Mengubah “Cap Negatif”

Assalaamu’alaikum. wr. wb.

Mbak Lathifah yang dirahmati Allah. Salam kenal. Aku Nilam Mbak. Punya masalah dikit nih Mbak. Nilam punya kakak, laki-laki. Tapi setelah ia berbuat salah dan melakukan perbuatan yang memalukan keluarga, keluarga seringnya enggak percaya sama kakak. Bahkan keluarga yang lain juga ikut-ikutan menilai negatif sama kakak. Kakak Nilam jadi minder dan curhatnya cuma bisa sama Nilam. Tapi Nilam juga enggak bisa ngasih solusi. Bagaimana supaya kakak Nilam bisa lebih baik dan keluarga bisa menilai positif. Karena sekarang selalu dianggap negatif dan dicurigai sama keluarga. Makasih sebelumnya.

Nilam

Gegerkalong, Bandung

Wa’alaikumussalaam. wr. wb

Adik Nilam di Bandung,

Semoga dirahmati Allah Swt. dan salam kenal juga. Bersyukur deh punya adik seperti Nilam yang pengertian dan perhatian banget sama kakaknya. Memang sulit kalau seseorang sudah kadung khilaf dan melakukan kesalahan. Ibarat karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Karena melakukan sebuah kesalahan yang mempermalukan keluarga, akhirnya sang kakak jadi seperti personal yang tercoreng dahinya. Kalau barang elektronik, barangkali sudah masuk kriteria apkir.

Berbeda halnya dengan standar Islam saat menilai kualitas kepribadian seseorang. Yang namanya manusia biasa seperti kita ini, tidak ada yang sempurna. Adakalanya kita lupa, khilaf, atau lemah terhadap godaan syaithan. Islam telah memberikan tuntunan bagaimana seorang muslim memperbaiki dirinya, meningkatkan kualitas dan derajatnya di hadapan Allah. Yakni dengan senantiasa berupaya dan bersegera meninggalkan kelalaiannya dan memohon ampunan Allah. Allah Swt. berfirman: “Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat  akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”(QS. Ali Imran [3]: 135-136)

Adik Nilam,

Sampaikan kepada kakak, bahwa selama kita masih diberi kesempatan hidup, maka kita masih bisa memperbaiki diri. Namun sebelumnya harus ada niat yang kuat, yakni dalam rangka meraih ampunan dan keridloan Allah Swt.

Upaya perbaikan ini dilakukan melalui pembinaan akal (cara berpikir) dengan mempelajari tsaqofah Islam dan menempa sikap jiwa kita dengan mengerjakan amal ibadah yang mendekatkan diri kita kepada Allah. Semua ini untuk meningkatkan ketaatan kita kepada Allah. Kita pun akan mampu menghindari perbuatan-perbuatan yang dimurkaiNya.

Adik bisa membantu kakak dengan:

(1)   memberikan informasi-informasi keislaman dengan terus berdiskusi (upayakan curhat sang kakak semakin intensif), memberi bacaan-bacaan Islami, atau mengajak untuk mengikuti kajian-kajian keislaman.

(2)   Mengenalkan kakak dengan seorang Ustadz yang bisa membimbingnya untuk meningkatkan kualitas kepribadiannya. Agar pola pikir dan pola sikapnya bisa terarah sesuai dengan nilai-nilai Islam.

(3)   Menjauhkan kakak dari lingkungan yang berpengaruh buruk, bila kesalahan yang dilakukan oleh kakak di masa lalu dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya.

(4)   Memotivasi kakak agar apa yang dilakukannya hanyalah untuk meraih keridloan Allah, bukan untuk mengharapkan pujian atau ridlo makhlukNya. Sehingga kakak tidak perlu minder di hadapan manusia. Kakak juga tidak perlu khawatir terhadap celaan siapapun, baik terhadap masa lalunya atau apa yang dilakukannya sekarang, selama ia selalu berusaha untuk memperbaiki diri, melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi setiap laranganNya. Tak ada artinya pujian manusia, jika Allah justru memurkainya. Demikian pula, tidak ada artinya celaan manusia, selama apa yang yang dilakukannya ada dalam keridloan Allah Swt.

Adik Nilam,

Mengenai penilaian yang selalu cenderung negatif terhadap kakak dari pihak orang tua dan keluarga yang lain, memang terasa berat bagi kakak. Namun tampaknya kita juga tidak bisa memaksa orang tua untuk secara cepat mengubah penilaiannya. Barangkali masih ada rasa sakit hati dan kecewa di pihak orang tua atas perilaku kakak di masa lalu. Untuk itu, memang perlu ada bukti dari kakak bahwa ia mau dan mampu berusaha memperbaiki diri.

Adik Nilam perlu memberi pengertian kepada kakak agar memahami, mengapa orang tua bersikap seperti itu. Termasuk juga mendorong kakak untuk tetap bersikap baik kepada orang tua.  Sebaliknya juga perlu disampaikan kepada orang tua, bagaimana perasaan kakak dan keinginannya untuk memperbaiki diri. Semoga dengan cara ini akan terbina kembali hubungan baik yang menumbuhkan suasana kondusif sehingga kakak bisa memperbaiki diri secara lebih optimal. Dukungan dan doa dari orang-orang dekat sangat membantu mereka-mereka yang ingin memperbaiki diri.

Untuk adik Nilam sendiri, tetaplah istiqomah membantu keluarga dalam kebaikan. Menghilangkan kesulitan saudara kita adalah amal yang dicintai Allah. Rasulullah saw. pernah berpesan: “Barangsiapa menghilangkan suatu kesulitan dunia dari seorang muslim, Allah akan menghilangkan darinya suatu kesulitan akhirat, dan barangsiapa menutupi (aib) saudaranya yang muslim di dunia, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seseorang selama ia menolong orang lain.” (HR Bukhari-Muslim)

Oke Nilam, selamat berusaha. Semoga Allah Swt. membalas Nilam dengan kebaikan yang banyak.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s