Botak

By: Poejy

Gedubrak!…kepalaku benjol seketika, aku terjatuh dari tempat tidur, sambil mengaduh kesakitan. Kutendang ranjang sebagai luapan kekesalanku. Segera aku bergegas mengambil handuk dan ke kamar mandi. Lumayan aku tidak perlu antri, karena santri-santri lain masih terlelap dibuai mimpi dan siap-siap akan menerima keusilanku, hal yang sama yang sering dilakukan oleh santri yang bangun lebih dulu.

Sayup-sayup kudengar suara azan di Masjid Agung. Kucipratkan sisa-sisa air di kulitku ke temen-temen sekamarku, kontan saja mereka marah-marah, sebagian dari mereka melemparkan bantal ke arahku sekenanya, dan dalam waktu sekejap terjadi perang dunia kedua di kamarku.

Ojo berisik….!” teriakan Kang Abu menghentikan aksi kami, satu persatu dari kami pun bergegas mengambil handuk dan ke kamar mandi.

“Yono! Kesini kamu..” panggilan Kang Abu menghentikan langkahku yang siap-siap berangkat ke sekolah. “Pulang sekolah, kamu dan semua teman sekamarmu temui aku di kantor pesantren.”

***

Sesuai titah Kang Abu, dengan langkah gontai kami berlima menuju ke kantor. Entah hukuman apa lagi yang akan diberikan kepada kami, karena sebelumnya kami pernah disuruh berendam di bak mandi selama tiga jam, memburu tikus di kamar santri, membebaskan semua kasur santri dari serangan tumbila, mahluk kecil yang bikin banyak santri punya hoby main gitar (baca; garuk-garuk)

“Gara-gara kalian Abah duko” suara lantang Kang Abu, membuat kami semua terdiam.

“Bukan aku Kang! Yono yang mulai” Budi angkat bicara.

“Betul Kang!” tanpa dikomando yang lain mengiyakan.

“Diam….!kalian tahu hukumannya apa..?” dengan langkah pasti Kang Abu menuju meja kantor, mengeluarkan gunting dan pisau cukur dari laci meja.

kress-kress,” satu persatu kepala kami dibikin botak. Aku hanya bisa mengelus dada, menyesali semua tingkahku selama ini. Budi mengepalkan tangannya ke arahku.

“Awas kamu” Budi berbisik ke arahku.

“Jangan lupa, kalungkan ini di leher kalian selama seminggu. Awas, kalau kalian ketahuan melepas tulisan itu” sambil terus berceramah Kang Abu mengalungkan sebuah karton dengan tulisan “SANG PEMBUAT ONAR” di leher kami.

Hari ini, hari pertamaku di sekolah dengan tanpa mahkota di kepalaku. Rasa kesel, malu, marah, sedih bercampur jadi satu. Aku harus siap menjadi bahan ejekan temen-temen, dengan label baru “SI BOTAK”

“Hai Yon, wajah baru nih, makin keren aja…!” Nita menyapaku dengan nada mengejek.

“Botak…! kamu seksi deh, boleh dong kenalan, anak baru ya?” Muti’ nyerocos sekenanya, dengan mimik seolah-olah aku adalah bintang idolanya.

“Dasar gatel” batinku.

Hari ini aku cukup dibikin malu di sekolah, semuanya tahu kalau aku botak karena aku kena sanksi di pesantren. Baru sehari saja, aku sudah mati kutu, apalagi seminggu, rasanya waktu ini berputar begitu lambat sekali. Botak sih nggak masalah, tapi kalau harus menggondol tulisan ini, ah… rasanya hilang pedeku. Kuputar otak mencari cara untuk hari-hariku yang akan datang.

“Anak-anak! Ketombe yang nangkring di kepala kita sebenarnya disebabkan kotoran yang keluar bersama keringat yang keluar lewat pori-pori kulit kepala, dan kotoran dari luar yang nempel di kulit kepala, kotoran-kotaran itu semakin lama semakin numpuk, jika tidak dibersihkan menyebabkan adanya ketombe.” panjang lebar Pak Kisno, guru biologiku menjelaskan mengenai ketombe dan cara mengatasinya.

“Kalian tahu cara mengatasinya ?” tanya Pak Kisno pada anak-anak.

“Dibotakin Pak! Ketombenya biar pada kabur-bur-buuur.” Nita berceloteh sambil berekspresi seperti iklan di TV. Semua mata menuju ke arahku.

“Gila, kasihan deh gue” batinku. Mukaku memerah menahan malu.

Hari ke-duaku tak luput dari tingkah usil temen-temen yang bikin aku tambah mati kutu.

Pagi hari yang cerah, dengan sisa kekuatan mental yang kumiliki, aku melangkah pasti, kupasang mimik sepede mungkin. Sambil bernyanyi-nyanyi kecil kususuri trotoar sendirian, kami berlima sepakat untuk tidak jalan bareng “geng botak” tengsin kalau dikira geng preman.

“Pleuthak..!” sebuah benda kecil mengenai kepala botakku. Celingukan kutengok kanan kiri, mencari sosok yang berani melempar kepala botaku. Kuusap-usap benjolan dikepalaku yang terasa sakit.

“Hai…! Kalau berani jangan pakai sembunyi-sembunyi! Dasar pengecut..!” dengan suara lantang aku maki-maki sekenanya.

“Botaak-botaak, botaak-botaak….!” dari kejauhan muncul segerombolan anak-anak kecil tanpa dikomando mengejekku.

Dengan langkah seribu kukejar anak-anak nakal itu. Tapi mereka pun secepat rusa berlari menghindar dari kejaranku.

Tiba-tiba. “Cebyuur” kakiku terpeleset, aku terjerembab masuk selokan, kontan saja bajuku basah kuyup. Dengan langkah gontai kulangkahkan kakiku ke pesantren, kuurungkan niatku untuk berangkat sekolah hari ini. Berharap di jalan aku tidak berpapasan dengan temen-temenku. Hari ketigaku pun lewat dengan kesialan.

“Sial..! awas kalau ketemu lagi!” batinku.

Sesampainya di pesantren, bergegas aku masuk ke kamarku, kukunci pintu rapat-rapat. Kuganti pakaianku yang basah, aku berbaring melepas rasa penatku.

“Berapa hari lagi aku harus melalui hari-hariku dengan kesialan-kesialan.” dalam hati aku merenung.

Dengan sisa tenaga dan semangatku, kuambil buku “La Tahzan” yang baru kubeli dua minggu kemarin dan belum sempat kubaca. Lembar demi lembar kubaca isinya, semakin membuatku semangat menyantap buku best seller ini.

* Rasa sakit yang sedetik itu terasa bagaikan sehari, dan kenikmatan yang sehari itu bagaikan sedetik. Malam yang bahagia itu terasa sangat pendek, sedangkan malam yang penuh kedukaan terasa sangat panjang.

* Kesengsaraan akan mengingatkan anda kepada kenikmatan, dan kelaparan akan membuat anda suka makan. Penjara akan menawarkan harga kemerdekaan kepada anda, dan sakit akan membuat anda merindu kepada kesehatan.

* Jika ada orang yang menyakiti Anda maka ingatlah akan qadha’ Allah, keutamaan memberi ampunan, pahala menjalaninya dengan tabah, ganjaran bersabar, bahwa dia bertindak sebagai pihak yang menzhalimi, dan Anda sebagai pihak yang dizhalimi. Dengan itu Anda akan menjadi orang yang paling merasa bahagia.

Ada rasa tenang menyusup relung-relung hatiku, tatkala kubaca bait-bait kata mutiara di buku ini.

“Kriing-kriing..!” suara weker membangunkanku.

Astaghfirrullah…, sudah jam tujuh, terlambat nih”. Segera aku bergegas mengambil seragam sekolah dan ke kamar mandi. Sengaja aku tidur ba’da pengajian subuh tadi. Semalam begadang sama temen-temen sampai jam 12 malam.

“Rasa-rasanya aku sudah menyetel weker tepat di pukul setengah tujuh! Ini pasti ulah mereka…!” batinku sambil memendam rasa kesel.

Segera sambil berlari aku berangkat ke sekolah. Dan benar dugaanku, aku terlambat.

“Yono! Kesini kamu..!” suara Pak Taufik memanggilku.

“Kenapa terlambat..?” suaranya lantang menanyaiku.

“Anu… Pak! Ketiduran”

“Ya sudah! Sebagai hukumannya kamu harus berjemur di lapangan sampai bel jam istirahat berdentang”

Dengan terpaksa kulangkahkan kakiku menuju lapangan. Sementara dari kejauhan di balik jendela kelas terlihat Budi cengengesan meledekku.

“Awas ya! Pembalasan lebih kejam dari pada pembunuhan” Batinku dalam hati. Hari ini pun kulalui dengan kesialan lagi.

***

“Setiap manusia pasti pernah berbuat salah, sesuai sabda Nabi saw.; al insan mahalul khatha wa nisyan (manusia tempatnya salah dan lupa),” sayup-sayup aku menangkap suara Abah.

“Hanya Nabi Muhammad saw. yang bebas dari perbuatan dosa, karena beliau adalah seorang yang ma’shum (bebas dari dosa). Manusia yang baik bukanlah manusia yang tidak pernah berbuat kesalahan, tapi mereka yang menyadari kesalahannya dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang telah diperbuat,” suara Abah semakin jelas memenuhi telingaku.

Gedubrak!… “aduh” sambil mengaduh kuraba kepalaku.

“Yaah benjol lagi” ternyata cuma mimpi. Sejenak aku termenung, merenungi tausiyah dari Abah. Nasehat itu memunculkan sebuah kekuatan baru yang merasup dalam dadaku, memunculkan kepercayaan diriku.

“Aku harus bangkit, tidak boleh frustasi hanya karena masalah ini, BOTAK berarti bersih. so… Botak Kepalaku Botak Hatiku, Botak Fikiranku, biar botak asal beriman” batinku menghibur diri. Aku segera bergegas membangunkan teman-temanku, mengajak mereka untuk berkhalwat dengan sang Khalik dalam rangkaian shalat Tahajud. Damai rasanya…. sambil menunggu kumandang azdan Subuh, kubuka halaman terakhir buku La Tahzan, kubaca bait-bait kata mutiara di buku ini.

* Wahai orang sakit, sucilah Anda dari dosa, insya’allah, karena Anda telah dibersihkan dari berbagai bentuk kesalahan, Anda telah dijauhkan dari dosa-dosa, hati anda telah disepuh, jiwa anda telah ditaklukkan, kesombongan dan ujb anda telah hilang.

* Biasakan diri Anda untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang membuat Anda gembira. Setelah Anda menentukan apa saja hal-hal yang membuat Anda bahagia, jauhi hal-hal lain dari pikiran Anda. Lakukan semua kemungkinan yang mengarah pada terealisasikannya hal-hal yang membuat bahagia itu, dan jauhkan yang lainnya. Dan, anggaplah keputusan Anda untuk memastikan pencapaian kebahagiaan ini sebagai sebuah percobaan yang menyenangkan dengan tingkat keseriusan yang sebenarnya

“Semoga mentari pagi ini memunculkan semangat baru dalam diriku, semangat seorang pemuda muslim yang tidak mudah menyerah dan selalu optimis.” Dalam hati aku berdo’a. Amiin…

—–

Buat semua Adik-adiku di MA Al-Haitsam; Mega, Anick, Edi, Ridhwan, Fauzan, Naqib, Arifin, Ruyanto, etc…

Keep fight and smile for all your activity

Footnote:

Ojo Berisik (Jangan berisik)

Abah (panggilan untuk pimpinan pesatren di Jawa Tengah)

Duko (marah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s