Politik dan Ideologi Lewat Lagu

Nggak semua musisi hanya mikirin perut sendiri. Sebagian berjuang lewat lagu dan irama. Ada yang humanisme, anti-kapitalisme, juga Islam.

 

Wakil rakyat seharusnya merakyat

Jangan tidur waktu sidang soal rakyat

 

Jangan tanya siapa penyanyi lagu ini, soalnya hampir semua orang di negeri ini tahu jawabannya; Iwan Fals! Dari mulai anak jalanan sampe politisi mungkin tahu betul lagu ini. Buat penciptanya sendiri, Iwan Fals, ini adalah salah satu dari sekian lagu ciptaannya yang ngomongin soal politik.

 

Musisi & Politisi

Nah, dibalik industri musik yang mengedepankan profit dan popularitas, ternyata ada sebagian musisi yang ngejadiin musik sebagai ajang propaganda politik dan ideologi. Di dalam negeri sebut saja nama Iwan Fals. Bisa jadi penyanyi yang punya nama asli Virgianto Listianto adalah vokalis yang paling ‘vokal’. Pasti bukan karena tarikan suaranya paling kenceng, tapi karena ayah dari (alm) Galang Rambu Anarki ini adalah musisi dan vokalis yang doyan mengumbar lirik-lirik kritik. Lagu Wakil Rakyat adalah salah satunya. Tajamnya lirik lagu Mas Iwan bikin jutaan anak-anak negeri jatuh hati. Saking ngefans-nya ama lagu-lagu Bang Iwan, para penggemarnya bikin komunitas yang disebut Oi (Orang Indonesia).

Bang Iwan nggak sendirian. Franky Sahilatua yang dulu duet dengan adiknya Jane, sekarang juga giat bikin lagu yang peduli dengan kondisi politik. Lagu Perahu Negeriku adalah salah satu karya Bang Franky yang akrab di telinga wong cilik. Pasti kamu tahu dong lirik-lirik lagu itu.

Selain dua orang di atas, kini juga berkibar band-band underground yang mengusung lirik-lirik lagu ideologis. Sebut saja nama UFO, Pestolaer, Betrayer, Sicmynded. Nggak usah heran kalau kamu nggak apal satupun dengan nama-nama grup itu, juga jangan harap mereka nongol di layar MTV, karena mereka memang ‘bawah tanah’. Mereka juga punya komunitas khusus. Kaset dan CD mereka umumnya beredar nggak lewat major label, tapi jalur indie. Dari mulut ke mulut, dari tangan ke tangan.

Lain Iwan Fals, lain juga Sex Pistols. Grup asal Chelsea Inggris ini emang udah nggak kedengaran lagi suaranya, tapi mereka sempat kinclong di akhir tahun 70-an. Dengan mengusung aliran punk rock, Johny Rotten cs. menyuarakan ‘anarchy’ (pemberontakan) melawan kapitalisme dan dominasi keluarga kerajaan Inggris. Simak aja lirik lagu Anarchy In The UK:

 

Right! Now ha, ha,
I am an antichrist
I am an anarchist
Don’t know what I want
But I know how to get it
I wanna destroy the passerby

 

Dengan gaya punk-nya, Sex Pistols jadi perhatian publik dan idola baru remaja Inggris. Pada bulan Mei 1977 mereka merilis singel kedua bertitel God Save The Queen. Karena isinya menyerang Keluarga Kerajaan Inggris, kontan saja dilarang mengudara oleh BBC. Gimana nggak, baca deh baek-baek lirik lagu mereka yang edan abis:

God save the queen
The fascist regime
They made you a moron
Potential H-bomb

God save the queen
She aint no human being
There is no future
In England’s dreaming

Soal lirik lagu yang ‘galak’ bukan cuma puya Sex Pistols, di Amrik ada musisi legendaris Bob Dylan yang juga beken dengan lirik-liriknya yang mengkritik kebijakan pemerintah AS. Ya, mirip-mirip Michael Moore si pembuat film dokumenter Fahreinhet 9/11. Selain Dylan masih ada Rancid, Bad Religion, NoFX yang rajin bikin merah kuping para politisi. Lagu yang mereka buat umumnya menyuarakan persamaan, kemerdekaan, dan kritik terhadap kebijakan pemerintah negeri mereka (AS). Bad Religion misalkan membuat album The Empire Strikes First untuk mengkritik serangan AS ke Irak.

Ngaruh nggak sih lirik-lirik itu buat keharmonisan sebuah lagu? Kayaknya nggak tuh, pasalnya para fans memang beli kaset atau dengerin lagu untuk ngedengerin omongan politik mereka. Bagi para pecinta musik pop, lirik Fals yang kritis sama asyiknya dengan dengerin lagu cintanya Katon atau Melly Goeslaw. Buat para punkers atau hardrockers, lagu-lagu Sex Pistols asyik aja dipake headbanging atau moshing pit. Padahal core ideologi mereka kerasa banget.

Fals dan komunitas Oi-nya, ataupun Sex Pistols dengan para punkers-nya adalah contoh para musisi yang nggak egois sekedar mikirin penjualan album dan jadual konser. Mereka juga membawa bendera ideologi layaknya para pendakwah dan politisi. Bedanya, mereka mengusungnya lewat kekuatan lirik dan harmonisasi irama.

 

Propaganda Islam

Gimana juga dengan Islam? Banyak bro! Mulai dari irama qasidah, dangdut sampai rap. Sebut saja si Raja dangdut Rhoma Irama. Meski penampilannya kalo manggung masih mengundang kontroversi (abis sambil goyang sih) but nggak sedikit lagu wak Haji yang satu ini banyak mengusung pesan moral dan keagamaan.

The next generation adalah nasyid. Mungkin kamu udah apal betul dengan nama-nama grup nasyid kondang lokal macam Snada, Saujana, Ruhul Jadid, ataupun yang datang dari negeri jiran macam Raihan, Brothers, dan Rabbani. Meski sekarang banyak grup nasyid berevolusi ke aliran pop, tapi pesan keislamannya nggak berkurang.

Yang unik justru datang dari Amrik, Soldier of Allah. Mereka malah ngebawain lirik-lirik dakwah Islam lewat aliran rap dan hip hop. Lirik-lirik yang mereka buat juga tajam dan teramat ideologis. Nggak segan-segan mereka menyerukan haram dan sesatnya nasionalisme, kapitalisme, sosialisme, dan demokrasi. Mereka juga mengajak kaum muslimin untuk menegakkan khilafah dan menantang kaum kuffar. Ampun!

Sebagai hiburan alternatif, kedatangan para nasyider ini jelas angin segar buat mereka yang rindu suasana Islami. Seenggaknya mereka menawarkan sesuatu yang baru. Penggemarnya juga nggak sedikit. Minimal saat kita bete, ada hiburan yang sehat. Saat kita lemes berdakwah ada lirik lagu yang membakar semangat. Simak aja lagu They Can’t Stop Islam dari kelompok Soldier of Allah:

 

They—-can’t—-stop—-Islam

They try to break us up

But they can’t break this bond

They—-can’t—-stop—-Islam

They try to take us down

But our Deen is too strong

They—-can’t—-stop—-Islam

Victory is promised

From Allah

They—-can’t—-stop—-Islam

We’ll keep coming back

Singing this song

 

 

Jagalah Hati

Ini bukan lagunya Aa Gym, tapi warning buat para penggemar nasyid. Bahwa yang namanya hiburan tetaplah hiburan. Meski nasyid bisa diisi dengan bait-bait yang ideologis-islami, tapi ia bukan satu-satunya cara bikin umat jadi melek Islam. Gimanapun juga, manusia akan berubah kalau sudah terjadi transfer dan transform pemikiran. Semuanya nggak mungkin dilakukan sekedar lewat lagu dan musik, tapi harus melalui diskusi bahkan mungkin perdebatan. Contohnya, untuk meyakinkan orang bahwa judi itu haram nggak cukup dengan menyanyikan lagu Judi buatan Rhoma Irama. Harus ada penjelasan dalil dan fakta kerusakan akibat perjudian. Untuk ngeyakinin orang bahwa nasionalisme dan kapitalisme itu bejat nggak cukup sekedar mendengarkan lagu … SOA.

Untuk mengubah kerajaan Rusia menjadi negara sosialis, Lenin nggak melakukannya via konser musik. Tapi si penggagas revolusi Bolshevik ini mencetak sekelompok orang sosialis untuk menggusur kekuasaan para Tsar Rusia. Begitupula Rasulullah saw. mengkader para sahabat di rumah Arqam bin Arqam lalu melakukan perubahan besar-besaran ke seantero Jazirah Arab bahkan dunia.

Demikian pula Ayatullah Khomeini melahirkan revolusi Iran bukan lewat dendangan nasyid, tapi perjuangan politik. Meski untuk itu para pemuda Iran harus menghadapi tajamnya bayonet dan peluru pasukan Shah Iran Reza Pahlevi. Pedang tidak bisa dilawan dengan tusuk gigi, tapi harus dengan pedang pula. Berharap akan terjadi perubahan masyarakat lewat musik itu sama dengan menggantang asap.

Apalagi jika nasyid sudah masuk ke dalam dunia industri, maka idealisme bisa terkapar. Lirik-lirik yang ideologis bisa kena babat sensor demi selera pasar. Yang dinomorsatukan bukan lagi pengaruh dakwah tapi tingkat penjualan. Ini nggak cuma berlaku dalam nasyid, tapi di aliran musik manapun.

Bukan cuma itu, para aktivis dakwah yang bernasyid juga harus menjaga hati agar tidak tergoda untuk menjadi seleb. Apalagi sekarang di televisi juga ada program ‘idol’ baru bagi para nasyider. Ada FNI (Festival Nasyid Indonesia) dan NTQ (Nasyid-Taushiyyah-Qira’ah). Kalau para nasyider-nya kelewat serius menekuni bidang tarik suara ini bisa-bisa yang muncul bukanlah para politisi dan ideolog, tapi Delon atau Gareth Gates ‘islami’.

Semoga kian maraknya remaja yang bernasyid ria dibarengi dengan kencangnya pengajian. Sebab kemajuan umat Islam ditentukan oleh keilmuan dan kegigihan dakwah, bukan lewat yang lain. Pasti![januar]

One thought on “Politik dan Ideologi Lewat Lagu

  1. dengan tambah bervariasinya media, gada alasan buat kita mati gaya dalam berdakwah.
    so, keep on spirit to spread Islam nyoo….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s