Seks Aman? No Free Sex!

Seks bebas udah dianggap bagian dari ritual kehidupan ABG kita. Nggak ada lagi istilah tabu dan dosa, kalo nafsu udah di ubun-ubun, hajar aja Bleh (begitu kata setan ngomporin). Minimnya pengetahuan tentang seks juga membuat mereka lebih nekat. Bahaya sobat!

Kayaknya banyak remaja sekarang paling pinter kalo diajak ngomongin soal seks. Paling semangat kalo udah ngobrolin tentang alat-alat reproduksi cowok dan cewek. Nggak sampe di situ, banyak pula yang udah nekat merayakan pesta seksnya, baik dengan sang pacar maupun dengan PSK (Pekerja Seks Komersial lho, bukan Penjual Soto Kudus! Hehehe…).

Tapi, nggak sedikit yang bengong begitu diajukan pertanyaan tentang penyakit menular seksual, apalagi soal bahayanya. Sebut saja Kusuma (bukan nama sebenarnya), anak cowok di sebuah SMU negeri di Bandung ini bengong abis pas ditanya, “Nggak takut kena PMS?”

“PMS apaan? (setelah dikasih tau): Oh, itu. Gimana yah? Takut juga sih kalo kena. Tapi saya yakin nggak bakal kena deh. Soalnya saya nggak sembarangan,” jawabnya enteng.

Kusuma kayaknya wajib takut dengan penyakit menular seksual. Maklum, ABG ini mengaku pernah ML alias making love lho. “Pernah. Kalo berapa kali sih lupa. Cuma sampe saat ini baru tiga orang cewek ajah. Itu pun 2 orang cewek status mereka bayur (red.; perek). Satu lagi ama pacar yang sekarang,” kata cowok yang mengaku udah tujuh kali gonta-ganti pacar dan minimal seminggu 2 kali ngeseks ama pacarnya ini. Waduh!

Tapi ada juga yang emang udah tahu bahayanya PMS, tapi tetep ugal-ugalan juga. Kenapa? Ibarat supir yang udah mahir, mereka katanya udah tahu rambu-rambunya. Duilee.. sampe segitunya. Biar nggak kena begituan, ada yang coba-coba menggunakan kondom, atau nggak sembarangan ML. Pendek kata jaga-jaga katanya.

“Ihhh… moga-moga nggak deh. InsyaAllah nggak bakal deh. Pasti kita tahu kok mana yang baik dan jelek. Tapi takut juga sih.” Ita ngungkapin kengeriannya.

Tapi, mahasiswi tingkat satu di sebuah perguruan tinggi di Bandung ini ngakuin juga kalo sempat ML segala dengan pacarnya. “Duh gimana yah? Sebenernya ini nggak boleh tapi sekarang udah terlambat. Kalo berapa kali ya, keitung deh. Nggak terlalu banyak. Lagian kita pake kondom kok kalo “begituan”.” ujarnya malu-malu.

Sobat muda, kasus Ita dan Kusuma adalah satu contoh betapa kehidupan seks di kalangan remaja udah cukup parah. Ita dan Kusuma sangat boleh jadi cuma dua ‘oknum’ pelaku seks bebas. Belum keitung ribuan lainnya di tempat lain. Parah kan?

“Bener. Sangat kacau sekali kehidupan seks remaja sekarang. Mereka banyak yang sudah berani melakukan hubungan seks di tempat umum. Parah banget deh!” Apriadi semangat.

Cowok dengan tongkrongan keren ini juga mengaku bingung melihat kondisi ini, “Aduh, risi banget Mas. Tapi juga bingung harus ngapain…” keluh ABG yang masih tercatat sebagai siswa SMU Taruna Andiga Bogor saat kena todong Sobat Muda di E-Plaza.

Nafsu kenceng, iman blong!

“Mhmmmm… ya kalo masalah dosa sih iya. Tapi mau gimana lagi coba? Orang dah di ubun-ubun. Ya, yang ada di hadapan diembat ajah. Toh kita komitmen kok bakal saling bertanggung jawab. Kalo dah nafsu mah suka lupa dosa. Hehehe…” terang Kusuma yang juga mengaku kalo doi tuh ketagihan ngelakuin ML setelah dapat info banyak dari media. “Banyak Mas. Dari majalah, koran, buku, TV sampe film bokep dong tentunya. Hehehe. Apalagi sekarang kan banyak dibahas tuh di TV. Tapi film bokep sih yang bawa pengaruh besar,”

Selain Kusuma, masih ada Puteri. Siswi bimbingan belajar buat alumni SMU ini ngasih pengakuan soal kebiasaannya ML. “Aku nggak munafik. Aku emang udah “gituan”. Namanya juga nafsu. Susah nahannya. Kepalang basah. Asal jangan telat nyabut aja. Hihihih .. Kita sebelum ngelakuin “itu” bilang dulu ama cowok aku. Kita biasanya diskusi dulu. Biar dia ngerti kalo kita tuh cewek yang pasti bakal nerima masalah paling gede kalo sesuatu yang nggak diharepin terjadi,” ujar cewek yang pernah 20 kali gonta-ganti pacar ini genit seperti tanpa rasa berdosa. Ampuuuun!

“Ya mana lagih lah. Sekarang kan jaman informasi. Apalagi banyak temen yang udah pada ngelakuin begituan. Pasti pengaruhnya gede banget. Meskipun gimana kitanya juga sih,” Puteri ngasih alasan.

Ah, ini namanya nafsu kenceng, keimanan blong. Ya, susah ngeremnya. Media begituan juga dilalap aja. Duh, kondisi ini terasa kian berat bagi kita. Sebab, setiap tarikan napas kita sudah bercampur debu kemaksiatan. Mau nonton televisi, tayangan yang banyak muncul justru yang "gersang" alias "seger" merangsang. Mau baca tabloid, majalah, koran, juga kita rasanya pengen muntah karena disuguhi menu yang "itu-itu" aja. Utamanya kini marak tabloid dan majalah "esek-esek". Nyaris nggak ada pilihan bagi kita. Wah, karena semuanya begitu, maka jangan salahkan pem­baca dan pemirsa 100 persen, bila kemudian mereka berperilaku bejat. Para pengelola acara televisi dan pengelola bisnis majalah, koran, dan juga tabloid kudu bertanggung jawab juga (eh, negara juga dong).

Perlukah pendidikan seks?

"Setuju aja sih, tapi jangan berlebihan. Berikan kepada anak sekolah itu yang wajar-wajar aja. Berhubungan intim sebelum nikah kan nggak pantas,” ujar Astri dan Icha kompak. Dua siswi sebuah sekolah swasta di Bogor ini pun meminta pemerintah untuk merazia VCD porno yang dianggapnya sebagai biang maraknya seks bebas remaja.

Singkatnya begini deh, Islam telah menga­jarkan prinsip-prinsip dasar tentang pendidikan seks, khususnya melalui institusi keluarga. Meski tidak secara langsung dan vulgar tentu­nya. Misalnya, anak laki dan anak perempuan kalo tidur udah mulai dipisahkan tempatnya.

Sejak kecil pula dibiasakan untuk mengenali batasan auratnya. Misalnya, bila "bidadari" kecil ini akan diajak keluar rumah, pastikan disediakan busana muslimah untuknya. Itu akan membekas banget. Kalo ibunya udah nyiapin baju itu, maka pasti ia akan diajak keluar rumah. Hal itu dilakukan terus menerus.

Nah, gedean dikit, yakni ketika udah bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar, ortu harus memasukkan konsep-konsep tentang aurat. Supaya lebih mantap. Setelah usianya bertambah, kenalkan juga hubungan antara laki-laki dan wanita. Misalnya, biasakan mereka hidup terpisah satu sama lain. Tidak campur-baur dan bebas ber­gaul dengan lawan jenis tersebut.

Kedekatan ibu dengan anak perempuan­nya juga akan menolong anak-anak mengerti tentang dirinya. Sebab, ketika anak mulai beranjak remaja, maka ibu kudu bener-bener telaten memperhatikan perkembangannya. Dalam acara "curhat" antar mereka bisa saja sang ibu memberikan pengalamannya sebagai wanita. Bahwa wanita itu bisa mengalami haid, hamil, melahirkan, bahkan menyusui anak. Pola hubungan sebab-akibat yang terjadi di antara fase-fase itu juga bisa disampaikan, meski tetap dengan bahasa yang sopan.

Anak laki juga demikian. Ayahnya berperan juga. Selain bacaan tentang masalah "khusus" tersebut, juga disampaikan pandangan Islam terhadapnya. Insya Allah, hal ini akan bisa menolong remaja dari kebingungan tentang seks. Sebab, kalo dilihat kasusnya yang terjadi sekarang, mereka miskin bimbingan yang benar dan baik. Begitu... [solihin, liputan: Gilang, Andi]

Box///

Tips Aman Bergaul:

  1. Jangan mudah tergoda. Rayuan seringkali bikin kita meleleh. Nggak usah ngikutin kebiasaan teman yang jelek.
  2. Pikirkan akibatnya. Ini penting. Kamu kudu bisa mengenal bahayanya gaul bebas. Rugi dunia, bisa juga di akhirat. Lagian kalo "begituan" kan dosa.
  3. Jaga jarak dengan lawan jenis sebelum segalanya kebablasan menjadi hubungan badan.
  4. Nggak usah terlalu risau dengan perasaan orang lain. Kalo kamu nggak nyaman dengan perbuatan teman kamu, katakan "Nggak!" atau "Hentikan!" dengan jelas dan tegas.
  5. Lebih banyak bergaul dengan mereka yang ngerti ajaran agama. Jangan sering gaul dengan yang miskin ilmu agamanya. Entar kebawa amburadul tanpa sadar lho. [solihin]

One thought on “Seks Aman? No Free Sex!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s