat mengharapkan sosok pemuda yang pemberani laksana Saifuddin Muzhafar Quthuz yang memimpin pasukan Islam mengusir gerombolan serdadu Tartar. Islam, juga sangat mengidam-idamkan sosok pemuda yang gagah perkasa bak Muhammad al-Fatih yang memperjalankan kapal perang di daratan untuk menaklukan Konstantinopel.

Oke deh, sebaiknya kita bijak. Anggap saja bermusik adalah aktivitas biasa. Nggak perlu diseriusi hingga melupakan tujuan utama perjuangan kita. So, rapatkan barisan untuk menjadi pembela Islam, dan itu bukan lewat musik. Karena Islam adalah ideologi, jadi perjuangan untuk menegakkannya butuh keseriusan yang berarti dari kita semua. [solihin, liputan: Andi]

BOX

Kalo Ngetop Banyak Fans

Emang kalo udah ngetop pasti banyak fans. Nggak heran kalo tawaran manggung pun mengalir deras. Berikut obrolan ringan bersama personel grup band beraliran punk rock, Fat Go Out! (Dani, Wahyu, Yoga, Asep, Sambas, dan Awal):

Kenapa namanya Fat Go Out!?

Dulu kalo kita rame-rame di angkot, suka guyonan, “yang gemuk keluar, yang gemuk keluar!” kebetulan personel kami ada yang gemuk (hahahahah)

Udah rekaman?

Belum. Ramadhan ini pengennya bisa bikin demo

Latihan berapa kali seminggu?

Seminggu dua kali.

Lagu-lagunya gimana?

Kritik politik. Misalnya kita jangan mau ditindas. Kayak gitu-gitu lah Mas.

Harapannya bikin band?

Majuin musik indie label Bogor.

Gimana nanggepin kritikan orang yang bilang anak band mah jelek?

Ah, itu kan nggak semua. Kita nggak kok. Cuekkin ajalah yang ngomong begitu mah. Mereka nggak ngerti dunia anak band.

Pernah manggung?

Sering. Pernah dulu di Poncol Cisarua. Tawaran banyak juga.

Suka ikut festival?

Kita antifestival Mas!

Grup idola?

NOFX, Bad Religion, dan Green Day.

One thought on “Bermusik Menggapai Mimpi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s