Tabungan Emosi

jamil-kece1a.jpgOleh: Jamil az-Zaini [Kubik Leadership]

Di tahun 2004 ini, saya beberapa kali berkesempatan pergi ke Hongkong dan Philipina. Tulisan ini pun kebetulan saya buat saat transit di Bandara Hongkong, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Philipina. Jadi agak buru-buru juga nih dan harus menyempatkan bikin karena sudah masuk waktu tenggat (deadline).

Di Philipina kebetulan saya menjadi salah satu pembicara pada acara Regional Conference on Migrant Savings & Alternative (MSAI). Setiap saya berkunjung ke kedua negara tersebut saya pasti membawa sesuatu. Bila saya pergi ke Hongkong saya membawa barang dagangan pesanan salah satu pengusaha kecil di Hongkong. Barang dagangan tersebut akan dijual lagi kepada para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang jumlahnya lebih dari 92.000 orang di Hongkong. Sementara bila saya pergi ke Philipina saya membawa kopi asli dan kopi ginseng untuk kenalan saya yang sangat gandrung dengan kopi Indonesia.

“Wah… mau-maunya Pak Ustadz bawa kardus isi dagangan ke Hongkong”, seloroh temen saya. Sementara temen saya yang lain berujar: “Bukannya baju di dalam tas jadi bau kopi kalau Anda memasukkan kopi ke dalam tas Anda?”

Kedua temen saya memang betul. Membawa barang dagangan ke Hongkong adakalanya harus berhadapan dengan petugas imigrasi di Hongkong. Dan harus siap menjawab pertanyaan mereka seputar barang bawaan saya. Sementara membawa kopi ke Philipina akan menebar aroma kopi ke dalam tas. Tapi bagi saya membawa kedua barang tersebut memiliki keasyikan tersendiri.

Selain dorongan ibadah, membawa kedua barang tersebut adalah karena kedua temen saya itu sangat baik ketika saya berada di sana. Ketika saya di Hongkong, semua kebutuhan makan saya, penginapan, dan juga kunjungan ke tempat-tempat yang dianggap perlu diatur oleh temen saya itu. Temen saya di Philipina punya sumbangsih lain lagi buat saya, ketika pertama kali saya ke Philipina dengan kemampuan Bahasa Inggris saya yang terbatas dialah yang menumbuhkan kepercayaan diri saya dan selalu membantu saya bila saya ada kesulitan.

Perbuatan baik yang berkesan bagi seseorang, seperti perbuatan baik kedua temen saya di Hongkong dan Philipina itu saya istilahkan tabungan emosi. Pasti saya sangat keberatan harus membawa beberapa kardus ke Hongkong bila itu milik seseorang yang tidak saya kenal atau orang yang belum pernah memberikan tabungan emosi kepada saya. Oleh karena itu, teman-teman bisa memulai menebar sebanyak mungkin tabungan emosi (perhatian, senyum, sapaan, hadiah, doa, empati dll) kepada sebanyak-banyaknya orang, agar hidup kamu lebih indah, lebih barokah dan juga membawa manfaat kepada orang lain. Bila sobat muda tak pernah melakukan tabungan emosi, jangan pernah harap ada orang lain yang bersedia berkorban untuk Anda. Yakin deh.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s