Spirit of Ramadlan (II)

Layaknya ujian semesteran, ada saatnya kelulusan. Setelah satu bulan penuh kita berpuasa di Bulan Ramadlan, ada kesenangan di saat lebaran. Idul Fitri memang selalu menyenangkan buat siapa saja. Tua, muda, miskin, kaya, semua gembira. Lebaran menjadi semacam tanda kelulusan bagi segenap kaum muslimin di dunia.

Lebaran adalah special gift from God. Hadiah spesial dari Allah bagi setiap muslim; setiap muslim yang sudah bekerja keras mengisi Ramadlan dengan puasa, tarawih dan aneka amal soleh. Limpahan pahala dan ampunan berlimpah ruah bagi mereka yang sudah melewati Ramadlan dengan perjuangan. Seperti kata Rasulullah saw. jika puasa dan qiyamul layl dikerjakan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, kita akan keluar dari segala dosa layaknya seorang bayi keluar dari rahim ibu.

Bro, pastikan bahwa beramal soleh tidaklah berhenti saat Ramadlan berakhir. Bro, Ramadlan adalah sekedar training centre. The real battle is out there. Segala pelatihan ibadah yang sudah kita kerjakan di bulan Ramadlan — menahan hawa nafsu, qiyamul layl, membaca Al Qur’an – diuji daya tahannya selama 11 bulan berikutnya. Puasa melatih kita untuk menjadikan amal kebaikan sebagai habit, kebiasaan. “Agar kalian bertakwa” pesan Allah dalam surat Al Baqarah ayat 183. Maka Imam Syafi’i pun menulis, “Bukan-lah hari raya bagi yang pakaiannya baru, tapi hari raya adalah bagi mereka yang takwa dan imannya bertambah.”

Lebaran adalah saatnya menata kehidupan yang baru bagi kita semua. Apa yang harus kita tinggalkan, dan apa yang harus kita kerjakan. Pembekalan itu semua sudah dilakukan saat puasa Ramadlan kemarin. Be somebody new saat lebaran tiba. Kamu yang seusai lebaran adalah kamu yang baru, yang lebih dewasa, lebih bertakwa.

Bro, jadikanlah lebaran momentum yang pas untuk mengkampanyekan perang terhadap sekulerisme; pemisahan agama dari kehidupan. Bahwa agama kita tidak mengenal pembagian waktu dan tempat untuk takwa dan ingkar. Bahwa kita tidak bisa menjadi dua pribadi yang berbeda pada tubuh yang sama. Kita adalah muslim. Bukan dr. Jekyl & Mr. Hyde. Yang satu adalah pribadi yang lembut dan sopan, namun yang satu lagi adalah monster yang kejam.

Sekulerisme berlawanan dengan semangat Ramadlan. Kalau Ramadlan mengajak kita untuk jadi orang yang ihsan; percaya kalau Allah selalu mengawasi segala amal perbuatan kita kapanpun dan di manapun, sekulerisme menyuruh kita untuk nggak membawa-bawa Tuhan keluar tempat dan waktu ibadah. Kalau Ramadlan mengajak kita berhitung pahala dan dosa, sekulerisme membujuk kita untuk patuh pada hitung-hitungan untung-rugi. Kalau Ramadlan berbisik pada kita untuk istiqamah/konsisten, sekulerisme mengajak kita untuk menjadi bunglon; mencocokkan diri sesuai keadaan dan kebutuhan. Tak ada kompromi antara semangat Ramadlan dengan sekulerisme.

Bro, jangan sia-siakan latihan kita selama Ramadlan. Sudah susah payah dan jauh perjalanan kita melewati Ramadlan. Jangan biarkan semuanya terampas saat Ramadlan berlalu. Buktikan bahwa kita bisa; bisa jadi sobat muda yang taat, baik dan berubah menuju kebaikan. Kita percaya semua remaja pasti bisa.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s