No Gendut Please

Oleh: Nurbowo

[Pemred Tabloid FIKRI]


Hayo tebak, kenapa bintang cilik Tasya belakangan ini hampir nggak pernah nongol di TV? Yup, betul, karena bocah imut itu masih gendut, bahkan agak gendutan. Dan, menurut TV, gendut ‘’haram” untuk menjadi sosok baik-baik di layar gelas. Kecuali Desak Made Hughesia, orang gendut di TV hanya menjadi objeck olok-olok. Tina Toon, bocah gempal itu, yang dijual bukanlah suaranya. Tapi badan gendut plus goyang Inul-nya yang membuat dia menjadi ‘’pemandangan menggelikan”.

Pemain gendut lain biasanya ketiban peran menjadi pembantu yang tolol, konyol, dan karena

itu biasa pula dikata-katai sebagai ‘’karung beras” atau ‘’gajah bengkak”. Misalnya pembantu keluarga dalam sinetron ‘’Bidadari”. Pokoknya, orang gendut nggak ada bagusnya deh.

Karena itu, kontestan Indonesia Idol di RCTI, Nania, yang kebetulan berbadan besar, juga diminta oleh para juri yang terhormat agar ‘’melangsingkan tubuh”. Mungkin karena faktor ini, ia kalah nol koma sekian persen nilainya dari Delon, dan tersingkir. Entahlah kalau ada sentimen agama dalam penialaian tersebut, karena dari tiga finalis hanya Nania yang beragama Islam (dan gendut!). Padahal, banyak yang bilang, suara Nania lebih baik ketimbang vokal kedua saingannya.

Begitulah, kalau mengikuti kecenderungan hawa nafsu, dunia ini memang hanya kepunyaan orang cantik dan ganteng. Mandra, Omas, dan kawan-kawan memang menjadi cukup kaya dan terkenal. Tapi itu karena mereka bersedia dikorbankan untuk menjelek-jelekkan orang jelek.

Bahkan sejak zaman Nabi pun, kecenderungan manusia untuk menilai secara fisik sudah ada. Syahdan, suatu ketika saat Nabi sedang duduk dengan salah seorang sahabatnya, ada seorang ganteng melintas di depan mereka. Nabi bertanya kepada sahabatnya, “Bagaimana pendapatmu tentang orang itu? “O Rasulullah! Dia termasuk golongan yang mulia. Orang seperti dia kalau

meminang siapa saja pasti diterima, kalau minta tolong pasti ditolong,” jawab sahabat. Nabi diam saja. Tak lama kemudian, seorang hitam dan tidak ganteng melintas di depan mereka. “Bagaimana kalau orang ini?” tanya Nabi. Sahabat cepat menjawab, “Wah, kalau ini sih sudah kelihatan dari golongan miskin. Orang seperti dia kalau meminang tidak akan ada yang mau menerimanya. Kalau minta bantuan, sulit akan mendapatkan bantuan. Kalau ngomong tidak ada orang yang mau mendengar.”

Mendengar komentar sahabatnya tadi, Nabi berkata, “Orang kedua ini lebih baik dari seisi bumi, dibandingkan dengan orang yang pertama tadi.” Artinya, jangan tertipu oleh penampilan fisik. Seperti kata pepatah: Beauty is not in the face, beauty is a light in the heart (kecantikan bukan pada wajah, melainkan cahaya dari dalam hati).

Rasulullah saw. menegaskan, “Allah tidak melihat kepada bentukmu dan penampilanmu, tapi Allah melihat kepada amal dan hatimu” (HR Muslim). Dalam khutbah terakhirnya, Nabi mengulang pesan itu: ‘’Wahai sekalian manusia, ingatlah bahwa Tuhan kamu satu dan bapak kamu satu. Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang ‘Ajam (non-Arab) dan orang ‘Ajam atas orang Arab. Juga tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang hitam dan bagi orang hitam atas orang merah, kecuali karena takwa” (HR Ahmad dari Abu Nadlrah)

Karena itulah, Bilal budak hitam lebih layak masuk surga ketimbang Abu Jahal dan Abu Lahab yang gagah tinggi besar. Demikian pula Amr Ibnul Jamuh yang kakinya pincang, atau Abdullah bin Mas’ud yang kakinya kecil. Keduanya bagian dari sahabat terbaik Nabi.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s