Satu Pesona

Oleh : TARY

Vivin memeriksa kembali arloji di tangan kirinya. Jam 5 sore. Ck! Sudah lewat satu jam tapi  Ayu belum juga menampakkan diri. Tak biasanya Ayu ngaret kalau ada janji. Apalagi ini penting. Mereka akan mengunjungi Udin, salah satu murid ngajinya yang kecelakaan tempo hari.

Dit…dit…dit…dit…

Suara SMS yang masuk di handphone-nya membuat Vivin sedikit terkejut.

“Maaf, Vin. Aku nggak bisa datang. Ada keperluan mendadak.” SMS dari Ayu membuatnya mengeluh. Kenapa nggak dari tadi kirim SMS, sih? Teganya membuatku menunggu satu jam di sini. Uh! Batinnya kesal. Lagian kenapa sih tuh anak jadi supersibuk begitu? Seingat Vivin sudah lima kali janji dalam dua minggu terakhir ini yang di batalkan Ayu karena kesibukannya.

Tergesa Vivin melangkah meninggalkan musala sekolah. Meski satu sekolah mereka berbeda kelas dan jurusan. Hm, sepertinya dia harus ke rumah Udin sendirian sore ini. Apa boleh buat. Dilambaikan tangannya ketika bis jalur empat lewat di depannya. Ketika melompat ke atas bis, tak sengaja matanya menangkap sosok Ayu di sisi jalan yang berlawanan arah dengannya. Hei! Bukankah itu Ayu? Jalan sama cowok? Eh, bertiga ding! Satu lagi cewek. Dengan siapa ya?

“Duduk Mbak! Ongkos-ongkos!” suara kenek bis itu mengejutkannya.

Vivin buru-buru mencari tempat duduk dan membayar ongkos. Setelah itu sibuk mencari sosok Ayu kembali. Namun sayang, Ayu telah hilang dari penglihatannya. Meninggalkan tanda tanya di benaknya. Tumben Ayu jalan sama cowok. Bukankah dia akhwat yang paling streng dalam urusan ini? Ah, mungkin ada urusan penting dan benar-benar mendadak. Lagian mereka bertiga, bukan berduaan. Mungkin Ayu mencari inspirasi untuk tulisannya. Vivin menepis prasangka buruk dalam hatinya.

***

“Tingginya sekitar 168. Kulitnya bersih, rambutnya lurus dan dandanannya rapi.”

“Kuliah di mana tadi, Nov?”

“Di ITB baca: mahasiswa terbaik ITB.”

“Yap! Namanya Fai. Fai siapa ya? Faiman atau Faijan?”

“Hush! Enak aja kamu bilang Sa. Faisal tahu…Mohammad Faisal lengkapnya. Katanya sih dia lebih suka dipanggil Bangfei. Duh, mesra amat ya panggilannya?”

“Hm, ini baru  ikhwan jempolan.”

Vivin membalik lembaran diktat tebalnya dengan setengah hati. Suara berisik dua sohibnya sedikit mengganggu konsentrasi belajarnya.

“Eh, Vi, kok menurutku wajahnya mirip sama penyanyi grup Warna yang bernama Sarwana itu ya?”

“Ah, ini lebih cakep.Tatapan matanya teduh. Orangnya juga cool. Cool, calm and confident. Kaya’ iklan rokok aja ya? He..he..he…”

“Kita bersaing sehat lho Nov, inget itu. Yah, namanya juga usaha. Siapa tahu dapet…”

Kali ini Vivin menoleh kearah dua sohibnya. Sepertinya mereka baik-baik saja. Tidak sedang mengingau atau mabuk karena ujian midterm. Tapi kok bicaranya menceracau gitu ya? Bahkan Salsa yang sedikit pendiam juga tampak antusias. Vivin mengernyitkan kening. Wajah Novi dan Salsa tampak biasa-biasa saja. Malah kali ini tampak lebih ceria. Setelah dapat kepastian kalau dua sahabatnya baik-baik saja, Vivin kembali pada diktat tebalnya.

“Selama ini kumencari-cari teman yang sejati, buat menemani perjuangan suci…” kembali terdengar suara Novi melantunkan nasyidnya Brother’s dengan suara fals.

“Bersyukurku padamu Ilahi, teman yang dicari selama ini telah ditemui…” Salsa meneruskan.

Kini Vivin menutup diktat tebalnya. Perlahan dia mendekati dua sahabatnya yang asyik bercerita di depan TV. Dia tak kuasa lagi menahan penasaran di hatinya.

“Kalian lagi ngomongin apa sih? Seru amat.”

Novi mengedipkan mata ke arah Salsa. Salsa balas mengedipkan mata. Dih, kesambet apa nih anak? Batin Vivin heran. Jadi pada genit begini?

“Kamu udah ketemu Fai, Vin?” tanya Novi.

Vivin menggeleng. ” Fai? Fai yang mana? Faimo Pak Bon di sekolah itu?”

“Itu… Fai yang putra bungsunya Ibu kost kita. Kemarin datang dari Bandung.”

“Iya Vin, wuih bener-bener ikhwan jempolan deh. Rugi kamu nggak kenalan,” Novi meneruskan kata-kata Salsa.

“Emang dari mana kalian tahu dia ikhwan jempolan? Kenal juga baru aja kan?”

“Ini akurat kok informasinya, Vin. Langsung dari sumber terpercaya,” Novi masih ngotot.” Lagian dia itu seperti kata Mbak DYF di cerpennya itu lho. 3i.”

“Apa tuh Nov?” Vivin dan Salsa penasaran.

“Ikhwan, insinyur dan ITB. He he he…”

“Oh, gitu? Kira-kira dia minat bisnis batik nggak ya?”

“Ah, pikiran kamu dagang melulu deh, Vin,” Salsa menonjok lengan Vivin gemas.

“Lho, apa salahnya? Bukankah Nabi Muhammad pada masa mudanya juga pedagang yang hebat?” sergah Vivin. Dalam hati dia ketawa ngikik. Emang apa hubungan kata-katanya itu dengan Fai? He he he.

“Buktikan sendiri deh, kalau nggak percaya.”

Salsa menyetujui kata-kata Novi. Mereka baru saja mau beranjak dari ruang tengah ketika Ayu datang. Ayu hanya mengucap salam, tersenyum lalu melesat ke kamarnya. Novi dan Salsa yang bersiap menceritakan tentang Fai pada Ayu sedikit kecewa. Akhir-akhir ini Ayu memang tampak lain. Agak tertutup dan selalu sibuk di luar. Vivin menggaruk kepalanya yang tak gatal. Entah kenapa, dia merasa ketiga sahabatnya menjadi makhluk-makhluk aneh di matanya.

***

Malam itu Fai datang bertamu. Dia tidak sendiri tapi bersama Ibunya. Diam-diam Vivin mengamati tamunya. Tak salah yang dikatakan Novi. Pigur Fai memang mempesona. Bibirnya selalu tersenyum ketika berbicara, tatapannya yang teduh, sikapnya yang rendah hati juga bahasa tubuhnya yang penuh percaya diri.

Astaghfirullah…Vivin menepis angan-angannya yang melayang sekejap. Kenapa matanya jadi mengamati sosok itu terus seolah tak terhijab? Padahal Fai berusaha menundukkan pandangannya. Salsa dan Novi tampak ribut menyambut tamunya. Vivin jadi jengah melihat tingkah caper kedua sahabatnya.

“Kedatangan Ibu ke sini sebenarnya ingin minta tolong. Anak saya Fai butuh bantuan adik-adik semua,” suara Ibu kost sambil tersenyum.

“Oh, apa yang bisa kami bantu Bu? Insya Allah kami tidak keberatan kok,” jawab Novi ramah.

“Iya Bu, kebetulan kami tidak sedang ujian,” tambah Salsa. Vivin menatap Salsa heran. Bisa-bisanya Salsa berbohong seperti itu, padahal sekarang kan sedang banyak ulangan..

“Di sini kan anak punya banyak teman akhwat…” Ibu kost menghentikan kata-katanya. Salsa dan Novi saling berpandangan. Fai masih tertunduk.

Temen akhwat? Hm, ada apa gerangan menanyakan para akhwat? Apa Fai sedang mencari calon? Batin Vivin sambil melirik dua temannya yang sikut-sikutan.

“Iya Bu, tapi bukan mencarikan jodoh untuk Bangfei kan?” potong Novi . Ibu kost tertawa. Salsa mengikik halus dan Fai hanya tersenyum sedikit. Sedangkan Vivin seperti disengat kalajengking mendengar kata-kata Novi yang berani. Habis minum jamu apa sih nih anak? Berani amat?

“Begini…”ibu kost melanjutkan kata-katanya. Semua mendengarkan dengan seksama.” Anak saya Fai, Insya Allah akan walimah bulan depan. Kami butuh bantuan anak semua dan teman-teman untuk jadi panitia walimah.”

“Ooo…” Novi dan Salsa ber-o bersama-sama seperti di komando. Setelah itu mendadak ruang tamu senyap.Vivin mengikik geli dalam hati. Apalagi ketika menatap wajah memelas dua sohibnya. Nah kan? Patah arang deh, loe! Makanya teliti dulu sebelum membeli eh, mengagumi.

“Bagaimana? Adik-adik semua bersedia membantu kami kan?” tanya Ibu kost memecah kesunyian beberapa saat itu. Salsa dan Novi saling berpandangan.

“Insya Allah kami bersedia, Bu,” jawab Vivin demi melihat dua sahabatnya hanya terlongong-longong dan tak kunjung menjawab. Salsa dan Novi mencubit lengannya bersamaan.

Setelah berbasa-basi dan ngobrol sedikit, jam sembilan kurang seperempat Ibu kost dan Fai berpamitan. Novi dan Salsa membanting tubuhnya di sofa. Mereka diam seribu bahasa.

“Patah hati nih ye?” ledek Vivin sambil tertawa. Dua temennya masih diam. Sepertinya sedang menetralisir kegundahan di hatinya masing-masing. Tak berapa lama Ayu datang dengan wajah yang tak jauh beda dengan kedua temannya. Namun kali ini Ayu tak langsung melesat ke kamar, dia menghampiri teman-temannya.

Sisters,help me please…” keluh Ayu tiba-tiba. Semua menatap Ayu tak mengerti. Hampir dua minggu terakhir Ayu tak pernah bicara pada mereka kecuali tersenyum dan meringis. Namun tiba-tiba kini mengeluh. What  happen?

“Kenapa Yu? Kelihatannya kamu lagi sedih?” Vivin buka suara. Dua temannya menunggu.

“Aku…aku…sakit hati. Patah hati alias broken heart…”

Nah lho? Kok sama? Salsa dan Novi berpandangan. Dalam hati berkata, ‘asyik ada temennya nih?’ Vivin mengeryitkan dahinya. Hm, lagi musim patah hati toh?

“Sama siapa, Yu?” Novi memberikan tissu pada Ayu yang berlinangan. Ayu terdiam dalam isak. Bahunya terguncang-guncang. Idih, kok Ayu jadi kekanakan begini? Juga…agak norak. Pakai nangis-nangis segala. Bukankah biasanya dia yang paling bijak di antara penghuni Melati 17? Lagian…Duh! Kok jadi pada kacau begini sih orang-orang ini? Pada kemana hijab di hati mereka? Vivin menggigit bibirnya.

“Sama siapa, Yu?” Salsa mengulang pertanyaan Novi.

“Fai, putranya ibu kost.”

Hah???! Semua menatap Ayu tak percaya. Tiga mata di hadapan Ayu membola. Yang bener aja… Fai? Lagi lagi Fai. Hebat sekali pesona ikhwan satu itu. Sampai Melati 17 geger dan hatinya terpatah-patah.

“Entah kenapa aku terpesona banget sama dia, sejak dia datang dari Bandung Nina adiknya mengenalkan padaku. Ya, begitulah, diam-diam aku sangat kagum padanya dan menaruh harap. Tapi setelah aku klarifikasi ternyata Fai sudah punya calon…hiks…hiks…”

“Tunggu! Jadi selama dua minggu terakhir ini kamu sibuk karena dia?” potong Vivin.

“Iya, Vin, tepatnya sama Nina. Maksudku sih…em, dengan deket sama Nina aku bisa lebih mengenal Fai…”

Astaghfirullah! Ada sesal yang tiba-tiba merambati dada Vivin. Apa yang sebenarnya telah terjadi pada kawan-kawannya? Bukankah selama ini mereka sangat menjaga hijab itu? Batas mana yang telah terlanggar? Mereka berempat sangat tahu bahwa perasaan itu tak boleh dipelihara untuk seseorang yang belum halal baginya. Selama ini mereka berusaha menutup seluruh celah untuk pesona yang satu itu. Namun akhirnya kebobolan juga. Ah, menghijabi hati memang bukan perkara gampang. Apalagi untuk urusan yang satu ini. Kalau pesona makhluk ciptaan Allah saja mampu memukau manusia sedemikian hebatnya, bagaimana dengan pesona penciptanya sendiri? Ah, harusnya pesona itulah yang terindah di mata makhluk. Bukan pesona makhluk ciptaan-Nya. Semua terdiam. Seolah sedang mengoreksi dirinya sendiri.

“Aku…aku…malu dengan Allah, diriku sendiri juga kalian,” kata Ayu setelah terdiam sekian waktu.

“Iya, aku juga malu…” tambah Novi.

“Aku juga, kayaknya aku mesti restart hatiku nih.” lanjut Salsa penggemar komputer itu kumat dengan bahasa komputernya.

Kini Ayu yang bengong. Kok temannya pada ikut-ikutan malu? Tak lama Vivin pun menjelaskan duduk perkaranya. Dan mereka berempat tertawa bersama.

“Kita butuh psikiater untuk menambal hati kita yang terkoyak-koyak ini,” Ayu tiba-tiba ambil suara. Kata-kata puitisnya mulai berhamburan. Tak ada airmata lagi di matanya.

“Nah, kalau yang ini kerjaan Novi. Tuh, Nov! Kamu kan bercita-cita jadi psikiater. Hati kamu yang patah itu bisa kamu jadiin praktek. He..he..he…” sahut Vivin sambil tertawa keras.

Novi meringis. Salsa dan Ayu tertawa. Mereka masih terus bercerita sampai jam dinding berdentang dua belas kali. Mereka baru ingat bahwa pesona terindah menantinya sepertiga malam nanti. Ya, pesona cinta Allahu Rabbuna. Mereka bergegas ke kamar masing-masing. Tak ingin kehilangan pesona itu sepertiga malam nanti.

-ooo-

Jkt,22’01’03

One thought on “Satu Pesona

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s